“Jurusan tertua di Indonesia ini merupakan ujung tombak strategi Soekarno, hanya ketika kerusuhan tahun 1999 terjadi penurunan kualitas. Gedung dan laboratorium dibakar, mahasiswa jadi takut untuk kuliah sehingga penurunan kualitas terjadi,” kata Kepala Program Studi Teknik Perkapalan Unpatti, Eli de Fretes, di Ambon, Kamis (9/7).
Menurut dia, saat ini perbaikan perlu dilakukan di bidang sarana dan prasarana serta kualitas tenaga pengajar untuk menarik minat calon mahasiswa.
Eli mengungkapkan, jumlah mahasiswa aktif di jurusan itu sekarang sebanyak 168 orang sedangkan dosen hanya 35 orang.
“Perbandingan dosen dan mahasiswa 1:4,8 sedangkan idealnya harus 1:8,” katanya.
Berbicara musim penerimaan tahun ini, ia menyatakan dirinya optimistis jumlah mahasiswa akan mencapai lebih dari 200 orang, sehingga perbandingan dosen dan mahasiswa meningkat meski belum mencapai target.
Untuk masuk prodi teknik perkapalan, Eli menuturkan, tidak harus memiliki kemampuan khusus. Namun fisika dan matematika perlu dimengerti sehingga dasar untuk mata kuliah lainnya kuat.
“Dalam dua tahun ke depan, saya menargetkan perbaikan kualitas mahasiswa, dan dalam lima tahun terealisasi perbaikan isi labarotorium agar memudahkan mahasiswa belajar,” katanya.
Selain teknik perkapalan, Fakultas Teknik Unpatti juga memiliki prodi teknik mesin, teknik sistem perkapalan, teknik industri, teknik sipil, dan teknik perencanaan wilayah kota.
Sedangkan di tahun ajaran baru, fakultas teknik ini membuka dua minat baru yaitu teknik informatika dan teknik elektro. (ant/MP)


