Terkait Pilwalkot Ambon 2017
Ambon, Maluku Post.com – Sejak dulu hingga saat ini, warga keturunan Tionghoa ikut berperan besar bagi pembangunan bangsa dan negara Indonesia di pelbagai aspek kehidupan. Di Kota Ambon, Provinsi Maluku, peran warga keturunan Tionghoa bagi kemajuan kota ini hingga memasuki usia ke-441 tahun juga tak dapat dipandang sebelah mata.
Sebagai bagian dari Warga Negara Indonesia (WNI) yang punya hak dan kedudukan yang sama di depan hukum dan pemerintahan, wajar jika warga keturunan Tionghoa juga berhak dicalonkan dan mencalonkan diri sebagai kepala daerah di mana-mana.
Menyongsong pelaksanaan pemilihan wali kota (Pilwakot) Ambon pada awal 2017 mendatang, kini mencuat sosok Felix Christanto sebagai salah satu warga keturunan Tionghoa yang telah menyatakan diri siap bertarung di pilwakot Ambon periode 2017-2022.
Menariknya keinginan maju bertarung dari Christano bak gayung bersambut karena direspons positif warga kota Manise, Heygel Tengens. Selaku ketua tim sukses (timsu) Felix Christano Center, Tengens bertekad akan mengonsolidasikan kekuatan warga keturunan Tionghoa di Maluku untuk mendukung Christanto maju bertarung di pilwakot Ambon 2017.
“Sebagai ketua tim sukses, saya akan menghimpun kekuatan seluruh warga keturunan Tionghoa untuk mendukung pak Felix (Christanto) sebagai calon wali kota Ambon periode 2017-2022 mendatang. Dan saya akan mengumpulkan KTP milik warga keturunan Tionghoa di Maluku, terutama di Ambon, untuk memuluskan langkah pak Felix maju bertarung melawan incumbent maupun calon wali kota lainnya di pilwakot Ambon pada waktunya nanti,” tegas Tengens kepada Maluku Post di Ambon, Jumat (5/2/).
Tengens menyatakan warga keturunan Tionghoa di Maluku, khususnya di Ambon, juga relative banyak dan telah berperan penting bagi kemajuan kota ini dari dulu hingga saat ini.
“Kalau di daerah-daerah lain di Indonesia, telah banyak warga keturunan Tionghoa yang sukses menunjukkan kemampuan mereka sebagai kepala daerah. Misalnya saja pak Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta saat ini, pak Milton Tansil sebagai Wali Kota Bitung dua periode, empat wakil wali kota di Sulawesi Utara, dan banyak kepala daerah di Kalimantan dan Sulawesi yang juga berasal dari warga keturunan Tionghoa. Mereka semua telah menunjukkan komitmen teguh, kepribagian yang luhur dalam membangun daerah masing-masing. Di Ambon, meski warga keturunan Tionghoa juga telah berkarya bagi kemajuan kota ini, misalnya di bidang ekonomi dan olahraga, tetapi sampai saat ini belum ada satupun warga keturunan Tionghoa yang dipercayakan sebagai wali kota atau wakil wali kota Ambon. Nah, inilah momentum tepatnya. Karena itu, dengan sukacita kami mendukung upaya pak Felix untuk maju bertarung di pilwakot Ambon,” ungkap Tengens, yang juga Dirut Sekolah Sepakbola (SSB) Amboina ini.
Tengens menjelaskan pihaknya akan mengusung Christanto dari jalur independen untuk menghindari ’cost’ politik yang besar. “Kalau pakai partai politik kan biayanya sangat besar, bisa capai Rp 2 miliar. Untuk menghindari ‘cost politik’ yang tinggi, kami akan gunakan jalur independen untuk usung pak Felix meski yang bersangkutan berkapasitas sebagai Dewan Pakar Partai Perindo Maluku,” terang mantan pejudo Maluku dekade 1980an ini.
Tengens menilai Christanto merupakan sosok tepat memimpin kota ini lima tahun ke depan karena berkapatitas dan punya konsep modern membangun Ambon sebagai kota metro di Timur Indonesia.
“Saya senang dengan konsep Bakti Teknologi yang digagas pak Felix untuk membantu kebutuhan air bersih masyarakat Ambon yang semakin hari semakin kritis,” ujar pengamat olahraga Maluku ini.
Di kesempatan yang sama Christanto menandaskan yang dibutuhkan masyarakat Ambon saat ini bukan hanya retorika kosong. “Bukan hanya soal perang visi-misi yang dibutuhkan masyarakat, tetapi yang harus kita lakukan adalah memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, misalnya soal kebutuhan air bersih. Saya punya konsep Bakti Teknologi di mana saya akan gunakan beberapa titik di Ambon untuk pasang sumur bor untuk mengatasi krisis air bersih yang kini semakin meresahkan warga kota ini. Saya nilai pemerintahan saat ini gagal memenuhi kebutuhan dasar masyarakat,” tandas alumnus Fakultas Teknik Universitas Patttimura (Unpatti) Ambon tahun 1992.
Christanto bertekad akan menjadikan Ambon Pusat Lelang Ikan Tuna Internasional untuk menyejahterakan masyarakat nelayan.
“Jika saya terpilih sebagai wali kota Ambon, saya akan jadikan Ambon sebagai pusat lelang tuna internasional. Tujuannya untuk membawa kemakmuran bagi nelayan lokal, karena selama ini nelayan-nelayan di Ambon masih hidup di bawah garis kemiskinan atau belum sejahtera sepenuhnya,” ungkap lulusan SMA Negeri 1 Ambon tahun 1984. (MP-9)


