Tarian Cakalele Menggunakan Parang dari Kayu Bukan Parang Asli
Ambon, Maluku Post.com – Perayaan HUT Pattimura ke 199 yang akan digelar di Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, tahun ini agak berbeda dengan perayaan pada tahun-tahun sebelumnya, hal ini juga dengan sendirinya bakal mengikis nilai-nilai budaya dan sakralnya momentum perayaan tersebut.
Pasalnya, perayaan HUT Pattimura ini pada tarian Cakalele tidak menggunakan parang asli tetapi menggunakan parang yang terbuat dari kayu, hal ini mendapat reaksi keras yang menolak penggunaan parang kayu dari komponen masyarakat pemuda Tuhaha.
Pelampiasan ketidaksukaan anak-anak adat Negeri Tuhaha terhadap campur tangan pemerintah tertuang dalam diskusi ringan melalui media sosial facebook (FB). Seperti yang dikemukakan, Falentino Sahusilawane melalui grup FB Beta Beinusa menulis bahwa sebagai anak negeri dirinya kecewa dengan cara Pemerintahan Negeri Tuhaha dan para tetua adat yang hanya bisa menerima aturan dari pemerintah untuk mengubah adat istiadat yang ada di Negeri Tuhaha yang berjulukan Beinussa Amalatu.
“Ini secara langsung menjatuhkan harga diri masyarakat adat Negeri Beinussa Amalatu dan penghinaan bagi Thomas Matulessy atas keperkasaannya. Dimana akal sehat para pimpinan dan tua tua adat Negeri Beinussa, kalau mau jadi pemimpin jadi pemimpin yang berani dan bertanggung jawab apapun yang terjadi karena rakyat siap mendukung,” ungkapnya.
Sementara itu, salah satu tokoh muda Negeri Tuhaha, Dolland Loupatty di Ambon, Jumat (13/5) menandaskan, adat yang berlaku di negeri adat jangan diintervensi pemerintah, sebab tatanan adat merupakan bagian dari adat istiadat yang tidak bisa diganggu gugat.
“Ini harga diri kami selaku anak adat, jika kami dipaksakan menggunakan parang kayu maka sama saja kami mencoreng wajah kami dengan arang,” tandasnya.
Pemuda Negeri Tuhaha Kecamatan Saparua Kabupaten Maluku Tengah menolak keinginan Panitia HUT Pattimura untuk menggunakan parang kayu pada tarian Cakalele. Karena penggunaan parang kayu tidak sesuai dengan tradisi adat istiadat Negeri Tuhaha, apalagi Cakalele yang merupakan tarian perang.
Loupatty menyayangkan tindakan tua tua adat serta Raja Negeri Tuhaha yang hanya mengiyakan keinginan panitia HUT Pattimura untuk menggantikan parang asli dengan parang kayu.
“Mereka itu seharusnya menjadi pengayom masyarakat adat untuk melestarikan serta mempertahankan adat,” tandasnya.
Menyikapi soal ada warga yang terluka akibat penggunaan parang asli pada perayaan HUT Pattimura tahun sebelumnya, dan ini menjadi alasan panitia meminta agar digunakan parang kayu, Loupatty menandaskan kalau luka yang dialami pemuda tersebut merupakan kelalaian serta ada unsur kesengajaan. Sebab, tarian cakalele adalah tarian perang yang diperagakan oleh para pemuda yang masih memiliki garis keturunan kapitang.
“Saat itu, ada kekuatan supranatural. Anehnya, sang pemuda yang kemudian diketahui berasal dari salah satu negeri tetangga tiba-tiba berada dalam barisan penari cakalele. Yang kami pertanyakan adalah kenapa pemuda tersebut berada dalam barisan penari, jika hal ini kemudian dijadikan alasan untuk menyodorkan parang kayu maka ini sangat keliru,” jelasnya.
Menurut Loupatty, pemerintah berhak untuk melindungi seluruh warga termasuk tatanan adat istiadat namun tidak bisa mengintervensi adat apalagi merubahnya. “Pemerintah wajib menjaga, melindungi dan melestarikan tatanan adat namun tidak boleh mencampurinya apalagi merubahnya,” tegasnya.
Sementara itu salah satu warga Tuhaha, Ivon Louhenapessy dikonfirmasi terpisah, mengatakan Raja-raja di Saparua hanya bisa melongo dengan banyak cerita dongeng namun saat ada pemutarbalikan fakta penggunaan Parang Kayu untuk tarian Cakalele, mereka hanya berdiam diri.
“Pada saat ada pemutarbalikan fakta sejarah, mereka cuma bisa manggut-manggut, dan khusus untuk Raja Negeri Tuhaha, jangan bilang diri kapitang kalau masih sembunyi di balik ketiak pemerintah,” kesalnya.
Menurut Louhenapessy, hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai luhur dan kesakralan dari perayaan HUT Pattimura mulai luntur dan terkikis sehingga dipastikan makna dari momentum perayaan akan hilang.
Dijelaskannya, sebelum hari H, pedang yang akan dipakai dalam tarian cakalele telah melewati prosesi adat yang dilakukan di rumah tua ketua adat.
“Tidak mungkin prosesi adat tersebut menggunakan parang kayu. Ini bukan mainan yang bisa diolok-olok,” kesalnya sembari menambahkan jangan sampai pemuda yang terluka itu sengaja dipasang untuk melecehkan adat Negeri Tuhaha.
Louhenapessy berharap kedepan kiranya Panitia HUT Pattimura dapat memberi perhatian terhadap hal ini sehingga nilai budaya dan kesakralan momentum perayaan HUT Pattimura akan terus terjaga. (MP-1)



