“Inflasi tertinggi terjadi di kota Merauke sebesar 2,87 persen dengan IHK 131,04 dan terendah terjadi di kota Cirebon sebesar 0,27 persen dengan IHK 118,94,” kata kata Kepala BPS Provinsi Maluku, Diah Utami, di Ambon, Senin (4/1).
Dia mengatakan, dari 82 kota IHK di Indonesia, pada Desember 2015 IHK kota Ambon menduduki peringkat 54, inflasi bulanan kota Ambon menduduki peringkat 71 dan inflasi tahun kalenderk Kota Ambon menduduki peringkat enam serta inflasi dari tahun ke tahun kota Ambon juga menduduki peringkat enam.
“Dari dua kota IHK di Provinsi Maluku, Kota Ambon mengalami inflasi sebesar 0,62 persen, sedangkan Kota Tual mengalami inflasi sebesar 2,37 persen dengan IHK 136,09,” ujarnya.
Tingkat inflasi tahun kalender kota Ambon pada Desember 2015 sebesar 5,92 persen dan tingkat inflasi dari tahun ke tahun (Desember 2015 terhadap Desember 2014) sebesar 8,58 persen.
Menurutnya, inflasi di kota Ambon terjadi pada semua atau tujuh kelompok pengeluaran yakni pada bahan makanan sebesar 0,53 persen, makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,99 persen.
Sedangkan, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,16 persen, sandang sebesar 0,79 persen, kesehatan sebesar 0,20 persen, pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 1,58 persen, serta kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,84 persen.
Komoditas yang dominan menyumbang inflasi di kota Ambon adalah angkutan udara, akademi/perguruan tinggi,tarif listrik,bawang merah dan cabe rawit.
Diah menambahkan, pada Desember 2015 dari 368 komoditi yang dipakai untuk menghitung IHK kota Ambon, sebanyak1 61 komoditi yang mengalami perubahan harga, baik naik maupun harga turun.
Dari 161 komoditi tersebut sebanyak 126 komoditi mengalami kenaikan harga dengan sumbangan yang diberikan terhadap inflasi kota Ambon sebesar 0,9362 persen, sedangkan komoditas yang mengalami penurunan harga sebanyak 35 komoditas dengan sumbangan bagi andil inflasi Kota Ambon -0,3182 persen. (MP-4)


