Namun, di mata sebagian masyarakat pemerhati olahraga lokal, Porkot Ambon II dianggap tidak berkualitas dari sisi prestasi dan hanya upaya mencari pencitraan menjelang pemilihan wali kota Ambon pada akhir 2016.
“Mungkin kalau dibilang sukses partisipasi dan sukses penyelenggaraan sah-sah saja, tetapi dari sisi prestasi, saya anggap Porkot Ambon II gagal dan tak punya kualitas apa-apa,” papar pemerhati olahraga Maluku Herman Siamiloy kepada Maluku Post, Rabu (12/8).
Menurut Siamiloy, Porkot Ambon II terkesan dipaksakan sehingga banyak kecurangan dan kekurangan yang semestinya tak perlu terjadi, namun dibiarkan terjadi karena ada kesengajaan panitia pelaksana (panpel).
“Kan lucu kalau ada informasi guru yang bertugas di Maluku Tengah berlaga juga di Porkot Ambon, dan wasit-wasit yang kurang profesional diizinkan memimpin pertandingan dan perlombaan. Ingat loh ini kan ibu kota provinsi sehingga kalau di kota Ambon saja pelaksanaan event olahraganya sudah amburadul, bagaimana dengan situasi di kabupaten-kabupaten lain di Maluku,” ujarnya prihatin.
Siamiloy khawatir Porkot Ambon II hanya upaya mencari pencitraan karena sasaran dari pelaksanaan Porkot Ambon II tidak jelas.
“Agar Porkot II tak dituding sebagai bagian dari upaya pencitraan, hal ini harus diklarifikasi pengurus KONI Kota Ambon,” anjur Siamiloy. (09)


