Ketum Porlasi Maluku Perlu Belajar dari PODSI Maluku

Ambon, Maluku Post.com – Pernyataan Ketua Umum Pengurus Provinsi Persatuan Olahraga Layar Seluruh Indonesia (Pengprov Porlasi) Maluku Arie Sahetapy, yang dilansir media ini sebelumnya, bahwa tidak mudah membina cabang layar di Maluku karena terkendala anggaran pembinaan ditanggapi sinis Ketum Forum Penyelamat Olahraga Maluku (FPOM) Joses Dos Santos Walalayo.

Menurut Santos, pernyataan itu sekaligus membuktikan jika Sahetapy tidak mampu memimpin Pengprov Porlasi Maluku.

“Sebaiknya kalau (Arie Sahetapy) sudah capek memimpin Porlasi Maluku, ya mundur diri dan serahkan tugas dan kewenangan kepada orang lain yang lebih loyal dan mau bekerja keras untuk memajukan layar. Kan lucu sudah capek, tetapi belum bersedia mundur dari jabatan Ketum Porlasi Maluku. Sebenarnya ada alasan apa, “ kecam Santos kepada Maluku Post di Ambon, Selasa (14/7).

Santos menyatakan pantas saja Sahetapy mengakui dirinya capek karena struktur kepengurusan Porlasi Maluku periode 2006/2010 dan 2010/2014 yang kelihatannya banyak, tetapi seluruh tugas dan tanggung jawab hanya dijalankan sendiri dirinya selaku Ketum Porlasi Maluku.

“Bagaimana tidak capek. Porlasi Maluku kan banyak pengurusnya, tetapi kenyataannya hanya ketum dan kroni-kroninya saja yang melaksanakan semua tugas dan peran seperti tukang sate. Kami pemerhati olahraga tidak berkomentar seenak perut, tetapi itu memang fakta yang terjadi,” beber Santos.

Menurut Santos, tak hanya cabor layar yang pembinaannya tidak membutuhkan kerja keras atau pembinaan layar tak semudah membalikkan telapak tangan. Sebab, seluruh cabor dihinggapi persoalan nyaris serupa menyangkut minimnya anggaran pembinaan. Contohnya dayung.

“Pada awalnya dayung Maluku masih terpuruk di kancah nasional. Namun, karena kekompakkan, keuletan, dan kegigihan pengurus PODSI Maluku yang dikomandani pak Anthon Sihaloho dan bung Anos Yermias, dayung Maluku muncul sebagai kekuatan nasional dalam 5 tahun terakhir. Dan yang baru kita lihat bagaimana atlet-atlet dayung Maluku mampu mengharumkan nama Maluku di kancah nasional dan mengharumkan nama Indonesia di SEA Games 2015 Singapura. Masalahnya sederhana saja keberhasilan dayung disebabkan pengurus PODSI Maluku itu juga bekeja keras dan jujur. Padahal pengurus PODSI Maluku juga terkendala ketersediaan perahu lomba yang sudah rusak dan termakan usia di tempat penyimpanan di Lateri. Karena keberhasilan itu pula yang menyebabkan PB PODSI akan mengibahkan 30 unit perahu kepada Maluku dan Pemerintah juga akan membangun mess atlet dan pelatih dayung di Nania. Ini tidak sebanding dengan layar yang diperkuat perahu mahal tetapi tak ada pembinaan rutin dan berkesinambungan,” banding Santos.

Keberhasilan dayung, lanjut Santos, disebabkan pengurus PODSI Maluku berani mengambil risiko dan mengeluarkan biaya pribadi untuk mencari atlet-atlet potensial di seluruh kabupaten di Maluku.

“Bagaimana layar mau berprestasi kalau fokusnya hanya di kota dan hanya mengharapkan prajurit TNI-AL. Jadi saya sarankan Ketum Porlasi Maluku untuk belajar dari manajemen PODSI Maluku,” saran Santos. (09)

Pos terkait