Ambon, Maluku Post.com – Dua siswa Sekolah Menengah Pertama Kristen (SMPK) Kalam Kudus Ambon, Andika Adi Pradana Wiliyanto dan Evan Raymond Ferdinandus, akan mewakili Maluku pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) di Palembang, Sumatera Selatan, 15-21 Mei 2016 nanti.
Wiliyanto yang berlomba akan mewakili Maluku di OSN Bidang Studi IPA, sementara Ferdinandus yang memiliki nilai tertinggi (passing grade) untuk bidang studi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) akan mewakili Maluku untuk event serupa di kota yang sama. Penetapan Peserta OSN SMP Tingkat Nasional didasarkan pada Surat Keputusan (SK) Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Pertama Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 1022/D3/KP/2016 tanggal 21 April 2016 yang ditandatangani Direktur Pembinaan SMP Supriano.
Menurut Pengurus Bidang Pendidikan Yayasan Kalam Kudus Ambon, Sie To Niken Bachri di Ambon, Selasa (10/5), bahwa Wiliyanto dan Ferdinandus saat ini tengah digodok tim guru SMPK Kalam Kudus Ambon sebelum berangkat ke Palembang melalui Jakarta pada 12 Mei nanti. Selain itu pembinaan dan pelatihan rutin dan berkesinambungan dilakukan tim guru kepada siswa-siswi SMPK Kalam Kudus baik pada saat turnamen maupun saat tidak dilaksanakannya turnamen
Niken memastikan selalu ada reward terhadap guru-guru dan siswa berprestasi di SMPK Kalam Kudus Ambon.
“Kalau siswa yang berprestasi akan diberikan beasiswa, dan Ferdinandus yang meraih passing grade sebagai peserta OSN SMP Bidang Studi IPS adalah peraih beasiswa dari Yayasan Kalam Kudus Ambon. Sedangkan untuk guru yang berprestasi tetap diberikan penghargaan, oleh karena Guru-guru harus ditopang penguatan mental teologis. Sebab sekolah ini milik Gereja di mana kita melayani Tuhan Yesus melalui lembaga pendidikan ini”. ungkapnya.
Niken berharap sebelum dua siswa SMP Kalam Kudus menuju lokasi perlombaan, ada tatap muka bersama Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy untuk mendongkrak kepercayaan diri kedua Duta Ambon menuju OSN tahun ini.
“Dua siswa SMPK Kalam Kudus ini kan wakil Maluku dari Kota Ambon, sehingga tidak ada salahnya sebelum berangkat mereka harus bertemu dengan Upulatu Kota Ambon. Minimal ada wejanganlah, dukungan moril kepada dua siswa SMPK Kalam Kudus ini. Jadi kedua peserta asal Ambon ini sudah harus disuntik moral sebelum berlomba,” ujarnya.
Niken juga menghimbau Dinas Pendidikan dan Olahraga (Dikor) Kota Ambon dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Maluku dapat mengikuti Petunjuk Teknis (Juknis) di mana yang berhak mendampingi dua siswa SMPK Kalam Kudus mengikuti OSN Tahun 2016 adalah guru pembimbing mereka, bukan pegawai dinas teknis terkait.
“Sesuai Juknis yang ada, yang berhak mendampingi siswa adalah gurunya. Sebab, kedapatan selama ini yang mendampingi siswa ke tingkat nasional adalah pegawai dinas, sehingga mereka tidak dapat berbuat apa-apa dan tidak memberikan dorongan ketika perlombaan dilakukan. Tak jarang ketika perlombaan dilakukan, pejabat dinas terkait lebih memilih jalan-jalan di Mall dan berbelanja di pusat perbelanjaan ibu kota sehingga siswa ditelantarkan begitu saja. Mungkin karena orientasinya proyek. Padahal lebih elok dan bijaksana jika siswa itu didampingi gurunya, sehingga diharapkan ada topangan mental dan ilmu sebelum perlombaan dilakukan,” paparnya.
Niken mengharapkan kearifan Gubernur Maluku Said Assagaff dan 45 anggota DPRD Maluku terkait utusan Maluku menuju perlombaan OSN Bidang Studi IPA dan IPS tahun ini sebab berdasakan pengalaman ada siswanya yag harus berangkat namun ada yang sengaja menggantikan nama siswanya dengan siswa dari sekolah lain.
“Kita meminta perhatian pak gubernur dan para wakil rakyat karena pendidikan itu harus mengutamakan kejujuran. Maksudnya, yang harus mewakili Maluku adalah peserta yang namanya terdaftar dalam tiket. Pengalaman selama ini, terkadang nama di tiket lain, tetapi yang berangkat orang lain. Untuk tingkat Sekolah Dasar, SD Kristen Kalam Kudus pernah mengalami kejadian ini selama 6 tahun di mana siswa SDK Kalam Kudus yang harus berangkat, tetapi yang berangkat siswa lain. Ini pengalaman pahit yang tidak perlu terjadi lagi. Bagaimana mungkin kita bicara peningkatan kualitas dunia pendidikan kalau masih ada cara-cara kotor karena pendekatan nepotisme dan diskriminasi seperti itu,” pungkasnya. (rony samloy)


