Musda Instrumen Demokrasi Efektif Proses Kaderisasi

Ambon, Maluku Post.com – Gubernur Maluku, Said Assagaff mengatakan musyawarah daerah (Musda) merupakan salah satu instrumen demokrasi yang efektif untuk proses kaderisasi mengingat sebuah organisasi bila tidak melakukan penyegaran secara alamiah, maka akan mandek atau statis.

“Orang-orang yang ada di dalamnya mengalami kehilangan ingatan sehingga ini tidak boleh terjadi dalam satu organisasi. Pada sisi lain, sebuah organisasi yang tidak mau berubah maupun maju menunjukan organisasi itu kurang sehat,” katanya saat membuka Musda Pengajian AL-Hidayah VII Provinsi Maluku Tahun 2015, di Ambon, Sabtu (31/10).

Musda Pengajian AL-Hidayah Provinsi Maluku dihadiri Ketua Umum DPP Pusat, Harbiah Salahuddin.

Dia mengungkapkan, banyak masalah mempunyai potensi konflik yang tinggi dan biasanya lahir dengan matinya organisasi tersebut.

Karena itu, pemerintah provinsi(Pemprov) Maluku tidak mau organisasi AL-Hidayah mati.

“Susunlah perencanaan yang benar-benar matang dalam rangka membangun masyarakat di daerah ini. Berkolaborasi dengan organisasi-organisasi perempuan yang lain, seperti wanita Katolik, wanita Kristen dan lain-lain. Kita membangun Maluku secara bersama-sama,” ujar Gubernur.

Ia mengatakan, keberadaan Pengajian AL-Hidayah di Maluku memiliki peran dan posisi yang strategis untuk pembangunan daerah ini ke depan. Karena selain diisi oleh tokoh-tokoh perempuan Muslim yang punya kompoten di masing – masing bidang serta punya pengalaman yang banyak.

“Pengalaman yang sangat banyak didukung anggota cukup banyak dan bervariatif. Inilah modal kekayaan Pengajian Al-Hidayah,” kata Gubernur.

Karena itu, DPD Pengajian Al-Hidayah Maluku hendaknya memanfaatkan momentum Musda ini dengan sebaik-baiknya. Sebab bukan hanya memilih dan menyusun ketua dan pengurus yang baru, tetapi juga mempunyai sejumlah program-program strategis baru yang lebih inovatif dan progresif.

“Sudah saatnya Pengajian Al-Hidayah bertransformasi dari program-program yang lama dengan terkesan pengulangan-pengulangan dan serimonial saja. Buatlah program-program strategis yang menyentuh masalah dan kebutuhan umat serta masyarakat di daerah ini. Umat di sini bukan hanya yang beragama Islam saja, tetapi seluruh manusia di Provinsi Maluku,” tegas Gubernur.

Terhadap masalah-masalah HIV/AIDS, narkoba, kesehatan keluarga, pendidikan keluarga, ekonomi keluarga, kekerasan dalam rumah tangga, hingga konflik atau kekerasan di luar publik, harus menjadi perhatian pengurus Pengajian AL-Hidayah Maluku.

Karena secara sosiokultural, ibu-Ibu atau perempuan tentu saja memiliki kompentensi, dan modal sosial yang sangat besar untuk melakukan suatu perubahan maupun perbaikan-perbaikan.

“Dalam Islam terdapat sebuah ungkapan bijaksana yang berbunyi, Perempuan adalah tiang negara, jika perempuan itu baik, maka baiklah negara itu. Jika perempuan itu rusak atau hancur, maka hancurlah negara itu,” tandasnya.

Karena itu, perempuan tidak boleh rusak atau hancur. Perempuan harus jauh lebih baik supaya negara ini juga maju dan sejahtera.

Artinya, perempuan tidak boleh dianggap sebagai subkoordinansi dari laki-laki atau sekedar pelengkap penderita dari laki-laki dan laki-laki berposisi sebagai supermen, ini tidak boleh lagi terjadi.

Tetapi sesungguhnya perempuan adalah penyangga dan ibu dari bangunan sebuah peradaban di dunia. Hal ini mencerminkan perempuan dan laki-laki harus berada dalam posisi setara untuk hidup saling melengkapi, hidup saling membutuhkan dan saling menghidupi.

“Semangat kesetaraan gender jangan kita salah artikan, sehingga memposisikan perempuan dan laki-laki berada dalam posisi oposisi primer, sehingga perempuan tidak mau lagi diajak untuk kerjasama atau berhadap-hadapan atau sesungguhnya keduanya adalah mitra dalam kehidupan sehari-hari,” kata Gubernur.

Posisi perempuan, tambah dia, sangat penting dalam rangka pencitraan sebuah masyarakat yang rukun dan damai, karena ibu atau perempuan merupakan pendidik yang pertama dan sangat utama, sebagai pilar dan ibu dari bangunan peradaban.

“Tentu saja setiap ibu secara kodrati punya rahim yang berarti wadah kasih sayang untuk setiap anak-anak. Sejatinya ibu atau perempuan punya peran yang penting dan strategis dalam rangka menjadikan Maluku sebagai laboratorium kerukunan umat beragama, sebagaimana peran yang dilakukan perempuan Maluku selama ini,” ujar Gubernur Said.(ant/MP)

Pos terkait