Laporan Rudi Fofid-Tual
Malukupost.com – Perang Dunia II telah lama berlalu. Sebagian besar saksi mata sudah tutup usia. Akan tetapi sejarah mencatat, Pertempuran Ambon selama lima hari sebagai salah satu pertempuran paling brutal. Semua pengalaman traumatik tertuang dalam berbagai memoar di dalam dan luar negeri.
Perang Ambon melibatkan pasukan Jepang versus pasukan sekutu yakni Amerika Serikat, Belanda, dan Australia. Dalam tempo lima hari, 30 Januari sampai 3 Februari 1942, pasukan sekutu di Ambon terpaksa kibarkan bendera putih setelah melalui pertarungan tidak seimbang.
PASUKAN SEKUTU DI AMBON
Pada mulanya, terjadi perang Pasifik, 8 Desember 1941. Saat itu di Ambon sudah ada 2.800 tentara infanteri Molukken Brigade dari KNIL. Mereka dipimpin Overstee Joseph Kapitz.
Untuk memperkuat tentara KNIL di Ambon, Angkatan Darat Australia mengirim 1.100 tentara Gull Force. Mereka dipimpin Letkol Leonard Roach, yang tiba di Ambon, 17 Desember 1941. Pasukan Ausralia terdiri dari Batalion 2/21 yang terkenal dengan nama Gull Force atau Pasukan Camar.
Setelah koloni-koloni Belanda dan Inggris di Asia dikuasai Jepang, 6 Januari 1942, Ambon menjadi sasaran berikutnya. Letkol Leonard Roach yang meminta bantuan sekutu yang lebih luas, menjadi kesal sebab Jepang makin gencar sedangkan dukungan sekutu berjalan lamban. Dalam situasi itu, pada 14 Januari 1942, ia justru digantikan oleh Letkol John Scott.
Pasukan Sekutu bermarkas di Pangkalan Angkatan Laut Halong. Mereka ditopang empat unit mobil lapis baja, satu detasemen senapan anti pesawat udara, dan empat meriam anti pesawat.
Pasukan KNIL terkonsentrasi di Passo dipimpin Mayor H. L. Tieland. Mereka mengantisipasi serangan dari Teluk Baguala. Selain itu ada beberapa detasemen kecil KNIL disebar di sebelah utara Pulau Ambon, untuk mengantisipasi pendaratan Jepang di Hitu.
Pasukan Sekutu juga menempatkan dua kompi tentara dari Batalyon 2/21 dan 300 tentara KNIL di lapangan terbang Laha, dipimpin Mayor Mark Newbury. Sedangkan Letkol Scott dan pasukan Gull Force tersebar di Gunung Nona, Amahusu, Eri, dan Latuhalat. Mereka mengantisipasi serangan dari Teluk Ambon.
PASUKAN JEPANG
Kekaisaran Jepang membentuk Gugus Tugas Angkatan Laut untuk invasi ke Ambon dipimpin Laksamana Muda Ibō Takahash. Mereka dilengkapi kapal induk Hiryū dan Sōryū, kapal penjelajah berat Nachi dan Haguro, kapal penjelajah ringan Jintsu, 15 kapal perusak, dua seaplane tender, empat kapal penyapu ranjau, empat kapal anti kapal selam, dan dua kapal patroli.
Jepang melibatkan 5.300 prajurit yakni Detasemen Itō Angkatan Darat Kekaisaran Jepang di bawah Mayjen Takeo Ito, terdiri dari Markas Besar Divisi ke-38 dan Resimen Infantri ke-228, bersama marinir dari Special Kure Landing Force ke-1″ (bagian dan dua peleton Sasebo SNLF di bawah Laksamana Muda Koichiro Hatakeyama.
SERANGAN PENDAHULUAN
PasukanJepang sudah mulai menyerang Ambon pada hari Selasa, 6 Januari 1942. Ambon diserang melalui udara oleh pesawat-pesawat tempur Jepang. Perlawanan dilakukan pesawat-pesawat Sekutu sehingga isyarat perang terbuka sudah begitu nyata.
Satu pekan kemudian, Selasa, 13 Januari, dua pesawat Buffalo dengan pilot Lettu Broers dan Sersan Blans, menyergap 10 pesawat tempur Mitsubishi A6M Zero milik Jepang. Pesawat Broers tertembak dan terbakar. Broers melompat dengan parasut, jatuh di laut dengan luka bakar serius. Pesawat Blans juga tertembak dan terbakar. Dia pun melompat dengan parasut dan jatuh di hutan dengan luka ringan.
“Blans bertarung tanpa harapan. Mereka menukik melalui formasi Jepang. Buffalo Broers ditembak dan terbakar, tetapi Broers terus bertarung dengan pesawatnya yang terbakar,” tulis Paul Andriessen dari kesaksian Hugo Hooftman sebagaimana dikutip pada situs https://www.warbirdforum.com/dutch.htm.
Meskipun serangan udara pasukan Jepang ini merupakan serangan awal, akan tetapi berhasil memporak-poranda pangkalan sekutu di Halong. Praktis, pangkalan tersebut tidak bisa digunakan sehingga ditinggalkan pada medio Januari.
PERTEMPURAN JUMAT, 30 JANUARI 1942
Inilah hari paling menentukan bagi pasukan sekutu di Ambon. Tiba-tiba saja, datanglah sekitar 1.000 anggota marinir dan angkatan darat Jepang. Mereka mendarat di Hitu Lama, Jazirah Leihitu. Saat bersamaan, ada pasukan Jepang dari Resimen 228 mendarat di Jazirah Leitimur.
Sebenarnya, pasukan sekutu sudah mengantisipasi serangan ini, namun Jepang mendapat dukungan udara, artileri laut dan medan, serta tank. Akibatnya, sisa-sisa skuadron Sekutu mundur hari itu juga meninggalkan staf darat RAAF. Sedangkan Detasemen KNIL mundur ke Paso. Pasukan darat Jepang secara mudah bergerak dari Hitu memasuki kota.
Sementara itu, pendaratan Jepang di Hutumuri dan di Batu Gong berlangsung mulus. Satu peleton KNIL bertahan di Passo untuk menahan serangan Jepang di Batugong. Sementara itu, satu peleton infantri Australia bertahan di Gunung Nona.
PERTEMPURAN SABTU, 31 JANUARI 1942
Pasukan Jepang merebut Batu Gong pada malam hari dan pada Sabtu, 31 Januari dini hari, mereka merebut Batu Gong. Konsentrasi serangan mulai menuju pertahanan Sekutu di Passo. Dalam situasi ini, Kapitz memerintahkan Kompi KNIL Ambon di Eri untuk berpindah ke Kudamati, mengantisipasi serangan Jepang yang diperkirakan bergerak ke sana.
Pada waktu tengah hari, Kapitz memindahkan pertahanan Sekutu dari Halong ke Lateri. Ternyata, Jepang sudah melakukan sabotase komunikasi. Kabel telepon sudah diputus sehingga komunikasi Kapitz dengan Scott maupun anak buahnya terputus sama sekali.
Pasukan Jepang yang bergerak dari Hitu Lama, sudah tiba di Passo dan melancarkan serangan di sana. Posisi Sekutu terjepit dari dua arah, yakni Batu Gong dan dari arah Hitu. Sekutu bingung. Sampai perang usai pun, tidak diketahui siapa mengeluarkan perintah menyerah.
Para sejarahwan hanya mencatat pengakuan Kapitz atas apa yang terjadi saat senja hari.
“Pada jam 18.00, sebuah sepeda motor dengan sespan terlihat di jalan ke barat posisi Passo, mengibarkan bendera putih dan bergerak menuju posisi pasukan Jepang. Tembakan dari batas pertahanan Passo terhenti atas perintah komandan kompi KNIL, dan prajurit diizinkan beristirahat dan makan,” tulis jurnalis Lionel Gage Wigmore yang menulis sejarah Perang Dunia II.
Meskipun tidak jelas siapa yang mengeluarkan perintah mengibarkan bendera putih. Kapitz sempat menunggu perkembangan. Jepang sendiri agar terlambat merespon bendera putih yang sudah beberapa kali bolak-balik, Kapitz memerintahkan pasukan KNIL tetap melanjutkan pertempuran. Sayangnya, Kopitz dan Tieland menemukan pasukannya sudah ditawan Jepang karena efek bendera putih tersebut. Mereka menyerah.
Jepang lantas melancarkan serangan darat ke Laha, sore itu juga. Pasukan Australia yang bertugas di timur laut lapangan terbang diserang pasukan Jepang yang lebih kuat. Australia dipukul meninggalkan Laha. Saat yang sama, Jepang juga sudah sampai ke pusat kota Ambon, dan menawan unit pertolongan medis Australia.
PERTEMPURAN MINGGU, 1 FEBRUARI 1942
Pada hari Minggu, Jepang melancarkan serangan di beberapa lokasi sekaligus. Jepang lantas menangkap Kapitz dan staf markasnya, dini hari itu juga. Kapitz sebagai tawanan menulis perintah menyerah kepada pasukan yang bertahan di Passo. Pesan tertulis itu ditujukan kepada Letkol Scott untuk menyerah.
Pada hari ini pula, satuan transportasi Australia dan pasukan KNIL yang bertahan di Kudamati diserang oleh pasukan infantri Jepang. Jepang menyerang sampai di pantai Benteng, sehingga pasukan Sekutu di Kudamati kian terdesak.
Pasukan infantri Jepang juga menyerang pasukan Australia di Amahusu. Pesawat tempur Jepang menembak area Gunung Nona dan Eri, tempat pasukan KNIL dan Australia masih bertahan.
Meskipun mendapat dukungan sejumlah besar personil KNIL yang mundur dari Passo, namun menjelang tengah malam, Scott memerintahkan pasukan Sekutu di Amahusu mundur ke Eri. Praktis Kudamati terkepung.
PERTEMPURAN SENIN, 2 FEBRUARI 1942
Kapal penyapu ranjau Jepang W-9 tenggelam akibat menabrak ranjau laut yang dipasang kapal ranjau Belanda Gouden Leeuw di Teluk Ambon. Dua kapal penyapu ranjau Jepang lainnya juga rusak akibat ranjau laut.
Di darat, pagi hari, pasukan utama Australia di Gunung Nona yang dipimpin Letnan Bill Jinkins, mundur ke Amahusu. Jinkins tidak tahu bahwa Belanda sudah menyerah. Dia tidak tahu di mana Letkol Scott dan pasukannya.
Jinkins kemudian membuat keputusan bertemu perwira senior Jepang. Ia mengibarkan bendera putih di pusat kota Ambon. Jepang memberi kesempatan Jinkins bertemu Kapitz yang sedang ditawan. Kapitz lantas menulis pesan menghimbau komandan pasukan Australia untuk menyerah. Jinkins pergi mencari Letkol Scott.
Di Laha, pasukan Jepang diperkuat. Serangan terkonsentrasi pun dimulai, termasuk artileri kapal laut, pesawat pembom tukik, pesawat pemburu dan serangan menyelidik oleh infantri. Serangan malam Jepang di dekat pantai namun dipukul mundur peleton Australia. Serangan masif Jepang dilakukan saat fajar. Sebanyak 150 prajurit Australia dan beberapa personil KNIL yang masih bertempur di Laha, diperintahkan oleh Newbury untuk menyerah.
PERTEMPURAN SELASA, 3 FEBRUARI 1942
Pagi hari, pasukan Australia di Eri mencoba menahan gempuran udara dan luat oleh Pasukan Jepang. Banyak prajurit Australia terluka, persediaan amunisi menipis, dan kelelahan telah membuat Australia kendor.
Jinkins berhasil menemui Letkol Scott. Scott memutuskanmenemui perwira Jepang dan menyerah. Posisi pasukan Sekutu di Kudamati menyerah secara terpisah saat tengah hari.
PEMBANTAIAN LAHA
Pasukan Sekutu mencatat bahwa jumlah korban jiwa prajuritnya dalam pertempuran relatif kecil. Akan tetapi, malam setelah penyerahan pasukan Sekutu, prajurit Jepang memilih lebih dari 300 tawanan perang Australia dan Belanda secara acak. Mereka dieksekusi di dekat lapangan terbang Laha.
Jepang rupanya melakukan balas dendam atas tenggelamnya kapal penyapu ranjau Jepang. Beberapa awak kapal penyapu ranjau tersebut terlibat saat eksekusi. Para korban pembantaian ini antara lain Wing Commander Edward Scott dan Major Newbury.
Sejarahwan Australian Dr Peter Stanley menyebutkan, pembantaian di Laha berada satu level di bawah pembantaian Sandakan. Tiga perempat tawanan perang Australia di Ambon tewas sebelum perang berakhir. Dari 582 yang ditawan hidup-hidup di Ambon, 405 tewas. Mereka tewas karena bekerja berlebihan, kekurangan gizi, penyakit dan penyiksaan secara terus menerus oleh prajurit-prajurit Jepang.
PENGADILAN MILITER
Pada tahun 1946, berlangsung pengadilan militer untuk kejahatan perang terbesar dalam sejarah. Sebanyak 93 prajurit Jepang diadili oleh pengadilan militer Australia di Ambon. Laksamana Muda Hatakeyama yang didapati memerintahkan pembantaian telah meninggal sebelum diseret ke pengadilan.
Komodor Kunito Hatakeyama, yang memberikan perintah langsung pembantaian tersebut, dijatuhi hukuman gantung. Letnan Kenichi Nakagawa dihukum 20 tahun penjara. Tiga perwira Jepang lainnya dieksekusi untuk perlakuan yang tidak manusiawi atas tahanan perang dan warga sipil. Jenderal Itō dihukum mati pada tahun yang sama untuk kejahatan perang yang ia lakukan di bagian lain dari Perang Dunia II.
Lima hari pertempuran, dengan hari-hari pendahuluan yang mencekam, dan hari pembantaian setelah perang yang paling brutal. Sisa-sisa pasukan Gull Force sempat melarikan diri atas bantuan penduduk Ambon dari Pantai Leahari.
(Sumber Malukupost.com: Paul Andriessen, 2006, “Brewster 339/439 in the East Indies”, Lionel Wigmore, 1957, Chapter 19 The Loss of Ambon, Australia in the War of 1939–1945, Volume IV — The Japanese Thrust 1st ed.; Canberra, Australian War Memorial, David A. Evans B, The Ambon Forward Observation Line Strategy 1941-1942A Lesson in Military Incompetence, Wikipedia,Batalyon History WWw.gullforce.org.au)
h


