Pergolakan Calon Kepo Ohoi Rahareng Atas Berujung Sumpah Adat Oleh Foor Ubtel Dan Riin Kot

  • Whatsapp

Langgur, Malukupost.com – Pergolakan calon Kepala Ohoi (Kepo) Rahareng, Kabupaten Maluku Tenggara Atas berujung Sumpah Adat, oleh Foor Ubtel dan Riin Kot di Vat Larwul Un (Pusat Hukum Larwul) pada Ohoi setempat kamis (27/05/2021).

Melkianus Meek, yang disebut dengan istilah suku Kei sebagai Mitu Duan, (Pemimpin Upacara-Upacara Adat/Pemimpin Doa Persembahan) pada Ohoi tersebut, kepada Malukupost.com mengaku telah melaksanakan prosesi sumpah Adat atas pergolakan calon kepo di Ohoi (Desa) itu.

“Prosesi sumpah adat ini perlu untuk dilakukan agar kita tau benar, siapa yang benar-benar mempunyai hak atas kepemimpinan Kepala Ohoi dan juga merupakan Riin Kot atau Mata Rumah garis lurus di Ohoi Rahareng Atas ini.” ujar Meek dengan ekspresi penuh kesedihan

 

 

Meek menegaskan, prosesi dan pengusulan Calon Kepala Ohoi di tempatnya itu, dinilai tidak sesuai dengan garis lurus sebenarnya, sehingga kami beberapa Marga yang tergabung dalam Foor Ubtel bersama Riin Kot, harus meluruskan permasalahan tersebut dengan melakukan sumpah Adat.

“Hal ini bertujuan agar kita tau betul siapa yang benar pemilik hak sebenarnya, dan tidak memiliki hak, saya sangat meyakini bahwa semuanya akan terjawab, setelah dilakukan sumpah Adat yang merupakan sebuah prosesi kesakralan bagi kami di Nuhu Evav ini.” katanya

Meek menandaskan itu semua, telah tercantum didallam Hukum Adat Larwul Ngabal pada Pasal 7. dimana ada 7 Pasal dalam Hukum Adat Larwul Ngabal, Hukum Larwul menempati Pasal 1 sampai dengan 4, dan untuk Hukum Ngabal berada pada Pasal 5 sampai 7.

“Pada Pasal 7 hukum Adat Larwul Ngabal telah disebutkan dengan Bahasa Suku Kei, yakni : hira i ni fo i ni, it did fo it did. yang artinya milik orang tetap milik mereka, milik kita tetap milik kita.” jelasnya

Meek menuturkan, Proses penolakan Roni Ohoiner sebagai Kepala Ohoi Rahareng Atas sudah dilakukan dari Riin Kot dan beberapa marga sejak Tahun 2012, namun hal tersebut tidak digubris dan direspons dengan baik oleh Kepala Daerah, Raja maupun pihak Kecamatan setempat pada saat itu, bahkan Roni Ohoiner pernah dilantik menjadi Kepala Ohoi Rahareng atas pada tahun 2014 lalu.

“Untuk itu lewat Pemerintahan yang dipimpin oleh Bupati Maluku Tenggara Mohamad Thaher Hanubun ini, kami beberapa Marga yang tergabung dalam Foor Ubtel bersama dengan Riin Kot (Mata Rumah) Renhoran Ohoitawun, meminta agar dapat meluruskan kembali dan mengembalikan hak sebenarnya dari Riin Kot di Ohoi Rahareng Atas.” tuturnya

Meek berharap, Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara dapat menjaga dan memikul semua kepentingan Ohoi berdasarkan dengan Hukum Adatnya, seperti filosofi tua-tua suku Kei yaitu, Itwarnon afa ohoi nuhu enhov ni hukum adat.

“Sehingga pelantikan Kepala Ohoi Rahareng Atas pada nantinya, berdasarkan calon yang kami usulkan, bukan berdasarkan Calon yang diusulkan atas nama Roni Ohoiner. dan apabila ada pihak-pihak yang masih meragukan dengan kebenaran ini, kami bersedia siap melakukan Sumpah Adat bersama, demi kehormatan leluhur.” pungkasnya

Pos terkait