Ambon, Maluku Post.com – Kampung Multikulur yang direncanakan akan dibangun di Provinsi Maluku pada 2016 atas gagasan dari Lembaga Antar Iman Maluku (LAIM), akan diisi oleh 600 kepala keluarga (KK) dengan latar belakang etnis dan agama yang tersebar di Nusantara.
“Seperti yang sudah disetujui oleh Gubernur, pembangunan Kampung Multikultur akan dianggarkan pada 2016. Nanti ada sekitar 600 KK dengan latar belakang etnis dan agama yang berkembang dari Sabang sampai Merauke di tempatkan di sana,” kata Direktur LAIM Abidin Wakano di Ambon, Sabtu (31/10).
Dari 600 KK yang akan menghuni Kampung Multikultur, kata Abidin, 50 persennya adalah etnis asli Maluku, sisanya adalah suku lainnya di Indonesia yang telah lama menetap di Maluku.
Untuk lokasi pembangunannya, akan ditentukan setelah musyawarah besar antara Gubernur Maluku Said Assagaff dengan raja dan pimpinan desa-desa se-Pulau Ambon pada November 2015.
“Etnis selain Maluku yang akan ditempatkan di kampung ini memang asli warga Maluku, jadi bukan mendatangkan berbagai etnis langsung dari daerah asalnya tapi mereka yang sudah lama menetap di sini,” katanya.
Belajar dari pengalaman konflik horisontal pada 1999 – 2002, Abidin yang juga Ketua I Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maluku mengatakan meski perang frontal telah berakhir, segregasi masih nampak, karena itu munculah gagasan membangun Kampung Multikultur yang bisa menjadi contoh bersama.
Karena dengan asal kawasan tinggal, etnis dan latar belakang agama yang berbeda-beda, warga di Kampung Multikultur dengan sendirinya akan belajar untuk saling memahami, menghargai dan mendukung antar sesamanya.
“Gagasan membangun Kampung Multikultur dimulai pada 2002 tapi belum bisa jalan karena kami melihat masih ada segregasi meski anak-anak muda sudah punya perjumpaan secara informal. Masyarakat kita yang hidup berkelompok berdasarkan komunitas agama di kampung-kampung besar biasanya rentan konflik antarkampung, tapi tidak dengan konsep pemukiman bercampur,” ucapnya. (ant/MP)


