Ambon, Maluku Post.com – Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AM GPM) bersama Badan Penanggulangan Bencana (BPB GPM) mengintensifkan bantuan kebutuhan makanan kepada para korban kebakaran hutan di Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah.
“AM GPM bersama BPB GPM intensif menyalurkan kebutuhan makanan yang dihimpun dari para jemaat, termasuk memotivasi Cabang dan Ranting berperan serta menggalang kepedulian sosial,” kata Ketua Umum Pengurus Besar AM GPM, Pdt M. Takaria, di Ambon, Minggu (1/11).
Menurut dia, distribusi bantuan telah dilakukan kepada 418 Kepala Keluarga (KK) atau 1.600 jiwa tersebar di empat desa di Seram Utara. Prosesnya dilakukan secara berkelanjutan mengingat lokasi yang cukup sulit dijangkau.
“Distribusi telah dilakukan empat kali dan akan terus dilakukan mengingat bantuan yang disalurkan jemaat juga semakin banyak dan saat ini sementara ditampung di Sekretariat PB AM GPM,” ujar Pdt.Takaria.
Pihaknya bersama BPB GPM juga telah membuka pendaftaran bagi semua kader yang mau menjadi motivator mendampingi masyarakat untuk melakukan aktifitas penanaman kembali lahan yang terbakar.
“Tahap awal dimulai dengan penanaman bibit jagung karena panennya relatif cepat, sedangkan menaman cengkih, pala dan bibit lainnya membutuhkan waktu yang lama,”kata Pdt.Takaria.
Upaya ini, lanjutnya, bertujuan untuk menyediakan pangan lokal untuk beberapa bulan kedepan, mendorong masyarakat untuk menghidupkan pemberdayaan ekonomi serta mencegah penguasaan dan pengambilalihan lahan masyarakat yang merupakan hak ulayat.
“Kami berupaya untuk memberdayakan ekonomi masyarakat yang mengalami kebakaran, hal ini juga sebagai bentuk agar wilayah tidak diambil alih,” tandas Pdt.Takaria.
Dia menyatakan, AM GPM juga menolak upaya relokasi masyarakat dengan melakukan pendampingan dan memberikan pencerahan kepada para korban.
PB AM GPM juga mengajak kelompok masyarakat yang memiliki kepedulian lingkungan untuk melindungi hak masyarakat adat agar bersama melakukan pendampingan dan advokasi bagi para korban di Seram Utara.
“Memang ditengah kesulitan yang mereka hadapi bisa saja dengan mudah menerima tawaran relokasi. Isu relokasi sementara dimainkan mereka yang memiliki kepentingan investasi dan kapitalisme ,” katanya.
Ditambahkannya, pendampingan masyarakat Seram Utara telah dilakukan sejak kepengurusan PB AMGM 2010 – 2015 upaya ini dilanjutkan kepengurusan 2015 – 2020. (ant/MP)


