Ambon, Maluku Post.com – Laju inflasi Provinsi Maluku pada triwulan III 2015 tercatat melambat seiring terkendalinya ekspektasi inflasi dan permintaan domestik yang terbatas.
“Perkembangan itu juga karena realisasi inflasi yang menurun ditengah perayaan lebaran didukung oleh harga bahan makanan lebih terkendali seiring terjaganya pasokan,” kata Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku, Andi Biwado, di Ambon, Senin.
Dia mengatakan, meski melambat pencapaian inflasi Maluku tergolong tinggi, posisinya berada diatas inflasi wilayah kawasan timur Indonesia (KTI) maupun nasional.
Inflasi Kota Tual adalah yang tertinggi di Indonesia pada triwulan II yakni mencapai 13,67 persen dengan penyumbang terbesar adalah daun singkong, ikan kembung, cabe rawit,daging ayam ras, dan mie instant.
Sedangkan pada triwulan III inflasi Kota Tual menurun menjadi 6,62 persen dan juga masih tertinggi dari 82 kota di Indonesia.
Dia mengatakan, penyebab inflasi triwulan III di Kota Tual yakni ikan momar, ikan teri, ikan baronang, ketela pohon dan bawang merah.
Untuk Kota Ambon menyumbang angka inflasi 7,64 persen pada triwulan II dan berada pada posisi ke 16 dari 82 kota.
Menurutnya, penyumbang angka inflasi terbesar pada periode ini adalah ikan layang, beras, daun singkong, cabe rawit dan angkutan udara.
Sedangkan untuk triwulan III 2015 menurun ke posisi lima menjadi 4,67 persen dengan penyumbang inflasi terbesar adalah kangkung, ikan cakalang, bawang merah dan sawi hijau.
Dia menambahkan, sampai dengan Oktober 2015 inflasi Maluku masih cukup tinggi seiring dengan penyelenggaraan pesta paduan suara gerejawi (Pesparawi) nasional XI di Ambon sehingga menambah tekanan dari sisi permintaan.
Selain itu tingginya tarif angkutan udara seiring meningkatnya permintaan para peserta Pesparawi nasional. (MP-2)


