Mari Rawat Organ Seks Wisatawan Di Kakus

  • Whatsapp

Catatan Rudi Fofid-Ambon

Pariwisata dimulai dari mana?  Keindahan alam?  Kalau hanya keindahan alam, maka tanah tandus, stepa, sabana, tundra, hamparan salju, semuanya adalah keindahan natural.  Surga bagi fotografi.

Keindahan alam adalah modal, tetapi bukan segala-galanya.  Ada apa di keindahan itu?  Percuma saja keindahan natural jika sedang foto-foto, datanglah orang dengan parang atau tombak, bawa anjing galak, dan wajah marah, karena wisatawan masuk tidak melalui pintu utama dan belum bayar karcis.  Di keindahan itu, harus ada keamanan, dan keramahan.  Jangan sampai wisatawan mengalami situasi horor, baik oleh manusia, hewan, atau kondisi alam yang mengancam.

Keindahan dan keamanan sudah cukupkah?  Tentu belum.  Wisatawan sedang duduk bersama keluarga atau pasangan,  tiba-tiba ada orang mabuk mendekat, mengajak bicara,  minta foto, ingin memeluk.  Ini sungguh tidak nyaman walau seakan-akan ramah.

Kuliner tradisional  adalah sebuah pesona.  Makanan selalu menyuguhkan sensasi.  Akan tetapi, kuliner bukan sekadar bahan makanan melainkan jasa menghidangkan makanan.  Sebagian wisatawan akan merasa tidak sreg dengan makanan yang masuk ke mulutnya,  ditangani orang lain dengan jari-jari telanjang, bekas kunyit, panjang kuku, apalagi kuku kotor, apalagi sambil flu, batuk-batuk pilek.

Kuliner sebaiknya ditangani oleh orang dengan penampilan bersih fisik, jemarinya mengenakan sarung khusus, mulutnya pakai masker walau bukan pandemi covid,  rambut tidak berantakan, dengan busana yang juga necis bersih.  Tidak usah busana mahal, tidak usah ke salon kecantikan.  Biarlah dengan kecantikan natural, yang penting benar-benar bersih dari ujung kaki sampai ujung rambut.

Untuk kuliner, sebaiknya tidak pakai bumbu penyedap rasa kimiawi.  Ada banyak orang yang sangat menjaga kesehatannya, dan sangat sensitif.  Meskipun semua syarat kuliner sudah terpenuhi, tetapi ketika sampai di lidah tercicip penyedap rasa pabrikan,  lunturlah seleranya.

Kalau sudah selesai makan di tempat yang indah, aman, nyaman,  biasanya siapapun tidak bisa menghindar untuk harus ke toilet untuk pup atau pis.  Pup dan pis melibatkan organ tubuh paling personal yakni bagian ujung saluran kencing dan bagian ujung saluran pencernaan.  Dubur dan mulut kemaluan, bagian personal yang tersembunyi, terjaga, terlindungi.  Tertutup oleh busana secara berlapirs, dan berada di sudut yang diapit oleh pangkal paha yang kuat.   Ini maha karya Sang Khalik.  Ia tidak menempatkan dubur dan mulut kemaluan di ujung jempol atau dagu.  Ia menempatkannya di posisi yang sangat unik.

Dalam Islam, hal-hal begini ada hukumnya.  Bagaimana berada di dalam kakus, kebersihan seperti apa yang harus dijaga, ada aturannya supaya terhindar dari hal-hal najis.  Selain itu,  tentu menyangkut kesehatan.   Bagian genital yang penuh dengan kumpulan ujung saraf yang lembut, kulit ari yang tipis dan sensitif, perlu diperlakukan secara sangat istimewa melebihi wajah dan anggota tubuh lainnya.

Bagian genital yang sungguh personal ini, sangat dijaga oleh setiap orang.  Bahkan, hukum adat, hukum agama, dan hukum negara,  melindungi bagian ini.  Ada orang belajar tinggi-tinggi untuk menjadi ahli di bagian ini.  Tugas pengelola pariwisata adalah menjaga dan merawat jangan sampai organ seks para wisatawan menjadi kotor, tertular mikroorganisme berbahaya, sehingga mereka pulang ke rumah membawa penyakit kulit dan kelamin hanya karena kakus jorok.

Maka itu, kakus di lokasi wisata haruslah kakus yang paripurna.   Orang akan merasa aman, nyaman, dan damai di dalam kakus.  Sungguh indah jika toilet terdiri dari hanya bak mandi saja, dan di sebelah bilik yang lain hanya toilet untuk pup dan pis saja.  Jangan digabung.   Nah, di toilet, untuk pup, sebaiknya ada jambang duduk dan jongkok secara terpisah juga.  Mengapa?  Ada orang merasa nyaman di jambang duduk, dan ada  yang nyaman di jambang jongkok.  Mungkin anda pernah masuk toilet, melihat bekas sepatu di atas jambang duduk.  Itu bukan karena orang tidak paham.  Itu karena keraguan orang meletakkan bagian tubuhnya yang sensitif, bersentuhan langsung dengan permukaan jamban yang diragukan kebersihannya.

Kakus ini gampang-gampang susah.  Ruang kecil, tetapi syaratnya sangat banyak.  Kakus itu harus benar-benar bersih,  tidak bau hosi, pesing.  Tidak ada sampah plastik, kertas tisu di lantai.  Tidak ada air genangan di lantai kakus.  Bahkan, pada toilet dengan keramik putih bersih sekalipun, tetapi jika dalam keadaan basah (tanpa genangan),  itu pun sebuah masalah.  Lantai basah tetaplah juruk walau dipandang bersih saja.

Di dalam kakus, sebaiknya airnya adalah air mengalir.  Ada kran, ada selang,  dan air yang memancar kencang.  Jangan air yang layu, air yang mati-mati ayam.   Semua air yang tersimpan di dalam wadah tergenang, masih diragukan kebersihannya.  Air dalam ember, air dalam bak, ada lumut, gaung berlumut, licin, berlendir,  adalah jorok.  Bak penampung air untuk cebok dengan dinding bak hijau hitam, adalah kengerian bagi dubur dan bibir kemaluan.  Tolong!

Tragedi kakus paling pedih adalah, bangunan kakus ada, bisa digunakan, tetapi tidak ada air.  Sudah begitu, pernah ada orang pup di situ, dan tidak disiram.  Bahkan, ada tinja lama dan tinja baru baku tindis.  Semoga seluruh asset wisata terhindar dari tragedi ini.

Jadi, mumpung pandemi covid masih merajalela, wisatawan belum membludak, mari benahi lokasi-lokasi wisata.  Membuat huruf balok besar tentang nama kampong dan nama pantai untuk sensasi swafoto, itu boleh-boleh saja.  Akan tetapi, mari memulai benahi lokasi wisata kita dari kakus.  Jadikan kakus sebagai serambi depan.   Biarlah kalau orang masuk ke kakus, dia merasa ada di ruang pribadinya yang intim, dan terasa ingin berlama-lama di situ.

Jadi, kakus bersih itu bagaimana?  Gampang.  Bawalah sepiring makanan kesukaan.  Pergilah ke kakus.  Makanlah di situ.  Jika kakus itu bersih, anda pasti bisa makan dengan aman dan nyaman, karena kakus begitu bersih seperti ranjang dan meja makan.

Sebuah hotel di Latuhalat, namanya Hotel Lelissa.  Hotel ini dulu dibangun oleh keluarga Leo Lopulissa, mantan Dubes RI di Manila, era Presiden Soeharto dan Presiden Marcos.  Seorang perempuan Ambon yang cantik, necis, berwibawa, lembut, ikut menata, dan merawat hotel ini.  Namanya Wanda Latumahina.  Saat itu, Hotel Lelissa mendapat penghargaan nasional untuk toilet terbersih di kelasnya.

Penghargaan ini sungguh bergengsi, sebab ia mencerminkan budaya bersih orang Maluku atau orang Ambon.  Bahkan, boleh jadi, penghargaan toilet terbersih di Indonesia untuk Hotel Lelissa, lebih bergengsi dari pada Adipura yang pura-pura.

“Ketika saya jadi bupati, dorang minta bayar sekian untuk terima adipura.  Tetapi saya tidak mau.  Kita tidak dapat adipura juga tidak apa-apa , yang penting, kita bersih,” kata seorang mantan bupati di Maluku kepada saya di Ambon,  dua pekan lalu.

Jadi,  mari bangun, bangkit, berdiri, beranjak.  Benahi pariwisata mulai dari kakus.  Mengapa?  Dengan membangun sarana toilet yang bersih paripurna, kita sedang melayani ruang privat bagi organ genital yang suci.  Dengan membangun sarana toilet yang baik, kita mendukung wisatawan melakukan ibadah, jauh dari hal-hal najis yang membatalkan ibadah.

Benahi kakus dulu, setelah itu kita bisa diskusi lebih tenang dan damai, bahwa di kampung-kampung non Muslim seperti Latuhalat, Amahusu, Ngilngof, maukah kampong-kampung itu menyediakan ruang khusus untuk wisatawan yang hendak mendirikan salat.  Di kampong Kristen, apakah jika ada musala itu masalah?  Jangan jawab sekarang.  Benahi kakus dulu, semoga semua organ seks wisatawan dan kita semua senantiasa terjaga demi kemakmuran bersama.

Tanat Yabun, 2 Juli 2021

Penulis adalah Redaktur Pelaksana Malukupost.com

Pos terkait