CPNS Di Malra Ini Ciptakan Aplikasi Sederhana Input Database Stunting Malra

  • Whatsapp
Yuliana Yablain, SE.MM, saat menyampaikan Aktualisasi Latsarnya di hadapan Tim Konvergensi Stunting Malra, Senin (13/9/2021).

Langgur, MalukuPost.com – Salah satu syarat bagi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) yakni melaksanakan Pelatihan Dasar (Latsar).

Latsar dengan tujuan untuk mengembangkan kompetensi yang dilakukan secara terintegrasi tersebut berlaku untuk semua CPNS, termasuk di Kabupaten Maluku Tenggara (Malra) Provinsi Maluku.

Adalah Yuliana Yablain, SE.MM (yang akrab dipanggil Yuli), salah satu CPNS Malra yang juga turut dalam Latsar dimaksud.

Aktualisasi Latsarnya dengan judul Percepatan Penurunan Stunting Berbasis Gizi Sensitif di Kabupaten Maluku Tenggara dengan melakukan Publikasi Database Stunting Gizi Sensitif, disampaikannya di hadapan Tim Konvergensi Stunting Malra, Senin (13/9/2021).

Rapat Evaluasi Program dan Kegiatan Serta Penyampaian Data Gizi Sensitif Lintas OPD tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Bappelitbangda Malra.

Yuli menjelaskan, dalam upaya percepatan penurunan stunting dengan target nasional yaitu pada tahun 2024 sebesar 14 %, diharapkan Tim Konvergensi melakukan intervensi terhadap Balita Stunting.

Untuk melakukan intervensi dimaksud dibutuhkan dukungan data, baik itu data gizi spesifik maupun data gizi sensitif

Data gizi spesifik itu sendiri disiapkan oleh dinas kesehatan, dimana balita dilakukan pengukuran dan penimbangan, sehingga balita tersebut ditentukan apakah masuk dalam balita stunting atau tidak. Sedangkan data gizi sensitif dibuat oleh Non Kesehatan, yang kemudian akan diintervensi oleh Tim Konvergensi dari dinas teknis.

Diungkapkannya, dengan dukungan dari kepala badan dan kepala bidang pada Bappelitbangda Malra, dirinya telah menentukan beberapa indikator untuk melakukan survei.

Sejumlah indikator yang digunakan dalam survei dimaksud terdiri dari indikator akses air bersih, kepemilikan jamban, kondisi material atap, kondisi material lantai, kondisi material dinding, kepemilikan akte kelahiran balita, penggunaan/pemakaian alat KB, pemberian makanan tambahan, pemberian ASI, imunisasi dasar lengkap, akses pelayanan kesehatan, status kepemlikan JKN/Jamkesda Balita, penerima bantuan PKH dan BPNT, keikutsertaan pendidikan pra sekolah, akses pelayanan pendidikan, serta apakah terdapat kawasan rumah pangan lestari (KRPL) di desa/ohoi.

“Survei ini dilakukan pada 8 (delapan) ohoi (desa) lokus stunting yang tersebar pada tiga kecamatan yakni Kei Besar Utara Barat, Kei Besar Utara Timur serta Kei Besar Selatan Barat sesuai SK Bupati Malra Nomor 684 Tahun 2021. Dan dalam melakukan survei ini, saya menggunakan data dari dinas kesehatan (data balita stunting triwulan kedua tahun 2021) sebanyak 136 balita stunting yang tersebar pada 8 ohoi lokus,” tandasnya.

Untuk kecamatan Kei Besar Utara Barat, ohoi Ad Wearaur jumlah balita stunting 13, yang disurvei 13; ohoi Hoor Islam balita stuntingnya 13, yang disurvei 13; sementara ohoi Mun Ohoiir balita stunting berjumlah 47 dan yang disurvei 42 ( 5 balita tidak berada di tempat).

Kecamatan Kei Besar Utara Timur, pada ohoi Fanwav balita stuntingnya berjumlah 10, yang disurvei 10; ohoi Banda Suku-30 jumlah balita stuntingnya 15 yang disurvei 13 (1 balita tidak berada di tempat); sementara ohoi Ohoifauw jumlah balita stunting sama dengan jumlah yang disurvei yakni 13.

Pada kecamatan Kei Besar Selatan Barat, di ohoi Uat jumlah balita stunting 12, dan yang disurvei sebanyak 11 balita (sesuai data posyandu setempat, 1 balita tidak termask stunting); sementara di ohoi Hako jumlah balita stuntingnya sama dengan jumlah yang disurvei yakni 13.

“Sesuai data balita stunting ohoi lokus, jumlah total balita stunting di tiga kecamatan itu yakni 136, sementara yang kami survei di lapangan adalah 129 balita karena ada beberapa balita mengikuti orang tua keluar kota,” imbuhnya.

Selanjutnya, ia merancang sebuah database untuk penginputan semua data hasil survei, dimana pada database tersebut ditampilkan pula semua indikator-indikator yang digunakan saat pelaksanaan survei.

Dalam mendukung penginputan data, Yuli juga telah menyiapkan aplikasi sederhana (Microsoft Office Excell) yang nanti akan digunakan sebagai database di Bappelitbangda Malra.

“Ini adalah sebuah database sederhana yang kami rancang menggunakan aplikasi Excell, dimana hasil surveinya akan kami input berdasarkan by name by adress dengan masing-masing indikator,” bebernya.

Untuk diketahui, data hasil survei (by name by adress) tersebut akan disampaikan kepada seluruh OPD sebagai panduan pada saat melakukan intervensi data gizi spesifik dan gizi sensitif.

Selain itu, aplikasi tersebut akan dikembangkan di 11 kecamatan dalam wilayah Kabupaten Maluku Tenggara.

Pos terkait