Agama Berperan Besar Bangun Peradaban Manusia

Ambon, Maluku Post.com – Gubernur Maluku, Said Assagaff mengatakan agama berperan besar dalam pembangunan peradaban umat manusia. Tidak ada organisasi dan ideologi yang berpengaruh serta bertahan lama dan mempunyai pengikut yang besar seperti agama.

“Agama membawa nilai-nilai kebaikan yang bersifat universal. Agama tetap menjadi kebutuhan asasi manusia sepanjang zaman,” kata Gubernur Said, pada Diskusi Publik dengan tema” Agama Di Tengah Realitas Sosial Yang Terus Berubah”, di Ambon, Sabtu (17/10), dalam rangka Jubelium 100 Uskup Anderas Sol MSC, pada 19 Oktober 2015.

Menurut Gubernur , fenomena kehidupan sehari-hari sering berhadapan dengan beberapa pola keagamaan yang bersifat kontra produktif antara lain, cendrung bersifat elitis eskatologis, sehingga agama yang diyakni tidak membumi dalam menjawab tantangan dan kebutuhan kehidupan yang terus berubah.

Selanjutnya, pola keagamaan yang bersifat simbolik formalistik, di mana ukuran beragama hanya terjebak atau berhenti pada simbol-simbol serta ibadah-ibadah ritual saja, dan cendrung mengabaikan kasalehan sosial.

Kemudian pola keagamaan yang bersifat konfliktual, di mana corak beragama seperti ini cendrung menolak perbedaan, menokohkan diri sendiri sebagai orang yang paling benar dan selalu menyalahkan orang yang berbeda keyakinan.

“Baik secara internal maupun eksternal agama, bahkan dalam titik puncak mereka merasa berhak untuk membunuh orang lain atas nama agama dan Tuhan,” katanya.

Gubernur Said mengatakan, keterjebakan beragama dalam pola-pola seperti yang sampaikan itu, sesungguhnya telah mendistorsikan peran propetik agama-agama. Padahal agama yang diturunkan adalah untuk kemanusiaan dan kehidupan semesta di muka bumi.

“Sejarah agama-agama yang dilahirkan selalu lahir dalam konteks dehumanisasi dan kehancuran peradaban,” ujarnya.

Karena itu, lanjut dia, agama memiliki semangat atau spirit dan perhatian sangat tinggi terhadap segala penderitaan yang mendera umat manusia dan segala kerusakan di muka bumi.

“Agama dalam semangat etik provektisnya, senantiasa pro kehidupan dan sangat memberi perhatian serta penghargaan terhadap alam. Tidak ada agama yang datang sebagai ekspresif terhadap kesenangan dan kenikmatan sesaat tetapi agama hadir untuk bisa membela nilai-nilai kemanusiaan yang tertindas oleh berbagai kekerasan,” ungkapnya.

Untuk itu, agama terutama agama-agama besar hadir, merupakan gerakan kritik paling tegas terhadap berbagai tindakan dan keniscahayaan manusia.

Sejarah agama-agama, kata Gubernur Said, menunjukan bahwa kehadiran semua tokoh suci atau nabi di muka bumi merupakan tonggak dari emansipasi harkat kemanusiaan universal, yaitu melawan berbagai bentuk kegetiran hidup yang diakibatkan oleh diskriminasi.

“Semua agama yang ada di muka bumi ini mengajarkan kebaikan dan kedamaian hidup manusia,” katanya.

Namun, apabila tujuan luhur semua agama menghendaki kedamaian, pro kehidupan dan komitmen terhadap anti kekerasan, lalu pertanyaan, mengapa kekerasan pada rana agama kerap terjadi dengan korban yang tidak terhitung jumlahnya? “Kekerasan yang mengatasnamakan agama selama berabad-abad merupakan salah satu kejahatan terburuk yang telah menguji peradaban manusia. Sesuatu yang paradoks, karena agama yang secara normatif mengajarkan nilai-nilai luhur tetapi agama secara historistas juga bertanggungjawab terhadap terjadinya kerusakan di muka bumi,” ujarnya.

Agama yang asasinya mengajarkan kesejukan, kedamaian, kasih sayang, dan nilai-nilai ideal lainnya, tetapi justru dalam fakta sosio historis seringkali menampilkan wajah yang keras, garang dan menakutkan.

Bahkan dewasa ini agama kerap dihubungkan dengan radikalisme, ekstrisme, dan terorisme, agama dikaitkan dengan bom bunuh diri, pembantaian, penghancuran rumah-rumah ibadah, fasilitas-fasilitas publik dan lainnya, yang menunjukan penampilan wajah-wajah agama yang beringas.

“Hampir semua agama memiliki sejarah dan potensi yang menakutkan seperti ini. Realisme historis menunjukan kepada kita bahwa kekerasan yang berdarah-darah atas nama agama, tidak dapat dimunafikan,” kata Gubernur Said.

Dalam sejarah peradaban umat manusia selama berabad-abad. Perbedaan identitas agama, seringkali menimbulkan konflik paling keras dalam jangka waktu lama dan meluas memakan banyak korban.

Seperti, perang salib yang berlangsung selama kurang lebih tiga abad antara Islam dan Kristen, yang menimbulkan stigma kolektif secara turun temurun. Konflik antara Katolik dan Protestan di Irlandia.

Konflik antara Hindu dan Islam di India juga di Pakistan, konflik antara Kristen dan Islam di Nigeria, hingga yang pernah terjadi di Indonesia khususnya di Maluku, poso, situbondo, sampait dan lain-lain.

“Citra negatif dan manipulatif agama sering dijadikan sebagai alat kekerasan. Manipulasi agama telah membuat sebagai tirani dimana atas nama Tuhan orang rela melakukan kekerasan, orang rela menindas, melakukan ketidakdilan, bahkan membunuh sesama, ini tindakan yang menodai kesucian agama,” ujarnya.

Sementara disisi lain, degradasi moral banyaknya praktek-praktek asusila, marak penjualan-penjualan narkoba, korupsi, kerusakan lingkungan hidup, serta sejumlah permasalahan-permasalahan sosial menjadi tantangan berat untuk agama-agama.

Pos terkait