Pelayanan Dinilai Buruk, Warga Binaan Minta Kepala Lapas Tual Dicopot

Lembaga Pemasyarakatan (lapas) dinyatakan sebagai suatu sistem pembinaan terhadap warga binaan dan sebagai suatu perwujudan keadilan yang bertujuan untuk mencapai kembali pulihnya kesatuan hubungan antara Warga Binaan Pemasyarakatan dengan masyarakat, hal ini juga tidak terlepas dari pelayanan yang diberikan oleh lapas tersebut.

Langgur, Maluku Post.com :  Lembaga Pemasyarakatan (lapas) dinyatakan sebagai suatu sistem pembinaan terhadap warga binaan dan sebagai suatu perwujudan keadilan yang bertujuan untuk mencapai kembali pulihnya kesatuan hubungan antara Warga Binaan Pemasyarakatan dengan masyarakat, hal ini juga tidak terlepas dari pelayanan yang diberikan oleh lapas tersebut.

Ironisnya, pelayanan menyangkut hak-hak warga binaan yang menempati lembaga Pemasyarakatan (Lapas) klas IIB Tual dinilai buruk, demikian disampaikan AN yang merupakan mantan warga binaan lapas tersebut, di Langgur, Rabu (3/8).

Menurutnya, selama dirinya berada dalam Lapas klas IIB Tual, warga binaan yang masuk menjalani hukuman tidak pernah disampaikan tentang hak-haknya, selain itu juga tidak pernah disosialisasikan aturan-aturan yang berlaku di dalam lapas.

“Sipir dan atau pimpinan lapas klas IIB Tual dalam mengambil keputusan pun saya menilai sangat tidak bijak, dan mereka tidak terlihat untuk mau bergaul dengan kami dalam hal pembinaan namun justru menjauh,”ungkapnya.

Dijelaskan pula, sipir dan atau pimpinan lapas juga terlihat arogan bahkan janji-janji tentang hak-hak bagi warga binaan pun tidak pernah ditepati, apalagi menyangkut makanan dan minuman.

“Makan dan minum kami pun tidak sesuai menu, juga tidak sesuai dengan anggaran sehingga kami makan seperti layaknya binatang karena tiap hari makan nasi dan sayur dengan kadar kalor dan bumbu yang terbatas namun karena kondisi kamu berusaha menjalaninya,” tandasnya.

AN menambahkan, selain soal makan dan minum ternyata warga binaan di lapas Klas IIB Tual tidak pernah dibagikan rinso atau sabun sunlight untuk mencuci pakaian.

“Rinso dan sunlight harus kami keluarkan duit untuk membeli atau memesan dari keluarga, padahal semua itu sudah dianggarkan,” kesalnya sembari menambahkan bahwa informasi yang didapat bahwa tahun 2016 anggaran untuk lapas sudah naik menjadi Rp900 juta.

Sementara itu, informasi yang berhasil dihimpun media ini bahwa keluarga warga binaan lapas klas IIB tual mengancam akan melakukan demo terkait lauk pauk dan hak-hak para warga binaan serta meminta kepala Lapas Yohanes.Litaay.S.Sos agar dicopot dari jabatannya. (MP-17)

Pos terkait