Lempar Mobil Bupati, Berani?

  • Whatsapp

Catatan Rudi Fofid-Tual

Lempar mobil bupati, berani?  Kedengaran seperti tantangan dan provokasi.  Bukan! Ini hanya kenangan.  Jadi, jangan lempar mobil bupati atau siapapun!  Itu tidak baik.  Nanti kena masalah hukum.   Jadi, biar dibayar, jangan mau.  Hanya dua anak  Vatdek yang pernah melakukannya.  Itupun tidak untuk ditiru.  Kisah nyata ini ditulis kembali sebagai kenangan dan edukasi semata.

Kisah ini adalah kenang-kenangan tentang dua anak nakal di Vatdek, Maluku Tenggara. Yudi dan Binsen, sama-sama usia tujuh tahun, duduk di kelas 1 SD. Selain punya hubungan saudara dari garis ibu, keduanya juga bertetangga.

Saban hari, Yudi dan Binsen pasti bersama-sama. Memang punya kelompok seusia yang lain, tetapi keduanya sudah bagai batu dan bia, tak terpisahkan.

“Yudi?” Begitulah Binsen biasa memanggil.

“Binsen?” Maka Yudi akan membalas demikian.

Saban hari, ada saja permainan Yudi dan Binsen. Kalau bukan panah ikan ken-ken dan kurkurat, keduanya bisa cari anak gurita pakai daun kecubung. Lain waktu, mereka memancing ikan lahear dan ikan lakur. Musuh mereka adalah lamud dan kawinwinit.

Kalau tidak pergi ke laut, Yudi dan Binsen membuat mobil dan perahu layar dari bahan gaba-gaba. Jika perahu sudah jadi, mereka ke laut melayarkan di Selat Rosenberg. Perahu berlayar sampai jauh ke Jembatan Usdek. Sesudah itu, keduanya mandi-mandi laut sampai lupa diri.

Bila musim bunga jambu tiba, keduanya membuat pata-pata alias loleba. Bambu diambil dari sisa bulu sero milik Opa Narwadan, Beny Yaman. Tembak-menembak pun jadi seru. Kalau bunga jambu sudah habis, mereka pakai peluru kertas dari sampah Kantor KPS dan Kantor Koperasi.

Tahun 1971, akan ada pemilihan umum yang pertama di masa orde baru. Jalan raya Tual-Langgur masih sempit. Banyak jalan belum diaspal. Kendaraan pun bisa dihitung dengan jari. Sepeda motor tidak lebih dari lima, mobil tidak lebih dari 15.

Sebelum pemilihan umum yang diikuti 10 partai (9 partai ditambah 1 golongan karya), ada pembangunan jalan aspal dari Watdek ke Langgur. Batu bertumpuk-tumpuk di sisi kiri dan kanan jalan. Drum-drum aspal sudah disebar.

Saat-saat itulah, Yudi dan Binsen sedang bermain bola-bola aspal di ujung Vatdek, antara Kantor Agama dan Lorong Pelabuhan Motor.

Dari situ, mereka melihat satu-satunya mobil muncul dari tikungan Jembatan Usdek. Mereka kenal, mobil hardtop itu milik bupati. Waktu itu, Kabupaten Maluku Tenggara dari Aru sampai Wetar, dipimpin Bupati D. C. Farfar.

Mobil sudah sampai di depan Masjid Watdek, tiba-tiba Yudi punya ide. Ide itu, muncul begitu saja ketika melihat mobil datang.

“Katorang lempar mobil bupati, mari!” Ajak Yudi.

“Mari!” Jawab Binsen senang.

Langsung saja, masing-masing orang sudah pegang dua buah batu. Dalam hitungan satu, dua, tiga, mobil sudah posisi sejajar. Empat lemparan batu diarahkan ke badan mobil. Kena!

Yudi dan Binsen senang bukan main. Keduanya tertawa riang, sambil melihat mobil menuju arah Langgur. Akan tetapi, sial! Lampu rem tiba-tiba menyala. Yudi dan Binsen sudah tahu. Itu petanda, mobil akan berhenti atau atrek (maksudnya achteruit-Belanda berarti mundur). Benar saja.

“Oto atrek. Lari, Binsen!” Seru Yudi.

Yudi dan Binsen langsung lari kaki pukul panta. Binsen melompat ke arah darat, masuk alang-alang lalu hilang di jalan kebun. Dia tahu, di Reb-Vatvahan, ibunya ada di sana.

Sampai di kebun enbal, ibu Binsen sedang cabut rumput. Binsen langsung menangis memeluk ibunya. Ibunya tidak mengerti apa yang terjadi sehingga detik itu juga, keduanya kembali ke rumah.

Bagaimana dengan Yudi? Di manakah dia? Ternyata Yudi memilih berlari ke pantai. Dia menuruni lorong, melewati rumah Tante Aki dari Abean, Keluarga Teniwut, dan Keluarga Mantri Rahail, langsung tiba di pantai.

Air sedang surut. Yudi berlari di atas meti. Sampai di rumahnya, langsung naik ke loteng, bersembunyi di bawah kolong tempat tidur.
Aman.

Pengemudi mobil bupati ternyata orang Langgur fam Renyaan. Ia mengenal Yudi dan Binsen. Dunia Tual-Langgur terlalu kecil. Semua orang bersaudara, satu kenal satu. Maka tidak ada tempat bersembunyi bagi Yudi.

Pengemudi Renyaan atrek sampai di muka Toko Vatdek, Ongko Ahong. Di sana, Ayah Yudi sedang bercakap-cakap dengan Soa Vatdek. Om Renyaan memberi tahu kelakuan Yudi dan Binsen. Dia merinci, ada satu batu kerikil masuk di dalam mobil, kena di Ibu Farfar.

“Untung hanya pantulan, bukan lemparan langsung,” jelas Om Renyaan.

Ayah Yudi minta maaf kepada Om Renyaan dan Ibu Farfar. Saat itu, tidak ada bupati di dalam mobil. Persoalan beres.

Sampai berapa lama Yudi sembunyi di kolong ranjang? Ternyata tidak lama. Ayahnya kembali ke rumah, langsung memanggil-manggil namanya. Panggilan pertama, Yudi diam. Panggilan kedua, Yudi diam. Panggilan ketiga, Yudi menyerah. Dia keluar dari persembunyian dan langsung menangis.

Sang ayah memegang dada Yudi. Detak jantungnya agak kencang. Mungkin tagal itu, ayahnya tidak marah.

“Jangan menangis, papa tidak marah. Lain kali, jangan lempar mobil lagi. Janji?” Bujuk ayahnya. Yudi hanya mengangguk.

“Jangan keluar rumah dulu. Lebih baik kau tidur,” kata Ayah Yudi
lagi, lalu pergi.

Yudi tidak tidur. Dari dalam, dia mendengar Ibu Binsen menceritakan kejadian di kebun Reb-Vatvahan. Mereka tertawa-tawa.

Yudi pun keluar, ia melihat Binsen ada di depan rumahnya.

“Binsen!” Yudi memanggil. Binsen pun datang. Keduanya tertawa, lalu sama-sama menceritakan pengalaman terpisah mencari keselamatan sendiri-sendiri, sekitar setengah jam sebelumnya.

Peristiwa ini sudah 50 tahun berlalu (1971-2021). Di manakah Binsen dan Yudi. Binsen dan Yudi, adalah dua nama yang mereka ciptakan sendiri sejak masih taman kanak-kanak. Yudi kesulitan mengucapkan nama asli Vincent Narwadan. Jadi, dia panggil Binsen saja supaya gampang di lidah. Namun Binsen juga kesulitan menyebut nama Rudi Fofid. Jadilah begitu dia panggil Yudi. Binsen kemudian menjadi pelaut, Yudi menjadi jurnalis.

Saya Yudi, berbahagia menulis ini, sebagai pengakuan terbuka di Malam Lebaran. Dari lubuk hati paling dalam, atas nama Yudi dan Binsen, saya mendoakan jiwa Bapak D.C. Farfar, jiwa Ibu Farfar dan jiwa sahabat saya Rudy Farfar. Semoga mereka tenang di surga baka.

Melalui Kaka Argonex Farfar, Pak Nick Farfar, Pak Hein Farfar, Adik Harry Farfar, Usi Sarah Farfar, dan semua keluarga besar Farfar, dengan ini Yudi bersama Binsen, memohon maaf atas kenakalan masa kecil kami. Beruntung, waktu itu, kami melempar pakai batu kerikil saja, bukan batu mangga. Mohon maaf lahir batin. Salam damai!

Tanah Kei, 12 Mei 2021

Penulis Redaktur Pelaksana Media Berita Maluku Post

Pos terkait