Sementara deflasi sebesar 0.30 persen (mtm) atau 8.85 persen (yoy), menurun dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 1.11 persen (mtm) atau 9.36 persen (yoy).
“Realisasi inflasi Maluku yang baik ini disumbangkan oleh Kota Ambon maupun Kota Tual yang menjadi sampel penghitungan inflasi IHK secara nasional,” kata Wuryanto, di Ambon, Selasa (7/7).
Menurut dia, melimpahnya pasokan ikan segar di wilayah Maluku sebagai dampak positif dari moratorium yang dikeluarkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan serta pelarangan penggunaan alat tangkap berupa pukat hela atau pukat tarik yang telah diberlakukan sejak November 2014.
“Ketika diberlakukan moratorium sejak November 2014, membuat ketersedian ikan di laut melimpah, sehingga memberikan keuntungan bagi para nelayan yang menggunakan alat tangkap tradisional,” ujarnya.
Sementara itu, kata Wuryanto, tarif angkutan udara mengalami penurunan akibat berkurangnya permintaan, sehingga ikut mendorong meredanya tekanan inflasi di Maluku.
Namun, deflasi yang terjadi akibat menurunya harga pada komoditas ikan segar, tertahan oleh peningkatan harga pada biaya tempat tinggal dan biaya sandang akibat tingginya harga bahan bangunan dan konsumsi masyarakat menjelang Lebaran.
“Kendati inflasi pada awal periode Ramadhan relatif terkendali, namun risiko ke depan tetap perlu diwaspdai,” pintanya.
Ia mengatakan, dari sisi eksternal, risiko teknan inflasi datang dari pelemahan nilai tukar yang berdampak pada imported inflation serta harga minyak dunia yang akan mempengaruhi penetapan harga BBM dan tarif adjusment Tarif Tenaga Listrik (TTL) non subsidi.
“Dari sisi domestik, tekanan inflasi yang perlu diwaspadai adalah cuaca yang tidak menentu di wilayah Maluku sehingga berdampak pada aktivitas nelayan maupun petani,” kata Wuryanto.
Karena itu, dalam rangka menjaga laju inflasi ke arah yang lebih rendah dan stabil, Bank Indonesia Provinsi Maluku akan terus memperkuat sinergi kebijakan. Berbagai langkah strategis untuk menjaga kestabilan harga telah dilakukan, seperti meningkatkan pemantauan harga dan stok komoditas strategis.
Selanjutnya, melakukan kunjungan langsung (sidak) ke pasar dan distributor, memastikan ketersediaan barang kebutuhan pokok di pasar, meningkatkan dan mengefektifkan peran Asosiasi Petani dan pedagang sayur (APPS) dan penyelenggaraan pasar murah oleh Disperindag Maluku serta meningkatkan efektifitas komunikasi di media massa.
“Dalam jangka menengah-panjang upaya mewujudkan swasembadah pangan di Maluku untuk menurunkan ketergantungan terhadap pasokan barang kebutuhan pokok dari luar daerah akan terus didorong,” ujarnya.
Karena itu, pihaknya optimistis laju inflasi hingga akhir tahun ini akan semakin terkendali, dengan prakiraan inflasi dapat lebih rendah dari realisasi tahun sebelumnya, yakni Kota Ambon, sebesar 6.81 persen dan Kota Tual sebesar 11.48 persen yang didukung oleh prakiraan stabilitas harga BBM dan tarif listrik serta normalisasi pasokan ikan segar pasca kebijakan moratorium perizinan usaha perikanan tangkap. (ant/MP)


