Ini Penjelasan Gustu Malra Tentang Pasien Covid-19 Yang Meninggal Dunia

  • Whatsapp
Juru Bicara Gustu Covid-19 sekaligus Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara, dr. Katrinje Notanubun, M.Kes.

Langgur, Malukupost.com – Gugus Tugas (Gustu) Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Maluku Tenggara (Malra) menggelar konfrensi pers terkait polemik yang terjadi di tengah masyarakat terkait meninggalnya salah satu pasien Terkonfirmasi Positif Covid-19 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karel Sadsuitubun Langgur.

Juru bicara Gustu, dr. Katrinje Notanubun menjelaskan, pasien terkonfirmasi yakni ibu JR (63) masuk rumah sakit tanggal 6 Juli 2020 dengan keluhan batuk dan sesak napas. Kemudian yang bersangkutan dirawat (di ruang Kelas 1).

“Karena tidak mengalami perbaikan-perbaikan selama perawatan, maka terhadapnya dilakukan pemeriksaan laboratorium dan rontgen, dan didapatkan ibu JR ini mengalami sesak napas bukan karena paru-paru tapi jantung,” ujarnya di Langgur, Senin (20/7/2020).

dr. Notanubun mengatakan, dengan kondisi tersebut maka pihaknya melakukan pemeriksaan Rapid Diagnostic Test (RDT) terhadap ibu JR pada tanggal 8 Juli 2020 dengan hasilnya Reaktif.

Berdasarkan hasil RDT tersebut, kemudian ibu JR dipindahkan ke ruang isolasi dimana petugas yang merawatnya dilengkapi (menggunakan) Alat Pelindung Diri (APD) sesuai protokol kesehatan.

“Meskipun hasil RDT-nya reaktif, tapi kita belum bisa mengkategorikan sebagai terkonfirmasi positif Covid-19 karena Rapidt Test bukan diagnosis. Untuk memastikannya, maka dilanjutkan ke tahap berikutnya yakni pemeriksaan Swab. Saya mau katakan bahwa jika hasil RDT-nya Nonreaktif maka kita tidak akan melanjutkan ke tahap berikutnya,” tandasnya.

Dijelaskan dr. Notanubun, pada tanggal 9 Juli 2020, pihaknya mengirimkan 18 sampel Swab, dan hasilnya adalah terkonfirmasi positif Covid-19 (hasil pemeriksaan Real Time PCR tanggal 13 Juli 2020) sebanyak 15 orang, termasuk didalamnya adalah ibu JR.

“Setelah dinyatakan terkonfirmasi, maka yang bersangkutan kemudian dirawat di ruang isolasi. Dan sejak saat itu, dokter sudah memerintahkan untuk tidak bisa lagi diperlakukan seperti pasien biasa. Sesuai prosedur yang berlaku, dokter penanggungjawab pasien yakni dokter Erni (Spesialis Paru) sudah memberitahukan kepada anak dari ibu JR yang menjaganya,” tuturnya.

Untuk diketahui, selama perawatan, ibu JR ditangani oleh dokter spesialis Paru serta spesialis Penyakit Dalam, dan sudah ditangani sesuai SOP.

dr. Notanubun mengungkapkan, almarhumah ibu JR meninggal dunia pada tanggal 18 Juli 2020 pukul 15.36 WIT dengan Gagal Jantung (Congestive Heart Failure/CHF) yang mengakibatkan gagal nafas, serta diperberat dengan Diabetes Mellitus Type 2 (Kencing Manis).

“Memang ada pertanyaan dari keluarga bahwa kenapa anaknya ibu JR yang merawatnya hasil pemeriksaan RDT-nya adalah Nonreaktif. Saya mau katakan sekali lagi bahwa penyakit penyerta ini yang rentan (memperberat) kondisi ibu JR,” imbuhnya.

Selanjutnya, terhadap jenazah ibu JR dilakukan pemulasaran dan dilanjutkan dengan pemakaman sesuai dengan protokol kesehatan jenazah Covid-19.

Menurut dr. Notanubun, pihaknya telah menyampaikan meninggalnya ibu JR kepada pihak keluarga, dan penanganannya akan akan ditanggulangi oleh pemerintah daerah.

“Saya sudah sampaikan kepada keluarga bahwa ketika almarhumah ibu JR ini dinyatakan sudah meninggal, maka penanganan pemakamannya akan diurus oleh pemerintah (dalam hal ini Gustu) karena sudah tidak bisa lagi diperlakukan sebagai jenazah biasa. Kita semua tahu bhawa Covid-19 adalah penyakit menular. Ini yang harus diantisipasi dengan melakukan protokol kesehatan. Waktu itu di rumah sakit saya sudah bicara dengan keluarga (ada sekitar 4 atau 5 orang dari pihak keluarga), saya sudah menjelaskan Covid, dan mereka tahu bahwa itu Covid,” pungkasnya.

Pos terkait