![]() |
| Penjual Jeruk Manis Kisar |
Salah satu warga Kisar Christian Dahoklory memprediksi jika kondisi ini terus dibiarkan Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten MBD, bukan tak mungkin dalam kurun waktu 5 tahun hingga 10 tahun ke depan nyaris takkan lagi ditemukan tanaman jeruk manis Kisar.
“Saya perkirakan dalam jangka waktu 5 atau 10 tahun ke depan seluruh tanaman jeruk manis Kisar akan mati kekeringan akibat penggunaan rundup di sejumlah desa seperti Nomaha, Purpura, Lebelau, Sumpali, Yawuru dan tempat lain,” ungkap Dahoklory kepada Maluku Post di Dusun Yawuru, Desa Wonreli, Kecamatan Pulau-pulau Terselatan, Kamis (30/7).
Dahoklory mengisahkan pada dekade 1980an hingga 1990an, tanaman jeruk manis Kisar mengalami over produksi sehingga banyak Anak Buah Kapal (ABK) perintis rute wilayah itu yang angkat tangan karena tak mampu melayani keinginan masyarakat memasarkan hasil panen jeruk manis Kisar ke Kupang, Saumlaki, Tual dan Ambon.
“Kalau tahun 1990-an itu waktu musim jeruk manis, karung-karung jeruk manis Kisar berjejer dari area utama pelabuhan hingga pintu masuk (sekitar 1 kilometer), tetapi sekarang kondisi itu sudah tidak ada karena banyak pohon jeruk manis Kisar yang sudah kering,” tutur Dahoklory prihatin.
Dahoklory mencurigai ada skenario terselubung pihak-pihak tertentu untuk memiskinkan penduduk Kisar di balik penggunaan rundup.
“Kita di sini juga bingung kok tiba-tiba rundup digunakan bebas di sini, padahal kalau di Papua misalnya rundup hanya digunakan untuk membasmi pohon-pohon bukan tanaman konsumtif di hutan belantara. Inilah dasar pemalas. Padahal, cara bercocok tanam secara turun temurun oleh leluhur Kisar ternyata jauh lebih ramah lingkungan, tidak membawa efek negatif hingga kematian bagi tanaman maupun hewan piaraan orang Kisar seperti ayam, kambing, domba, dan lainnya. Kalau Pemerintah Kabupaten MBD diam lagi, bisa saja penduduk Kisar akan mati,” ingat Dahoklory. (rony samloy)


