Ambon, Malukupost.com – Meskipun baru terbentuk awal 2018, Hapiong Ukulele Group (HUG) langsung menghentak. Mereka tampil penuh pesona di panggung Konferensi Musik Indonesia di Amahusu Ambon, dan mampu menyita perhatian musisi-musisi papan atas Indonesia.
Gagasan berdirinya HUG datang dari dua musisi Amahusu yakni Nicho Tulalessy dan Joseph Silooy. Bertahun-tahun pada waktu senggang, Nicho dan Joseph selalu bermain ukulele di atas pohon hapiong yang batangnya menjorok ke laut.
Nicho dan Joseph saling tahu bahwa mereka sama-sama penyuka ukelele, dan sering bermain sendiri-sendiri. Bersama musisi sebaya Elthon Silooy dan Larry Lekatompessy, mereka sudah terbiasa bermain ukulele sejak masih anak-anak.
Ketika mendiskusikan ukelele, Nicho dan Joseph merasakan betapa selama ini ukulele hanya diperlakukan sebagai musik pengiring grup hawaiian dan musik pengiring katreji. Ukulele bukan alat musik utama.
“Sebab itu, saya dan Joseph bertekad membawa ukulele masuk ke pentas sebagai instrumen musik utama,” jelas Nicho Tulalessy kepada Media Maluku Post di Ambon, Jumat (6/4).
HUG terbentuk setelah Nicho dan Joseph mengajak musisi lain, dan mereka antusias. Kini HUG terdiri dari Nicho, Joseph, Larry, Elthon, Barry Silooy, Stevy Nanuru, John Silooy, Sammy de Lima, Mez Silooy, Lodrik Ferdinandus, Franklyn Silooy dan Willy Waas. Sejak HUG dibentuk, mereka sudah mendapat dukungan sejumlah tokoh penggerak seni-budaya seperti Robby Silooy, Anna Latuconsina dan Reza Syaranamual.
Nicho bercerita, semula HUG tampil dengan semangat menghidupkan ukulele sambil melestarikan lagu-lagu Ambon. Akan tetapi setelah dikenal karena beberapa penampilan, sejumlah kerabat memberi tantangan agar tampil di gereja.
HUG menerima tantangan itu. Mereka tampil di dalam ibadah di Gereja Amahusu. Dari sekadar mempersembahkan satu lagu, akhirnya HUG malah menjadi pengiring ibadah. Jemaat terkejut karena ada yang baru dalam perayaan ibadah Minggi.
“HUG iring ibadah Minggu jam 07.00 pagi di Jemaat Amahusu. Tentu ini menjadi hal unik bagi semua jemaat, sebab selama ini selalu diiringi paduan trompet, suling bambu, dan organ, namun pagi itu luar biasa karena ibadah diiringi ukulele dan tifa,” tutur Nicho penuh semangat.
Di balik semua itu, menurut Nicho, HUG juga ingin memberi kontribusi nyata bagi Ambon sebagai kota musik. Dia berharap, pembangunan Ambon sebagai kota musik bukanlah sebuah upaya pemerintah agar merebut gelar dan pujian, melainkan untuk kontek musik itu sendiri.
“Misalnya, kalau datang ke Amahusu dan anda menemukan di setiap rumah ada banyak alat musik tradisi dan modern, maka siapapun datang ke Ambon atau Amahusu, apa yang mereka lihat akan akan benar-benar berkesan dan mengundang pengakuan, bahwa inilah kota musik,” papar Nicho.
Nicho mengakui, HUG punya mimpi dan rencana besar ke depan. Dirinya percaya, ukulele sebagai alat musik utama, akan mampu menjadi sesuatu yang menonjol, apalagi ukulele dapat dimainkan secara elektronik maupun akustik,
“Ukulele adalah musik dengan beat ditentukan kecepatan pukulan jari di senar. Ini sangat manis, bikin bahagia dan tidak marah-marah. Ukulele bawa damai,” pungkas Nicho. (rudi fofid/foto hug)


