Nonton Liga Dangdut Tanpa Virus SARA

  • Whatsapp
Mutia, Mahrus, dan Janna (crtz indosiar)

Catatan Rudi Fofid-Ambon

Liga Dangdut Indonesia adalah ajang pencarian bakat penyanyi dangdut. Tagline Liga Dangdut Indonesia “Seni Menyatukan” Tujuan Liga Dangdut Indonesia adalah mempersatukan Indonesia melalui musik dangdut. (Wikipedia)

Ini dunia hiburan, ini dunia kreatif, ini program televisi, dan ini adalah bisnis dan industri. Kalau sudah sampai di bisnis dan Industri, maka Liga Dangdut Indonesia. bukanlah sebuah titik, bukan sebuah garis, bukan sebuah bidang, bukan sebuah ruang, melainkan sebuah dunia multi-dimensi.

Bayangkan saja secara utuh, rantai produksi program ini, berapa banyak orang terlibat, berapa banyak waktu dibutuhkan, berapa banyak ruang Indonesia dan dunia terjangkau, berapa banyak uang keluar untuk pembiayaan, berapa banyak uang masuk, berapa banyak pajak kepada negara, dan sebagainya.

“Seni Menyatukan”. Liga Dangdut Indonesia memperjumpakan kawula Indonesia untuk sebuah proses, panggung, kesempatan, dan harapan untuk masa depan. Kita tidak tahu bagaimana relasi personal para kawula muda tersebut di Jakarta. Akan tetapi, pada acara sejenis, di luar panggung, para peserta selalu berproses bersama, saling kenal, saling berbagi, saling mendukung, dan paling sederhana saling tukar alamat.

Liga Dangdut Indonesia itu damai, bukan perang. Liga Dangdut Indonesia bukan perang harga diri antar tana putus pusa, bukan pula kompetisi asal-usul nenek moyang. Pada sebuah grup facebook, Janna dari Papua Barat “yang sedang baik-baik saja” di atas dan luar panggung Liga Dangdut, dia tidak pernah tahu bahwa dirnya sedang menjadi “objek sengketa” dan pelabelan-pelabelan beraroma anti SARA.

Seruan beberapa akun facebook pada status maupun komentar sudah menjurus rasis. “Jangan pilih Janna sebab dia tidak bela Maluku melainkan bela Papua Barat.” Ada lagi komentar yang mempersoalkan asal-usul ayah dan ibu kandung. Jijik untuk disuguhkan di sini.

Hari-hari belakangan ini, ada semacam kecemasan berlebihan, perasaan terancam, dipinggirkan, direndahkan melanda beberapa orang di antara kita, yang mulai menggunakan diksi-diksi ekslusif: Asli Maluku, anak daerah, pribumi, non pribumi, pendatang, dan sebagainya.

Manusia adalah makhluk migrasi sebagaimana juga hewan-hewan melakukan ruaya melintasi batas iklim dan ruang ekologi, bukan batas administrasi provinsi atau negara. Migrasi bisa secara natural, spontan, maupun melalui rekayasa akibat konflik, peperangan, atau peristiwa alam. Orang Maluku ada di semua provinsi di Indonesia. Juga sebaliknya di Maluku, semua suku di Nusantara maupun berbagai bangsa berhimpun di sini menjadi orang Maluku.

Akibat migrasi, maka kita kenal Franky Sahilatua, Johnny Sahilatua, Jane Sahilatua, Henny Maspaitella, Loudry Maspaitella dari Surabaya, Ruth Sahanaya dari Bandung, Bram Tetelepta dari Aceh, Emma Tahapary dari Jakarta, Said Assagaff dari Maluku, Andre Rentanubun dari Langgur, Albertina Ho dari Aru, Semmy Khouw dari Geser, Daniel Sahuleka dari Belanda, Simon Tahamata dari Belanda, dan seterusnya. Belum lagi orang-orang bermarga Padang, Palembang, Yogyakarta, Semarang, Madura, Banjar, Bugis, bukankah mereka ada di sini, kawin-mawin dengan orang di sini?

Kembali ke Liga Dangdut Indonesia. Ada dua Duta Maluku yakni Mahrus Mahu dan Siti Mutia Pilpala. Saat yang sama, ada Siti Nurjannah Rumasukun dari Papua Barat. Namanya saja Rumasukun, pasti dari Maluku. Tidak heran, ada dukungan warga Maluku kepada Jannah. Persoalannya, tiba-tiba ada suara negatif di akun grup media sosial.

Liga Dangdut Indonesia bukan pilkada atau pileg. Bukan pilihan berganda, multiple choice, dan bukan atau one man one vote. Mereka tetap naik panggung secara terpisah sehingga setiap pendukung bisa memilih. Pada babak selanjutnya, bila makin mengerucut, bisa saja mereka sepanggung dan saling berhadapan. Ya, pilih semuanya selama mereka tetap menunjukkan kemampuan. Tidak perlu membuat dikotomi. Mari dukung “anak kita, anak Maluku” yang bagus-bagus ini. Mahrus Mahu, Siti Mutia Pilpala, Siti Nurjannah Rumasukun sudah tunjuk bukti dan kelak nanti bakti. Ke mana pun mereka melangkah, walau sampai di antartika, mereka tetap Maluku.

Jika beberapa orang terus-menerus membuat dikotomi asli vs pendatang, apalagi Maluku vs Papua, Jannah vs Mutia, Janna vs Mahrus, maka kita hanya sedang merintis jalan mundur ke belakang panggung peradaban. Virus Corona sungguh berbahaya sebab ia mematikan, namun Virus SARA jauh lebih berbahaya sebab ia menyerang memori dan imajinasi. Korbannya merasa masih hidup tetapi sesungguhnya ia sudah mati sebelum ajal.

Mutia, Mahrus, dan Janna! Tampillah sebagus-bagus kalian. Kalau juara, syukurlah. Kalau belum juara, tetaplah bersyukur. Juara sejati adalah pengakuan publik, bukan piala dan uang. Bernyanyilah dengan baik, maka dunia akan bahagia, bergembira, dan selamat, seraya mereka memuliakan nama Tuhan.

Hidup Liga Dangdut Indonesia, hidup Indonesia.

Ambon, 26 Januari 2020

Penulis adalah Redaktur Pelaksana Media Online Maluku Post

Pos terkait