![]() |
| Korban Penganiayaan Oknum TNI |
“Kita besok (hari ini, red) mendesak pertanggungjawaban Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo dan Pangdam XVI Pattimura, Dodi Monardo untuk memberikan sanksi tegas sekaligus pemecatan kepada oknum-oknum TNI yang menganiaya Widodo Adin Saputra dengan bersama temannya sehingga mengakibatkan Widodo meninggal ditempat kejadian” kata keluarga korban Nur Rohim.
Dikatakan, Alibi Kapuspen Kodam XVI Pattimura, Kolonel Muhammad Hasyil Lalhakim kepada beberapa media sangat menyesatkan dan menyakitkan hati warga Waimital.
“Mereka mengatakan seolah-olah Widodo tewas karena terjatuh sendiri dari sepeda motornya. Saksi mata banyak melihat bahwa terjadi penganiayaan terhadap Widodo dan terjadi kejar-kejaran sore itu layaknya menonton balap motor dengan mobil” tambahnya.
Nurohim bahkan menegaskan Rabu (6/1) akan memimpin langsung aksi unjuk rasa mendesak Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo dan Pangdam XVI Pattimura, Doni Munardo menindak tegas pelaku penganiayaan Widodo.
“Ini sebuah pelanggaran berat, karena saat melakukan penganiayaan Dandodiklatpur bersama sopir, ajudannya dan anggotanya masih menggunakan seragam lengkap”, jelasnya.
Menurutnya, keluarga ingin melihat secara tindakan tegas Panglima untuk mencopot yang bersangkutan sebagai TNI dan memenjarakannya sebagai efek jera, karena sifat arogansi aparat bukan sekali dua kali dilakukan kepada masyarakat Waimital.
“Besok kami akan kerahkan kekuatan sekitar 500 orang keliling Desa Gemba/Waimital dan kita akan berorasi di Rindam XVI Pattimura. Kami telah mendapat persetujuan dari Kapolres SBB untuk melakukan Aksi Unjuk Rasa di Rindam dan meminta Panglima dan Pangdam XVI Pattimura lebih tegas menyikapi penganiayaan hingga menewaskan adik kami. Kami telah bersurat kepada DPRD SBB untuk menyikapi hal ini, karena ini penganiayaan berat, sehingga tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Kami minta Komnas HAM juga melakukan investigasi terkait kasus ini,” jelasnya.
Nurohim menjelaskan kronologis malam naas itu, peristiwa yang terjadi pada tanggal 1 Januari 2016, sekitar Pukul 20.00 WIT diawali dengan senggolan sepeda motor dengan mobil yang dikendarai oleh oknum TNI Rindam XVI Pattimura bernama Serka Y.M. Korban (Widodo Adin Saputra) lari dan terjadi kejar-kejaran sampai akhirnya tertangkap lalu kemudian terjadilah pemukulan atau penganiayaan.
“Kami dari keluarga atau masyarakat berharap seharusnya insiden main hakim sendiri tidak dibenarkan apalagi dilakukan oleh oknum aparat terhadap masyarakat, harapan kami akibat tindakan penganiayaan dan pemukulan tersebut mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang yakni adik saya Widodo Adin Saputro. Kami minta para pelaku diberikan sanksi sesuai dengan hukum yang berlaku dan kalau perlu harus dipecat dari keanggotaan TNI sesuai dengan apa yang diperbuat,” terangnya.
Keluarga korban lainnya yang juga mantan anggota DPRD SBB , Drs. Muhammad Amin sangat menyesalkan sikap Kepala Penerangan Kodam XVI Pattimura yang membuat keterangan seolah-olah lari dari tangungjawab. tewasnya Widodo dialibikan seperti kecelakaan lalu lintas. Padahal baginya banyak saksi ditempat kejadian perkara, memberikan keterangan pada keluarga korban bahwa telah terjadi kejar-kejaran antara mobil dan motor yang dikendarai Widodo.
“Widodo dan teman. keponakan saya tidak pernah mengkonsumsi Minuman Keras, jadi berita itu merupakan pernyataan sepihak tanpa menelusuri fakta di lapangan. Penerangan Koda menganalogikan kasus tersebut kecelakaan murni,” kesalnya.
Pihaknya menuntut Panglima TNI, Gatot Nurmantyo dan Pangdam XVI Pattimura, Doni Munardo untuk mengambil sikap tegas.
“Kami sangat menyesalkan sikap Dandodiklatpur yang malam itu bersama-sama dengan Y.M mengantarkan korban ke Puskesmas Kairatu, tidak menengok korban di Puskesmas, tetapi hanya mengantar jenazah saja. Pemukulan korban di depan komandan sudah salah, apalagi komandan ikut memukul korban itu diluar perikemanusiaan sebagai perwira menengah,” sesalnya. (MP-10)


