Langgur, Malukupost.com – Kata Mural berasal dari bahasa Latin yakni kata “Murus” yang artinya dinding. Pengertian luasnya yaitu menggambar atau melukis di atas media dinding, tembok atau media luas lainnya yang bersifat permanen.
Dalam rangka menuju Langgur Green & Clean 2021, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Maluku Tenggara menawarkan konsep Mural untuk diterapkan di sebagian sudut Kota Langgur.
Kepala Dinas (Kadis) DLH setempat, Nurjanah Yunus menjelaskan, konsep ini sementara diterapkan di beberapa kota besar di dunia sejak beberapa tahun lalu.
“Memang jika kita start akhir tahun ini atau awal tahun depan sudah agak terlambat, tapi mungkin kita bisa dengan konsep gambar yang lain dari yang lain, mislanya konsep local wisdom atau kearifan lokal Kei,” ujarnya di Langgur, Selasa (12/5/2020).
Sebagai ibukota kabupaten Malra, Kota Langgur sudah saatnya harus ditata sudut-sudut kotanya agar terlihat asri dan menarik.
“Saya coba tawarkan konsep Mural ini untuk katong pung sudut-sudut kota Langgur, karena yang katong lihat itu monoton dinding itu begitu saja tanpa ada seninya. Konsep Mural ini memang sudah lama diterapkan di hampir seluruh kota besar dunia seperti Singapura, Penang (Malaysia) bahkan di Mekkah (Arab Saudi) juga ada,” imbuhnya.
Inti dari konsep Mural ini adalah meremajakan satu kawasan (Renewal) untuk meningkatkan kualitas kawasan itu kembali dengan menggambar pada dinding-dinding sebagai media dengan berbagai tema.
“Tema-tema yang katong tawarkan adalah tentang kearifan lokal, misalnya Larvul Ngabal dengan penjelasan hukum-hukumnya yang dituangkan dalam bentuk visualisasi gambar, dan ada juga motif dari Tanimbar Kei,” katanya.
Selain itu, ada pula seruan-seruan dari pemerintah daerah maupun pemerintahan adat dalam bentuk pesan-pesan kepada masyarakat melalui dinding-dinding itu.
“Jadi, Mural bukan hanya berupa gambar belaka tetapi yang ingin katong tampilkan adalah pesan-pesan moral kepada masyarakat dan ini mungkin agak berbeda dengan konsep-konsep Mural di daerah yang lain,” tuturnya.
Dijelaskan Kadis, yang namanya kota itu harus dinamis, artinya harus terus mengikuti perkembangan. Gambar-gambar yang ditawarkan untuk Mural pun jangan seperti satu atau dua tahun yang lalu, karena warga akan akan merasa bosan dan jenuh melihat konsep-konsep yang sama.
“Mungkin katong bisa berkreasi dengan melibatkan beberapa anak-anak lokal dan Mural profesional dari luar (terkait gambar tiga dimensi) supaya gambar itu terkesan hidup sekali. Tujuannya untuk memberikan pesan kepada masyarakat tentang nilai-nilai budaya, religi dan local wisdom disini serta mempercantik sudut-sudut kota,” paparnya.
Sudut kota yang akan menjadi project pertama konsep Mural ini yakni pada dinding di Taman Dinas Pendidikan, selain beberapa sudut lagi yang sudah ada tembok (dinding) untuk digambar dan diwarnai.
Terkait anggaran untuk kegiatan Mural tersebut, mantan Kadis PUPR yang akrab disapa ibu Anna ini mengungkapkan, pihaknya telah mengusulkan pada perubahan anggaran tahun 2020.
“Kami memang mengusulkan pada perubahan anggaran, tapi karena situasi Pandemi Covid-19 ini mungkin saja ada anggaran-anggaran yang lain (pergeseran anggaran). Untuk itu kami sementara mengefisiensikan anggaran belanja di DLH. Mudah-mudahan saja ada anggaran sisa dari Belanja DLH tahun 2020 maka kami akan usulkan di perubahan anggaran tahun 2020,” tandasnya.
Diakui Anna, pihaknya memang telah memiliki desainnya dan hingga kini anggarannya belum ada, sehingga dirinya telah mengusulkannya dalam rapat Musrenbang minggu lalu untuk meremajakan taman-taman kota sesuai dengan tugas yang diembankan kepada DLH dari Bupati Malra.
“Kami sudah sampaikan hal ini ke pak Bupati dan beliau memberikan support dan apresiasi tapi kendalanya sekarang adalah anggaran,” terangnya.
Untuk mewujudkan hal tersebut, ibu kadis yang dikenal cantik jelita ini menyebutkan, pihaknya akan mengefisiensikan anggaran belanja DLH, agar pada perubahan anggaran tahun 2020, DLH bisa menganggarkan sebagian prosesnya.
Ada beberapa tahap prosesnya, yakni penyiapan lahan (lahan terbangun). Selanjutnya disiapkan pohon-pohon dan bunga-bunga (mengingat keterbatasan pohon dan bunga di pulau Kei), kemudian media dinding dimaksud sebagai prioritas.
Diungkapkan Anna, dalam prosesnya nanti, pihaknya akan melibatkan berbagai elemen, misalnya untuk menyampaikan pesan (norma) nilain-nilai adat ke masyarakat maka harus berkomunikasi dengan forum group discussion (FGD) dengan para Rat (raja) dan tokoh-tokoh adat.
Kemudian pesan-pesan keagamaan (religi), pihaknya akan berkomunikasi dan meminta pendapat dari tokoh-tokoh agama. Dan juga pesan-pesan dari para komunitas anak-anak muda milenial.
“Kami sangat bersyukur kalau misalnya ada komunitas-komunitas yang teribat tentang konsep Mural ini karena DLH tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan dari mereka. Kami juga telah kami usulkan kegiatan Festival Mural di Malra, tapi karena adanya Pandemi Covid-19 sehingga kegiatan tersebut terhambat, tetapi kosep Mural itu pasti kami terapkan dengan melibatkan komunitas-komunitas,” tukasnya.
Anna Yunus menegaskan, jika kita ingin meremajakan kota Langgur untuk mendukung sektor pariwisata, maka harus dengan memberikan sentuhan-sentuhan inovasi yang mungkin tidak ada di tempat yang lain.
“Mudah-mudahan Kota Langgur bisa seperti kota-kota besar lainnya di Indonesia dan dunia,” pungkasnya.


