Laporan Rudi Fofid-Ambon
Ambon, Malukupost.com – Lahan baru Pemakaman Kristen di Lateri Ambon terlihat asri oleh hamparan rumput hijau. Aneka pohon tumbuh di mana-mana. Di bawah sebatang pohon pule yang tidak terlalu besar, dihimpit dua pohon perdu, jenazah Pendeta Abraham Jonas Soplantila dibaringkan, Senin (30/3) petang. Mantan ketua sinode GPM tersebut menjadi penghuni ketiga di taman tersebut.
Upacara tabur bunga menjadi bagian terakhir dari seluruh rangkaian acara pemakaman. Acara dimulai dari rumah duka di Halong, dilanjutkan ke Gereja Maranatha, dan akhirnya ke tanah pemakaman.
Prosesi pemakaman Pendeta Bram Soplantila mendapat perhatian penuh pimpinan gereja. Dari mimbar Gereja Maranatha, Ketua BPH Sinode GPM Pendeta A. J. S. Werinussa meminta maaf kepada pemerintah dan warga jemaat. Alasannya, sinode sudah mengeluarkan surat gembala agar ibadah di gereja untuk sementara ditiadakan demi mengantisipasi penularan Covid-19. Akan tetapi di luar dugaan, wafatnya mantan ketua sinode membuat sinode terpaksa menyelenggarakan ibadah di dalam gedung gereja.
Ibadah di Gereja Maranatha dipimpin Pendeta Rico Rikumahu. Ketua Sinode Pendeta A. J. S. Werinussa menyampaikan refleksi hidup pendeta Bram Soplantila, sedangkan Sekum Sinode Pendeta Elifas Maspaitella membacakan riwayat hidup almarhum.
Sebelum diantar ke tempat pemakaman, para pejabat gereja, mulai dari ketua sinode, beberapa ketua klasis, dan sanak keluarga mendapat kesempatan menyampaikan persembahan kasih. Setiap orang meletakkan sekuntum bunga putih ke dalam keranda.
MELANGLANG BUANA
Dari riwayat hidupnya, diketahui Pendeta Bram Soplantila ternyata seorang pendeta yang pernah melakukan tugas yang jauh dari kampung halaman.
Riwayat kependetaannya dimulai setelah lulus Sekolah Tinggi Teologi Jakarta tahun 1967. Saat kembali ke Ambon, ia ditugaskan di Dobo. Usianya baru 26 tahun, namun ia langsung mengemban tugas sebagai Ketua Klasis Aru. Tahun 1971, sinode memutasikan Pendeta Bram ke Tual, juga sebagai ketua klasis.
Tahun 1972 sampai 1978, Pendeta Bram bertugas di Kantor Sinode GPM di Ambon, sampai dipilih menjadi Sekretaris Umum Sinode periode 1978-1983.
Pendeta Bram selanjutnya mengikuti orientasi untuk tugas keluar GPM, dan akhirnya bertugas melayani Jemaat Kristen Indonesia di Jerman. Sampai tahun 1986, ia terpilih menjadi ketua sinode untuk periode 1986-1989. Tahun 1990, sekali lagi terpilih sebagai ketua sinode untuk periode 1990-1995.
Sebelum pensiun, Pendeta Bram sempat menjadi Ketua Majelis Jemaat GPM Betlehem. GPM mencatat, Pendeta Bram menjalani tugas kependetaan selama 33 tahun delapan bulan.
Pergilah dengan damai, tokoh pelopor gerakan oikumene! (Malukupost)


