Meskipun Keterbatasan Peralatan, Komunitas TULC Kini Memiliki Seratus Lebih Anggota

  • Whatsapp
Sebagian anak-anak Tual Ukulele Lovers Community seusai berlatih (foto helena fofid)

Langgur, Malukupost.com – Keinginan dan antusias anak-anak (usia SD-SMA) untuk berlatih alat musik tradisional (Ukulele) di Kota Tual dan kabupaten Maluku Tenggara (Malra) semakin tinggi.

Ini terbukti dengan berdirinya tiga komunitas ukulele di Kepulauan Kei yakni satu di Kota Tual dan dua berada di Langgur.

Di Langgur, Julia Manufury mendirikan dan membina dua komunitas yakni Tibe One Ukulele dan Kei Island Ukulele. Di Tual, ada Yani Pattinasarany membina Tual Ukulele Lovers Community (TULC).

Kepada Malukupost.com, pendiri komunitas TULC yakni Yani Pattinasarany menceritakan asal mula berdirinya komunitas tersebut.

Pendiri Komunitas Tual Ukulele Lovers Community, Yani Pattinasarany, bersama Sastrawan Rudi Fofid.

“Komunitas ini terbentuk pada tanggal 21 Januari 2021. Bermula dari kedatangan bapak Nicho Tulalessy dari Amboina Ukulele Kids Community (AUKC) dan Opa Rudi Fofid membawa satu buah ukulele dan kemudian berlanjut dengan dikirimnya beberapa buah ukulele oleh bapa Nicho Tulalessy dari Ambon sehingga jumlah ukulele yang kami punya kani lima buah. Dari situlah mulai terbentuk komunitas Tual Ukulele Lovers Community ini,” ungkapnya.

Yani yang juga sebagai pelatih menjelaskan, dengan 5 buah ukulele tersebut tentu tidak mencukupi, karena jumlah anak-anak yang mendaftar dan tergabung di komunitas melebihi jumlah dari ukulele itu sendiri.

“Jadi, waktu latihan dengan anak-anak itu lima buah ukulele itu dipakai bergantian, karena anak-anak yang datang tanpa membawa ukulele,” ujarnya.

Seiring bejalannya waktu, dengan jumlah ukulele yang terbatas, dirinya bersama anak-anak yang luar biasa antusiasnya dalam belajar ukulele tidak patah semangat.

“Hingga saat ini, jumlah anak-anak di komunitas sebanyak seratus lebih anak-anak binaan kami (saya dan isteri) disini,” imbuhnya.

Ketika ditanyakan tentang biaya pendaftaran bergabung di komunitas, dirinya menyatakan, bagi para orang tua yang ingin mendaftarkan anak-anaknya di komunitas TULC, tidak dipungut biaya apapun (gratis).

Tual Ukulele Lovers Community terbuka untuk siapa saja, tanpa memandang suku dan agama. Siapapun dia, kami menerimanya dengan hati. Yang kami butuhkan hanya semangat latihan yang tinggi dari anak-anak, tidak perlu dan tidak ada uang pendaftaran,” tandasnya.

“Kami disini melatih dan membina anak-anak dengan hati. Saya dan isteri saya sudah mengangggap anak-anak ini sebagai anak-anak kami sendiri. Mungkin dari cara kami tersebut maka mereka (anak-anak) pun merasa nyaman disini, bahkan mereka ingin berlatih terus walaupun sudah selesai jam latihan,” katanya menambahkan.

Diungkapkannya, ukulele yang ada di komunitas saat ini berjumlah 30-an, sementara anak-anak yang sekarang terdaftar di komunitas jumlahnya melebihi ukulele.

Olehnya itu, dirinya meminta kepada para orang tua agar dapat menyiapkan ukulele bagi anak-anak mereka yang ingin bergabung di komunitas ini.

“Kalau anak-anak ini punya ukulele sendiri, maka selesai latihan dia bisa bawa pulang ukulelenya dan berlatih sendiri di rumah. Itu alasannya sehingga saya bilang kepada para orang tua agar menyiapkan ukulele bagi anak-anaknya yang bergabung di komunitas ini,” tuturnya.

Dirinya juga sangat mengapresiasi dukungan dari para orang tua.

“Saya bersama isteri saya sangat mengapresiasi para orang tua yang mengizinkan anak-anak mereka untuk bergabung dan berlatih ukulele dalam komunitas ini. walupun jumlah ukulele kami punya disini tidak mencukupi, namun karena dukungan dari para orang tua maka mereka menyiapkan ukulele kepada anak-anak mereka masing-masing. Kami juga sangat mengharapkan dukungan dari para orang tua terhadap perkembangan komunitas ini kedepan,” jelasnya.

Yani juga menyampaikan terima kasih kepada teman-teman pelatih maupun pembina komunitas ukulele di dua daerah ini yang selalu membantu dan memberikan dukungan kepada komunitas Tual Ukulele Lovers Community.

Di Tual kini terdapat 111 anak dan remaja yang serius bermain ukulele namun mereka hanya punya 30-an alat musik ukulele.

Mari Bersama Kita Dukung Minat dan Bakat Anak-Anak Kei Dalam Bermusik Tradisional.

Ukulele, Beta Suka!!

Pos terkait