“Keempat daerah itu adalah Kabupaten Buru, Kabupaten Maluku Tengah, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) dan Kota Ambon,” kata Kepala BPBD Maluku Farida Salampessy di Ambon, Sabtu (19/12).
Pengembangannya di desa Ubun dan Sawab di Kabupaten Buru, desa Allang dan Negeri Lima, Kabupaten Maluku Tengah, desa Kilang dan kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon serta Kabupaten SBB.
“Penetapan keempat kabupaten/kota itu berdasarkan potensi bencana atau dievaluasi rawan dilanda bencana alam,” ujarnya.
Destana diintensifkan dengan tujuan suasana desa senantiasa siap dan siaga menghadapi kemungkinan terjadinya bencana alam.
“BPBD melakukan seleksi terhadap warga desa yang dinilai mampu menjadi petugas nantinya bisa mengarahkan warga sekiranya terjadi bencana alam,” kata Farida.
Warga yang terjaring nantinya menjalani pelatihan yang diselenggarakan BPBD Maluku.
“Kami memprogramkan kabupaten/kota lainnya di Maluku juga kebagian Destana di tahun – tahun mendatang karena daerah tergolong rawan terjadinya bencana alam,” kata Farida menegaskan.
Program Destana juga didukung dengan alokasi anggaran yang pada 2015 mencapai Rp35 juta/desa, menyusul Rp25 juta/desa.
“Penyaluran anggaran tersebut melalui kegiatan pembimbingan kepada warga yang menjadi sasaran Destana sehingga pemanfaatannya tertanggung jawab,” tandas Farida.
Sebelumnya, Gubernur Maluku Said Assagaff mengingatkan semua komponen bangsa bahwa provinsi yang dipimpinnya rawan bencana, bahkan termasuk nomor dua tertinggi se-Indonesia.
“Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan indeks kerentanan bencana periode 2013-2018 menempatkan Maluku dalam skor 187 atau masuk dalam kelas risiko tinggi nomor dua setelah Provinsi Sulawesi Barat,” katanya.
Dia memandang perlu memperhatikan dengan serius dan lakukan tindakan nyata bersifat segera maupun preventif agar menangkal sejak dini dampak dari bencana alam.
Karena itu, dipandang perlu melakukan pendidikan dan pelatihan kepada masyarakat maupun tindakan mitigasi bencana guna menghilangkan/mengurangi ancaman atau dampak ditimbulkan akibat bencana.
“Langkah strategisnya dengan melakukan penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi suatu ancaman dengan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana tersebut,” kata Gubernur.
Provinsi Maluku juga merupakan salah satu daerah rawan gempa dan tsunami karena terletak pada pertemuan tiga lempeng besar yakni Pasifik, Indo Australia dan Eurasia.
Lempeng Indo Australia masuk ke bawah Eurasia, bertemu dengan Lempeng Pasifik sehingga mengakibatkan patahan yang tidak beraturan.
Daerah-daerah rawan gempa di Maluku di antaranya wilayah-wilayah bagian tenggara, Pulau Ambon, Seram dan Buru. Sedangkan, pusat patahan di antaranya berada di Laut Ambon dan SBB. (MP-6)


