Lagi Warga Saumlaki Jadi Korban Buaya Ganas

korban buaya ganas sementara dievakuasi

Saumlaki,Maluku Post.com – Warga kota Saumlaki Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) Jumat siang (18/3) kembali dihebohkan dengan penemuan sosok mayat yang terdampar di dalam muara sungai Weminak di perbatasan desa Bomaki dan Lermatan kecamatan Tanimbar Selatan.

Mayat yang ditemukan warga setempat ini sudah tidak lengkap lagi, hanya bagian pinggang hingga kaki yang ditemukan, diduga kuat bagian pinggang hingga kepala telah dimakan buaya.

Kepala Kepolisian Sektor Tanimbar Selatan,IPTU Dany Jambormias di Saumlaki, Sabtu (19/3) menjelaskan mayat korban gigitan buaya tersebut bernama Tarsisus Wasa (33), ayah 1 anak warga kota Saumlaki asal Bajawa Flores,NTT. Korban awalnya dilaporkan hilang pada hari Selasa (15/3) dinihari.

“Rekan korban melaporkan kepada kami pada Selasa (15/3) malam hari, dan keesokan harinya kami mulai melakukan pencarian dengan menggunakan ketinting. Kami menyisir di sejumlah tempat, mulai dari pelabuhan besar, pelabuhan ferry sampai ke desa Bomaki dan di pulau Rekmiri tapi tidak berhasil karena gelombang dan cuaca yang tidak bersahabat”. ungkapnya.

Dijelaskan Jambormias,berbagai upaya dilakukan yakni pencarian gabungan dari sejumlah instansi yakni Basarnas, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Polsek Tansel, Polsek KP3, Polisi Perairan, TNI Lanal Saumlaki, Kodim 1507/Saumlaki dan pasukan TNI dari Batalyon Inf 734/SNS.

“Selain upaya pencarian, pihaknya juga meminta tua-tua adat di desa Bomaki dan di desa Olilit Barat untuk melakukan ritual adat, sehingga korban pun ditemukan meskipun jasadnya tidak lengkap lagi setelah empat hari dinyatakan hilang”paparnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten MTB , Cornelis Batmomolin yang ditemui secara terpisah mengakui jika gigitan buaya yang diketahui adalah jenis buaya air tawar ini telah berulang kali menerkam warga Maluku Tenggara Barat semenjak tahun 2014 lalu.

“Ini merupakan kejadian pertama di tahun 2016, dimana kejadian terakhir kemarin tahun 2015 itu pada bulan Agustus dan September. Kejadian kali ini memang tragis juga, karena saat jasad korban ditemukan, ternyata hanya tinggal kaki kiri dan kanan, sementara mulai pinggang sampai kepala korban itu sudah habis dilahap buaya, dan mengapung di dalam muara sungai, dimana jarak dari bibir pantai itu sekitar satu kilo meter”.tandas Batmomolin.

Menurut Batmomolin, jasad korban yang ditemukan saat itu langsung dievakuasi dengan menggunakan kapal cepat dan setibanya di dermaga Ferry, Tim dokter langsung melakukan outopsi dan dihantar menuju rumah korban untuk siap dimakamkan saat itu.

“Pemerintah kabupaten juga akan memberikan santunan, seperti yang telah dilakukan selama ini kepada korban gigitan buaya dan korban bencana lainnya.”ungkapnya

Untuk diketahui, semenjak pertengahan tahun 2014 lalu, beberapa kawasan di Kabupaten Maluku Tenggara Barat seperti di Kecamatan Selaru, Kecamatan Tanimbar Selatan dan Kecamatan Wermaktian masuk dalam kategori berbahaya dan rawan gigitan buaya ganas.

Tercatat hingga kini, korban yang meninggal dunia akibat gigitan buaya ganas sudah melebihi 10 orang.

Terkait dengan maraknya kasus buaya ini, Pemerintah Kabupaten MTB dan Kepolisian Sektor Tanimbar Selatan telah melakukan berbagai upaya penanganan seperti sosialisasi bahaya gigitan buaya, melarang warga untuk tidak melaut pada malam hari secara sendiri-sendiri, ritual adat di sejumlah desa, hingga rencana penangkapan buaya, namun masih terbentur dengan sejumlah kendala seperti: minimnya fasilitas dan pendanaan. (MP-14)

Pos terkait