![]() |
| Chintya Tengens |
Bersama tim Trans7 yang beranggotakan sembilan orang, gadis cantik lulusan SMA Negeri 1 Ambon tahun 2010 itu akan bergabung bersama tim Marinir berikut kru MNC TV, TVone, Trans TV dan stasion televisi swasta Nasional lainnya untuk menaklukkan puncak gunung tertinggi di Indonesia itu.
Menariknya ikut tergabung bersama rombongan berjumlah 60 itu, pemanjat tebing Indonesia, Erly Endiana, yang sudah menaklukkan lebih kurang 28 puncak gunung tertinggi di dunia.
Sesuai skenario Nona Ambon, rekan seangkatan Igo Pentury, jawara Indonesia Idol 2011, itu akan menancapkan bendera Merah Putih di puncak Gunung Carstenz Pyramid sekaligus menggelar upacara perayaan Detik-detik Proklamasi, 17 Agustus 2015 di ujung Nusantara.
Sebelum sampai di lokasi pendakian, rombongan dari Jakarta akan terbang ke Tembagapura, Papua. Chintya merupakan putri bungsu pasangan Heygel Tengens dan Hilda Kastanya. Ayah Chintya merupakan praktisi olahraga Maluku yang suka keliling Eropa dan sejumlah Negara di Asia.
Karena keberaniannya bersentuhan langsung dengan hewan-hewan buas dan berbisa, seperti ular, harimau, biawak dan hewan melata lainnya, Chintya banyak tertantang meliput di sejumlah hutan belantara di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Papua.
Dalam sekuel program Trans7, Chintya hanya sekali menghampiri masyarakat di tanah kelahirannya, Maluku, untuk mengikuti panen ikan lompa (sejenis ikan sarden) di Desa Haruku-Sameth, Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, akhir 2014 silam.
Selebihnya dia sesekali tampil di televisi membawakan program promosi kawasan permukiman elite modern dan menjadi presenter untuk dunia kuliner. Mendaki gunung dan panjat tebing merupakan tantangan lain di balik profesinya saat ini.
Alhasil, militansi Nona Ambon ini sudah teruji di pelbagai medan berat dan penuh mistik di hutan belantara maupun kawasan keramat.
Saat tampil di program “Empat Mata Trans7” yang dipandu Tukul Arwana, Rabu (5/8), Chintya menuturkan pengalamannya ketika memanjat puncak Gunung Tambora persis saat peringatan dua abad meletusnya Gunung api setinggi 2.865 m.dpl itu.
“Banyak kejadian mistis yang saya temui ketika menaiki Gunung Tambora. Waktu berjalan di daerah yang banyak air, tiba-tiba ketika ingin mencari air untuk memasak nasi dan minum teh tak ada air. Waktu pulang saya melihat seorang pria yang duduk di bawah pohon. Pria itu melemparkan senyuman kepada saya dan saya pun membalasnya. Ketika saya tanyakan ke kru yang lain, mereka bilang tak ada siapa-siapa di depan, hanya saya yang di depan rombongan. Saya sempat merinding melihat kejadian ini,” kisah Chintya kepada Tukul.
Chintya mengutarakan jika selama 11 hari di puncak Gunung Tambora dia bersama kru Trans7 lainnya terjebak dan seluruh logistik makanan maupun yang terkait dengan kebutuhan isi perut yang diangkut dari Jakarta tak dapat dikonsumsi karena tak ada air.
“Ternyata perhitungan kita keliru soal kondisi di puncak Gunung Tambora. Kita terjebak selama berada di puncak gunung Tambora. Karena tak ada air, seluruh logistik makanan tak bisa dimasak, akhirnya kita biarkan begitu saja. Kita hanya bertahan hidup dengan cemilan-cemilan yang dibawa dari Jakarta. Kita bertahan hidup di Tambora karena semangat, keberanian dan doa kepada Tuhan yang tak henti-hentinya,” tutur Chintya.
Chintya bertekad menaklukkan puncak Gunung Carstenz Pyramid sebagai kado di Hari Ulang Tahun (HUT) ke-70 Republik Indonesia dan oleh-oleh bagi orang tua dan masyarakat Maluku di manapun.
“Sudah menjadi tekad saya untuk menaklukkan puncak gunung tertinggi di Indonesia, apalagi suasananya lain ketika kita tancapkan Merah Putih di puncak gunung tertinggi tersebut,” tandas Chintya. (rony samloy)


