Ambon, Maluku Post.com – Proses pembuatan salei berbahan dasar daging pala di Banda Naira, Kabupaten Maluku Tengah oleh masyarakat setempat selama ini belum dikembangkan sebagai industri rumah tangga yang dapat menunjang ekonomi keluarga.
“Yang paling terkenal saat ini adalah jus pala yang sudah dijadikan sebagai minuman selamat datang (welcome drink) di setiap hotel berbintang, padahal salei pala juga tidak kalah lezatnya dengan salei nanas,” kata salah satu warga Banda Naira, Rukiah Karmen di Ambon, Jumat (20/11).
Tradisi mengolah daging pala menjadi salei oleh masyarakat Banda Naira ini sudah berlangsung lama, hanya saja tidak ada upaya memproduksinya secara besar-besaran dalam bentuk kelompok-kelompok pengrajin rumah tangga.
Kondisi ini juga bisa terlihat dari penjualan aneka produk makanan dan penganan khas Banda di pasaran, tidak terlihat pedagang menjajakan salei pala, kecuali manisan pala atau jus pala.
Menurut Rukiah, hasil olahan buah pala menjadi salei yang dibuatnya pernah dibawa seorang turis asal Swiss, Loedwyk ke negara asalnya untuk diperkenalkan di sana.
“Salei yang kami buat tidak menggunakan pengawet atau bahan kimia dan hasil olahannya berwarna merah tua serta bentuknya padat seperti jeli lalu dikemas dalam stoples kaca,” katanya.
Kemudian bahan bakunya juga mudah didapatkan karena Banda memiliki perkebunan pala yang cukup besar dan luas.
Bahkan ada seorang dosen asal Universitas Gajah Mada (UGM) yang pernah mengunjungi Pulau Banda sempat meneliti salei pala buatan Rukiah dan menjelaskan kalau tersimpan dalam stoples dan tertutup rapat selama enam bulan, maka produknya masih bisa bertahan dan tidak jamuran.
“Kalau resep dan proses pembuatannya rahasia keluarga, tetapi hasilnya terasa sangat manis dan didominasi rasa buah pala segar serta memiliki khasiat menyembuhkan penyakit asam lambung ,” tandas Rukiah. (ant/MP)


