Ambon, Maluku Post.com – Kodam XVI/Pattimura memusnahkan ratusan senjata standar dan rakitan hasil temuan dan penyerahan oleh masyarakat di Provinsi Maluku.
“Kesadaran masyarakat untuk menyerahkan senjata semakin baik, ini sebuah kepercayaan yang tinggi pada situasi keamanan yang semakin kondusif,” kata Pangdam XVI/Pattimura Mayjen TNI Doni Monardo di sela-sela pemusnahan senjata usai upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-70 TNI di Markas TNI Angkatan Laut Lantamal IX Ambon, Senin (5/10) lalu.
Senjata yang dimusnahkan secara keseluruhan berjumlah sebanyak 362 pucuk, terdiri atas laras panjang sebanyak 260 pucuk dan laras pendek 102 pucuk. Dari ratuan senjata tersebut, terdapat senjata FN45 buatan Amerika, Eropa dan Pindad.
Menurut Pangdam Doni, masyarakat yang menyimpan senjata secara diam-diam menyerahkan kepada Babinsa, kemudian Babinsa memberikan informasi kepada Babinkantibmas.
“Banyak masyarakat yang menyerahkan senjata tetapi indentitasnya tidak mau dipublikasikan,” katanya.
Ia menjelaskan, ratusan senjata tersebut sebagian adalah milik TNI dan Polri yang sempat hilang saat konflik sosial pada 1999 dan 2000.
“Ratusan senjata tersebut dimusnahkan, kecuali senjata standar keluaran pabrik dan akan kita laporkan ke Mabes TNI untuk minta persetujuan, apakah dimusnahkan atau dikembalikan untuk digunakan lagi oleh aparat TNI,” ujarnya.
Karena itu, Pangdam Doni berharap bahwa dengan semakin membaiknya situasi keamanan di daerah ini masyarakat akan semakin sejahtera.
Gubernur Maluku Said Assagaff mengimbau kepada masyarakat yang masih memiliki senjata ilegal untuk diserahkan kepada aparat keamanan, sehingga daerah ini aman dan sejahtera.
“Saya mengimbau masyarakat di seluruh wilayah Maluku yang masih memiliki senjata ilegal, serahkan kepada aparat keamanan, baik TNI/Polri maupun kepada para kepala desa di ddesa masing-masing,” pintanya.
Menurut Gubernur Said, selama masih ada senjata-senjata ilegal di tangan masyarakat, keamanan belum bisa dijamin, karena bisa saja senjata tersebut digunakan untuk meneror warga masyarakat lainnya.
Karena itu, Gubernur Said menyampaikan terima kasih kepada Pangdam dan Kapolda Maluku yang sudah bekerja keras menyadarkan masyarakat sipil untuk mengembalikan senjata-senjata ilegal yang mereka masih pegang.
“Saya menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada TNI dan Polri, dan diharapkan tidak ada lagi senjata di tengah masyarakat, apalagi kegiatan event nasional sering dilakukan di daerah ini yang berdampak terhadap peningkakan pendapatan rakyat di daerah ini,” katanya.
Sementra itu, Uskup Diosis Amboina Mgr.P.C. Mandagi, MSC meminta aparat keamanan untuk terus menyadarkan warga masyarakat yang masih memiliki senjata ilegal untuk menyerahkan kepada aparat TNI dan Polri.
“Senjata-senjata ilegal harus ditarik dari masyarakat karena berbahaya,” kata Uskup Mandagi.
Uskup juga bangga dengan TNI yang setia mengawal bangsa ini, sehingga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tetap tegak berdiri.
“TNI di usia ke-70 harus kuat dan profesional supaya jangan terkalahkan oleh tentara dari negara lain. TNI di Maluku juga harus bersatu, baik TNI Angkatan Darat (AD) Angkatan Laut (AL) dan Angkatan Udara (AU). Ketiga angkatan ini harus kuat, profesional dan bersatu tidak cerai berai menghadapi lawan,” ujarnya.
Uskup Mandagi juga meminta pimpinan TNI untuk memperhatikan anggota yang bertugas di wilayah perbatasan negara sehingga mereka bisa menunjukkan kekuatan kepada negara lain dan disegani pihak lawan. (ant/MP)


