Kenangan Suara Maluku Dan Lex’s Trio Nan Legendaris

  • Whatsapp
Lex's Trio (foto https://www.last.fm)
Lex's Trio (foto https://www.last.fm)

Catatan Rudi Fofid-Ambon

Malukupost.com – Lex’s Trio adalah kelompok yang ikut memeriahkan hari ulang tahun pertama Ambon Kota Musik yang disiarkan akun youtube DSS Music, Jakarta, 31 Oktober malam ini. Kalangan penggemar musik jadul masih rindu mereka walau dalam formasi Lex’s Trio Plus. Kalangan milenial, banyak yang sudah tidak kenal lagi dengan Tetelepta bersaudara tersebut.

Lex’s Trio adalah penyanyi gereja, putri almarhum Alex Tetelepta. Mereka terdiri dari empat bersaudara Mien, Tien, Lien, Aty. Walau empat, kalau naik panggung selalu dalam formasi trio. Nama Lex’s ya dari potongan nama ayah.

Karier Lex’s Trio dimulai dari Gereja di Jakarta. Buche Patty adalah orang pertama yang mengajak mereka masuk dapur rekaman sebagai penyanyi latar untuk Bob Tutupoly dalam lagu Widuri. (1977).

Waktu itu, paman mereka Minggus Tahitu tidak setuju. Menurut Minggus, Lex’s Trio masih mentah dan belum bisa dikirim ke industri. “Jangan bikin malu katong orang Maluku,” kata Minggus.

Akan tetapi Buche tidak peduli. Ia menangani Lex’s Trio. Ketika album Widuri meledak di pasar kaset Indonesia, Minggus datang salami Buche. Sejak itu, Lex’s Trio tidak tertahankan. Mereka menjuarai berbagai kompetisi nasional dan internasional, dan punya berbagai album sendiri.

Tahun 1980, Lex’s Trio bersama Rafika Duri, Harvey Malaihollo, Gito Rollies, Dharma Oratmangun, Abadi Soesman, dan sejumlah artis Jakarta Kelompok Geronimo II tampil di Sporthall Karangpanjang Ambon. Barulah tahun 1994, Lex’s Trio bisa tampil dalam konser tunggal di Baileo Oikumene.

Seminggu sebelum konser, Lex’s Trio memasang iklan konser di harian Suara Maluku. Iklan satu halaman itu, bernilai Rp1 juta. Pada hari konser, saya menonton untuk menulis laporan jurnalistik.

Pelaksana Harian Pemred Suara Maluku Sam Abede Pareno, juga menonton konser. Saat konser selesai, Sam Abede berbisik kepada saya.

“Nanti saya saja yang tulis liputannya. Lama saya tidak menulis konser musik sebagus ini,” katanya.

Besoknya harian Suara Maluku menurunkan laporan tentang konser Lex’s Trio di halaman pertama. Saya lupa judulnya, tetapi isinya adalah laporan lengkap konser dari awal hingga akhir.

Siang hari, ada telepon ke kantor Suara Maluku dari Hotel Mutiara. Lex’s Trio menginap di sana memang.

“Saya manajer Lex’s Trio. Saya mau bayar iklan Lex’s Trio. Apakah saya harus ke kantor Suara Maluku, apakah ada orang keuangan yang bisa ke sini, atau ada nomor rekening yang bisa saya transfer?” Kata manajer di seberang sana.

Saya tidak bisa membuat keputusan, lalu saya serahkan gagang telepon kepada Sam Abede.

“Iklan apa?” Tanya Sam Abede.

“Iklan Lex’s Trio,” jawab manajer.

“Lho, bukankah sudah lunas?” ujar Sam.

“Belum! Uangnya masih ada pada saya, dan belum saya bayar sama sekali,” jelas manajer.

“Sudah!”

“Belum!”

“Sudah!”

“Belum!”

“Sudah, Mbak! Lex’s Trio sudah membayar dengan konser harmoni yang luar biasa tadi malam. Iklan itu sudah lunas dengan konser itu,” jelas Sam Abede.

Saya mendengar percakapan selanjutnya yang akrab, saling berterima kasih antara manajer Lex’s dan Sam Abede.

Sore hari sekitar jam 17.00 WIT, Sam Abede datang di kantor. Dia minta semua wartawan dan karyawan Suara Maluku semuanya menuju Amahusu, jam 19.00 WIT sudah di sana.

“Siapa tidak datang, denda Rp5 ribu,” ancam Sam Abede. Waktu itu, Rp5 ribu bisa beli sepuluh bungkus nasi padang.

Maka jam 19.00 WIT, kami semua dengan rupa-rupa kendaraan sudah sampai di Amahusu. Ternyata, di sana Manajer Lex’s Trio sudah menunggu bersama ketiga personil, Tina, Lien, dan Aty.

Lex’s Trio merasa senang dengan iklan yang dibebaskan biayanya. Sebagai ucapan terima kasih, Lex’s Trio menjamu  kami makan malam di Resto Tirta Kencana. Bukan main, kami 72 wartawan dan karyawan Suara Maluku.

“Begitulah, katong semua musti satu bantu satu,” kata Sam Abede merespon ucapan terima kasih yang terus-menerus diucapkan setiap personil Lex’s Trio.

Di sela makan malam itulah, saya mewawancarai Lex’s Trio. Aty Tetelepta mewakili saudara- saudaranya. “Apa pendapat anda tentang penyanyi-penyanyi Ambon, setidaknya yang anda saksikan di Baileo Oikumene, saat pembukaan dan jedah.

“Wao, kami merinding mendengar suara mereka. Secara bakat, suara mereka jauh lebih dari kami. Hanya saja, kesan kami, penyanyi Ambon di panggung semalam, mereka tidak tampil sepenuhnya. Sepertinya, mereka punya kemampuan seratus, tapi yang ditampilkan 60 saja,” kata Aty.

Dia menduga, penyanyi Ambon merasa minder di hadapan penyanyi ibukota, nervous, dan akhirnya tidak keluarkan seluruh kemampuannya. Aty beri saran, semua panggung di mana saja harus dimuliakan. Semua panggung sama sucinya. Panggung kecil, panggung besar, di kampung, kota, luar negeri, semua harus dianggap sama penting.

Saya mengajukan pertanyaan lain. Lex’s Trio kan empat person. Mien, Tina, Lien, Aty, tetapi kalau naik panggung tiga orang saja. Nah, latihan, latihan, naik pentas, semua ini tentu sangat dinamis. “Apakah, sebagai saudara kandung, Lex’s Trio pernah konflik?”

Pertanyaan ini membuat suasana jadi rame. Aty dan Mien paling heboh. Aty kemudian buka rahasia. Pernah mereka sudah latihan, lalu baku marah karena tidak tepat waktu. Saat harus naik panggung, mereka tidak saling berbicara di belakang panggung.

Waktu konser, semuanya jadi padu seperti biasa. Konser sukses, tidak ada masalah. Begitu di belakang panggung, saling diam lagi, dan pulang sendiri-sendiri. Meski begitu, Aty jelaskan, situasi emosional itu tidak lama. Paling lama satu malam. Hari kedua, sudah beres lagi. Bagaimanapun, mereka bersaudara dan punya tanggungjawab, sehingga harus profesional, kata Aty.

Lex’s Trio adalah penyanyi trio perempuan paling legendaris di tanah air. Saingan mereka ya Tarida, Bornok, dan Rugun dari Hutauruk Sisters. Hingga kini, belum ada pengganti mereka di tanah air. (Malukupost)

Pos terkait