Ambon, Maluku Post.com – Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku, Wuryanto, perekonomian Maluku mampu tumbuh lebih cepat di tengah perlambatan ekonomi nasional pada triwulan II tahun anggaran 2015.
“Pertumbuhan ekonomi Maluku pada triwulan II-2015 mencapai 5.80 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang hanya 4.06 persen (yoy), maupun pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 4.67 persen (yoy),” kata Wuryanto, di Ambon, Senin (7/9).
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Maluku meningkat sejalan dengan berbagai indikator yang dipantau dalam beberapa waktu terakhir serta mendekati prakiraan (baseline) optimis sebesar 5.72 persen (yoy).
Beberapa faktor yang mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi Maluku pada triwulan II-2015 antara lain, masuknya masa panen padi di beberapa sentra produksi, maraknya penyelenggaraan kegiatan berskala besar, seperti perayaan Sidi bagi umat Kristen, Rakernas Apeksi dan Indonesia City Expo, serta perayaan hari besar keagamaan, seperti Hari Raya Paskah, bulan Suci Ramadhan dan Hari Raya Lebaran serta liburan sekolah.
Wuryanto mengatakan, dari sisi permintaan, meningkatnya laju perekonomian Maluku didukung oleh masih kuatnya konsumsi rumah tangga maupun lembaga nonprofit, meningkatnya realisasi investasi serta menurunnya defisit neraca perdagangan antardaerah.
“Meski masih tumbuh kuat, konsumsi rumah tangga mengalami sedikit perlambatan dipengaruhi oleh daya beli masyarakat yang cenderung melemah,” katanya.
Sedangkan dari sisi penawaran, lanjutnya, meningkatnya pertumbuhan ekonomi Maluku ditopang oleh meningkatnya kinerja kategori informasi dan komunikasi, kategori administrasi pemerintahan serta kategori perdagangan besar dan eceran.
Wuryanto mengatakan, inflasi Maluku pada triwulan II-2015 tercatat sedikit menurun dibandingkan triwulan sebelumnya. Laju inflasi Maluku pada akhir triwulan II-2015 sebesar 8.85 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan akhir triwulan I-2015 yang sebesar 9.07 pesen (yoy), terutama bersumber dari meredanya tekanan harga komoditas ikan segar pada periode akhir triwulan.
“Laju inflasi Maluku tersebut masih merupakan yang tertinggi secara nasional sehingga perlu mendapat perhatian dan upaya pengendalian yang lebih intensif,” ujarnya. (ant/MP)


