Anak Ukuleke Ambon Kirim Pesan Buat Presiden Jokowi

  • Whatsapp
Vira Lekatompessy dan Kezia Tulalessy dari Amboina Ukulele Kids Community (AUCK) saat membacakan pesan terbuka kepada presiden dan menteri dari Sanggar Boyratan Amahusu Ambon, Kamis (23/7). (foto auck)

Laporan Rudi Fofid-Ambon

Ambon, Malukupost.com – Anak-anak di Maluku mengirim pesan terbuka kepada presiden dan menteri pendidikan dan kebudayaan. Pesan disampaikan dalam bentuk video, dan disebarkan melalui media sosial, Kamis (23/7).

Anak-anak tersebut adalah Vira Lekatompessy dan Kezia Tulalessy, keduanya berasal dari Amboina Ukulele Kids Community (AUCK) yang berbasis di Amahusu, Ambon. AUCK sendiri menghimpun anak usia SMA hingga anak TK, yang dalam setahun terakhir ini mencapai lebih dari 200 anak Ambon.

Pesan terbuka kepada presiden dan menteri dibacakan di Sanggar Boyratan Amahusu. Vira membacakan bagian untuk presiden, sedangkan Kezia membacaka bagian untuk menteri pendidikan dan kebudayaan.

Dalam pesan terbuka kepada presiden, anak-anak AUCK menyatakan, saat ini dengan pembelajaran online, sebagian anak dapat mengikuti pelajaran secara normal. Akan tetapi pada saat yang bersamaan, di pulau-pulau yang sangat terisolasi di Maluku, ada anak-anak yang tidak bisa belajar sebagaimana mestinya.

“Banyak teman-teman kami yang tidak bisa belajar seperti kami karena keterbatasan orang tua, yang tidak memiliki peralatan smartphone dan laptop, dan sebagian teman kami yang berada di kabupaten, khususnya pulau-pulau kecil, belum bisa mengakses jaringan internet,” ungkap Vira Lekatompessy dalam pesan tersebut.

Oleh sebab itu, AUCK menyerukan presiden memberi perhatian lebih khusus kepada anak-anak di Maluku untuk bisa mendapatkan fasilitas sekolah online yang sama seperti dirasakan anak-anak di wilayah Indonesia bagian barat.

Sementara itu, kepada menteri pendidikan dan kebudayaan, sebagaimana disampaikan Kezia Tulalessy, AUCK memaparkan kondisi sebagian anak di Maluku yang memprihatinkan karena kondisi alam, serta sarana-prasarana yang minim.

“Mereka harus berjalan kaki berkilo-kilometer, menyusuri pesisir pantai, bahkan menyusuri sungai yang sangat deras dan berbagai tantangan lainnya untuk bisa menuntut ilmu. Hal ini dikarenakan sarana transportasi yang belum memadai, selain itu, bangunan sekolah dan sarana prasarana tidak layak dan sangat memprihatinkan,” papar Kezia Tulalessy.

Atas dasar ketertinggalan itu, AUCK mengharapkan perhatian khusus menteri pendidikan dan kebudayaan agar fasilitas di Indonesia bagian timur bisa ditingkatkan, sama seperti fasilitas yang dinikmati anak-anak di wilayah Indonesia bagian barat.

Koordinator AUCK Nico Tulalessy kepada Media Online Maluku Post menyebutkan, dalam situasi pandemi covid-19, anak-anak tidak bisa berkumpul secara massal untuk merayakan hari anak nasional. Hal itu, kata dia, tidak berarti anak-anak tidak bisa bikin apa-apa.

“Pesan terbuka kepada presiden dan menteri, adalah cara anak Ambon khususnya komunitas ukulele merayakan hari anak nasional,” ungkap Tulalessy di Amahusu, Jumat (24/7). (malukupost/foto auck)

Pos terkait