Oleh Rony Samloy
Jurnalis Olahraga Maluku
Membahas atmosfer persepakbolaan dan futsal Maluku diibaratkan kerakak (lumut). “Hidup saja susah ‘ampong jua hello’, tetapi mati seng mau”. Sepakbola dan futsal masih dianggap sebatas hiburan masyarakat dan bukan produk alami Maluku untuk menarik simpati nasional agar rame-rame datang ’mangente’ Ambon Manise.
Pemain-pemain sepakbola dan futsal potensial di daerah ini tak lebih bagaikan ’anak ayam kehilangan induk’. Mereka butuh uluran tangan para pengambil kebijakan daerah untuk mengangkat prestise di level Nasional. Memang harus diakui jika di Maluku relatif sulit mendapatkan perusahaan besar (korporasi) yang dengan suka hati mau membantu pendanaan untuk menopang pembinaan dan pengembangan sepakbola usia dini sampai ke level senior.
Katakanlah seperti PT Freeport yang acap kali membantu Persipura Jayapura berlaga di Liga Super Indonesia atau kompetisi kasta tertinggi Indonesia. Sebenarnya tidak sulit mendapatkan kepercayaan pihak ketiga, terutama dunia swasta, untuk mendongkrak prestasi sepakbola Maluku di level nasional. Yang susahnya itu mendapatkan para pejabat, gubernur, wali kota, bupati, ketua DPRD, bankir, rektor atau pejabat publik, yang benar-benar mencurahkan totalitas hidupnya untuk sepakbola dan futsal, selain tentunya untuk keluarga.
Kita memang pernah memiliki ’legislator gila bola’ dalam diri mendiang Jhon Jonathan Mailoa. Sebab, dari turnamen Jhon Mailoa Cup I-2005, Maluku pernah sukses menyabet Juara Indonesia untuk kompetisi Liga Remaja PSSI usia 15 tahun atau Piala Medco U-16 tahun 2006. Sepeninggal Mailoa, sebenarnya masih ada Heygel Tengens dan Oei Sianatra Wijaya, namun kedua orang ini belum diberikan kepercayaan penuh oleh Asosiasi sepakbola dan futsal Maluku untuk menukangi tim Maluku di pelbagai kompetisi resmi.
Sebenarnya ada sosok muda peduli sepakbola dan olahraga seperti Sam Latuconsina, Wakil Wali Kota Ambon 2011-2016, tetapi keinginan Sam maju menjadi ketum Pengprov PSSI Maluku tak kesampaian karena’dikudeta’ panitia pemilihan ketum PSSI Maluku 2013-2017. Setelah Persemalra Maluku Tenggara yang pernah mengangkat wajah persepakbolaan Maluku di Divisi Utama PSSI pada dekade 2000an, kini publik Maluku hanya bisa bergembira pada kiprah anak-anak Maluku bersama tim-tim elite provinsi lain di Piala Presiden 2015, Piala Jenderal Sudirman dan Piala Gubernur Kalimantan Timur 2016.
Banggakah pejabat di daerah ini melihat anak-anak Maluku mengangkat trofi juara bersama tim provinsi lain? Biar saja mereka tidur nyenyak di atas sumpah serapah para penggila sepakbola lokal. Keterpurukan sepakbola dan futsal Maluku juga diakibatkan pejabat-pejabat di sini lebih fokus mengurusi politik ketimbang sepakbola dan futsal.
Masyarakat ikut tergiring pada kepentingan politik sesaat ini. Imbasnya, meski hanya punya jatah 4 kursi DPR RI dan 4 kursi DPD RI, yang terpilih kebanyakan wakil-wakil rakyat yang tidak punya militansi, takut bersuara di senayan. Paling-paling angkat lenso sopu air mata mendengar senator daerah lain memperjuangkan aspirasi daerahnya dengan saling membentak dan saling mengancam.
Delapan wakil rakyat Maluku di Senayan sama sekali tak pernah mencari format terbaru untuk mengangkat prestasi sepakbola dan futsal Maluku menuju tangga prestasi. Yang paling menyedihkan, kebanyakan yang mengurusi sepakbola adalah oknum-oknum yang tak punya pekerjaan tetap alias ’Ali Topan’.
Alih-alih untuk menyambung hidup, ya surat rekomendasi yang ditandatangani harus dihargai Rp 1 juta untuk memperlancar turnamen lokal. Sepakbola dan futsal Maluku terpuruk karena pengaruh mental terjajah pejabat-pejabat di daerah ini. Harus ada sehari berkabung untuk sepakbola dan futsal Maluku. Sepakat?


