Renhoran: Masyarakat Harus Paham Benar Tentang Pembangunan Keluarga

  • Whatsapp
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Maluku Tenggara (Malra), Drs. Thalib Renhoran.

Langgur, Malukupost.com – Program Bangga Kencana (Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana merupakan salah satu program Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Kepada Malukupost.com di Langgur, Kamis (24/6/2021), Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB) Kabupaten Maluku Tenggara (Malra), Thalib Renhoran membenarkan hal tersebut.

Tujuannya adalah untuk mengarahkan agar keluarga mempunyai rencana berkeluarga, punya anak, pendidikan dan sebagainya sehingga akan terbentuk keluarga-keluarga berkualitas.

“Bangga Kencana merupakan program nasional dari BKKBN RI, kemudian lewat perwakilan BKKBN di tingkat provinsi dan di kabupaten/kota yakni Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana,” ujarnya.

Dengan demikian, dapat memberikan sebuah pemahaman kepada masyaaat bahwa ternyata program keluarga berencana bukan hanya mengurusi alat KB atau pemakaian alat kontrasepsi. Tetapi yang lebih penting adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang bagaimana membangun keluarga termasuk merencanakan jumlah anak dalam keluarga,” katanya.

Renhoran mengungkapkan, pemerintah menginginkan kualitas keluarga itu berapapun jumlah anak, namun anak wajib mendapatkan pendidikan yang layak secara berjenjang dari TK hingga perguruan tinggi, pengetahuan umum dan anak juga berhak mendapatkan pelayanan pendidikan agama secara baik berdasarkan ajaran agama yang dianut.

“Tujuannya yang sudah saya bilang tadi, karena hingga saat ini orang menganggap pembangunan keluarga itu hal yang mudah layaknya bangun sarana infrastruktur atau lainnya. Misalnya di hari Minggu, bagaimana anak itu tanpa disuruh oleh orang tua, dia harus menyiapkan diri pergi ke gereja. Begitu pula yang Muslim di hari Jumat, sudah tahu bahwa jam Sholat tanpa disuruh anak itu harus sudah siap ke masjid,” tuturnya

Renhoran menegaskan, membangun keluarga seperti contoh tersebut diatas membutuhkan waktur (proses) yang cukup lama, dan kami di dinas ini yang seringkali datang memberikan sosialisasi dari aspek fungsi keluarga, agama, adat-budaya, lingkungan dan sebagainya.

“Jadi, masyarakat harus paham benar tentang pembangunan keluarga,” tandasnya.

 

Pos terkait