Ganjalan Kapitan Joncker Menjadi Pahlawan Nasional Indonesia – Bagian (1)

  • Whatsapp

Oleh :
Hendry Reinhard Apituley, SH., MH.

Kapitan Joncker adalah tokoh ‘manusia setengah dewa’ yang dapat ditemukan dalam tuturan rakyat Maluku. Meski demikian, kisah tentang Kapitan Joncker ini tidak dapat dipandang sebagai suatu dongeng, tetapi lebih sebagai suatu mitos (Palmquis, Stephen (2002) Pohon Filsafat, The Tree of Philosophy. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, h. 27). Francois Valentijn (1666-1727), Mr. Jacob Anne van der Chijs, dan Dr. Frederik de Haan, adalah para penulis bangsa Belanda yang telah berjasa besar dalam memisahkan apa yang merupakan ‘cerita dongeng’, dan apa yang merupakan ‘kebenaran sejarah’ dari diri seorang Kapitan Joncker (Nanulaitta, I. O. (1966) Timbulnya Militerisme Ambon Sebagai Suatu Persoalan Politik, Sosial – Ekonomis. Jakarta: Perusahaan Negara (PN) Percetakan Negara, h. 91).

F. Valentijn hidup ‘hampir’ sezaman dengan Kapitan Joncker. Sedangkan Mr. J. A. van der Chijs adalah Kepala ‘Arsip Negara’ (Landarchief) pertama yang memegang jabatan tersebut dari tahun 1892 hingga tahun 1905. Van der Chijs kemudian digantikan oleh Dr. F. de Haan, yang memangku jabatan ‘kepala Arsip Negara’ (Landarchivaris) dari tahun 1905 hingga tahun 1922.

Nama Joncker ditemukan dalam Dokumen-dokumen, Dagregisters maupun Resolutiens. Dalam suatu akta tanggal 22 November 1664, tertulis nama, Joncker Jouwa de Manipa. Akta ini menunjukkan bahwa, Kapitan Joncker berasal dari pulau Manipa, Maluku. Dalam hubungan dengan perihal ini, Kapitan Joncker adalah suatu istilah untuk menyebut seseorang yang bernama, Achmad Salehua (Nanulaitta, 1966: 91).

Nama ‘Joncker’ itu sendiri kemungkinan besar adalah suatu istilah yang berasal dari kata dalam bahasa Belanda, Jonkheer, yang berarti sebagai, Tuan (Muda). Dalam dialek orang Maluku, Jonkheer diucapkan sebagai, Yongker. Ucapan Yongker tersebut, dalam ejaan bahasa Indonesia yang belum disempurnakan ditulis sebagai, Jongker. Bernard Hubertus Maria Vlekke dalam halaman 189 dari buku dibawah judul, Nusantara, Sejarah Indonesia, yang diterbitkan di Jakarta pada tahun 2010 oleh penerbit ‘Kepustakaan Populer Gramedia’ (KPG) bekerjasama dengan Freedom Institute, Joncker ditulis dengan nama, Jonker. Nama Jonker ini, juga digunakan untuk menyebut Joncker oleh M. C. Ricklefs, sebagaimana dapat ditemukan dalam halaman 184 dari buku dibawah judul, Sejarah Indonesia Modern, 1200-2008, yang diterbitkan di Jakarta pada tahun 2008 oleh Penerbit Serambi. Demikian pula dengan I. O. Nanulaitta (1966: 90-111), yang menggunakan nama Jonker untuk menyebut Joncker.

Sementara itu, Sir Thomas Stamford Bingley Raffles dalam halaman 524 dan 525 dari buku dibawah judul, The History of Java, yang diterbitkan di Jogjakarta pada tahun 2008 oleh penerbit Narasi, Joncker ditulis dengan nama, Jengker. Sir Th. S. B. Raffles (1781-1826) adalah seorang negarawan berkebangsaan Inggris yang memegang jabatan Letnan Gubernur di Hindia- Belanda dari tahun 1811 hingga tahun 1816, ketika Kerajaan Inggris menguasai wilayah Hindia- Belanda selama kurang lebih 5 tahun (1811-1816). Sedangkan pada ‘batu nisan’ di makam Kapitan Joncker di kawasan Pejongkeran, wilayah Marunda, Jakarta Utara, Joncker ditulis dengan nama: “Yonker”.

Achmad Salehua adalah anak dari Kawasa Salehua yang diberi gelar ‘Sangadji’ (Raja) oleh‘Hamzah’ (Sultan Ternate), ketika ‘Sang Sultan’ sedang berada di Tumalehu, Pulau Manipa, Maluku, pada tahun 1638. Sangadji Kawasa Salehua kemudian lebih sering disapa dengan nama Sangadji Kawasa, sehingga mempengaruhi juga sapaan untuk anaknya Achmad Salehua. Pada akhirnya, Achmad Salehua lebih sering disapa dengan nama Achmad ‘Sangadji’, yang berarti sebagai, Achmad anak ‘Raja’ (Kawasa Salehua).

Achmad Sangadji alias Kapitan Joncker dilahirkan pada tahun 1620, di Tumalehu, pulau Manipa, Maluku. Kapitan Joncker tumbuh menjadi dewasa dalam lingkungan peperangan rakyat Maluku melawan ‘Persatuan Perusahaan Hindia-Timur’ (Vereenigde – Nederlandsche Geoctrooyeerde – OostIndische Compagnie’ (VOC)) yang didirikan atas prakarsa dari Johand van Oldenbamevelt dan Staten Generaal pada tanggal 20 Maret 1602, dengan tokoh kunci ‘Dewan tujuh belas’ (Heeren XVII). Dimana pada tahun 1669, Penguasa VOC telah memiliki 150 kapal dagang, 40 kapal perang, 50.000 pegawai, dan 10.000 tentara bayaran (Watubun, Komarudin (2017) Maluku ‘Staging Point’ RI Abad 21. Jakarta: Yayasan Taman Pustaka, h. 296). Peperangan yang berlangsung dari tahun 1616 hingga tahun 1656 tersebut, tidak hanya dipenuhi oleh peristiwa- peristiwa kepahlawanan, tetapi juga diwarnai dengan intrik, dan peristiwa-peristiwa pengkhianatan (Nanulaitta, 1966: 58-89).

Semua peristiwa tersebut di atas, dialami juga oleh Kapitan Joncker yang turut terlibat dalam peperangan tersebut. Selain memiliki ‘pengalaman tempur’ disamping ayahnya, Kapitan Joncker juga memiliki ‘pengalaman negosiasi’ sebagai seorang negosiator dalam suatu misi politik/diplomatik ke Makasar, Sulawesi Selatan, bersama dengan ‘Kimelaha Madrija’ (Penguasa Hoamoal Belakang pada saat itu) untuk meminta kesultanan-kesultanan di Makasar membantu ‘ayahnya’ (Sangadji Kawasa) melawan Penguasa VOC. Misi tersebut berlangsung dengan sukses (Juli 1652 – Juni 1653), sehingga berhasil mandatangkan bala bantuan sejumlah kurang lebih 9.413 orang prajurit banyaknya dari ‘Makasar’ (Kesultanan Gowa dan Kesultanan Tallo) yang mendarat di pulau Manipa pada bulan Oktober tahun 1653 (Nanulaitta, 1966: 84-86). Nanulaitta (1966: 89) mengemukakan, bahwa: “Seabad lamanya berperang, merupakan ‘lahan subur’ (voedings bodem) yang baik bagi perkembangan militerisme Ambon”.

Namun demikian, pada awal tahun 1654, Arnold de Vlamingh van Oudtshoorn (Gubernur VOC di Maluku, dan ‘Panglima Tertinggi’ (Superintendent) VOC di bagian Timur ‘Kepulauan India’ (Indian Archipelago)) menyerang pulau Manipa dan menahan Putera-putera Orang Kaya serta Sangadji Kawasa maupun keluarganya. de Vlamingh kemudian membawa mereka semua sebagai tawanan dan ditempatkan di kawasan Batumerah, pulau Ambon, Maluku, serta diperlakukan seperti budak. Ketika itu, Joan Maetsuycker (1606-1678) menjadi Gubernur Jenderal VOC di ‘Kepulauan India’ (Indian Archipelago) (1653-1678). Kepulauan India (Indian Archipelago) itu sendiri adalah salah satu dari beberapa istilah yang digunakan sebagai nama untuk menyebut ‘pulau-pulau yang terhapar di permukaan samudera India bagian timur’, sebab istilah Hindia-Belanda belum ada pada saat itu sampai/dengan tahun 1800 (Elson, Robert Edward (2009) The Idea of Indonesia, Sejarah Pemikiran Dan Gagasan. Jakarta: Serambi, h. 2).

Kemudian pada tanggal 3 Maret 1656, de Vlamingh melakukan pengosongan atas Jazirah Hoamoal – termasuk pulau Manipa – dengan cara melakukan ‘deportasi’ terhadap sejumlah kurang lebih 12.000 orang banyaknya. Pada tanggal 6 Maret 1656, ‘exodus’ itu dimulai. Jazirah Hoamoal yang telah dikosongkan itu, kemudian ditempati oleh orang-orang dari Jazirah Lease. Sedangkan orang-orang dari pulau-pulau Kelang, Buano, dan Ambalau, dipindahkan ke pulau Manipa yang telah dikosongkan sebelumnya (Nanulaitta, 1966: 87).

Pada bulan April tahun 1656 di Ambon, Maluku, de Vlamingh membentuk satu kompi tentara yang berjumlah sebanyak kurang lebih 100 orang, dengan ‘Kapten Tahalele’ (Raja Luhu) sebagai Komandan Kompi. Dalam kompi ini, terdapat satu peleton tentara yang beranggotakan 30 orang, yang direkrut sendiri oleh de Vlamingh di pulau Manipa. Kapitan Joncker yang pada saat itu berusia 36 tahun, adalah salah seorang anggota Kompi tersebut, dengan pangkat ‘Letnan Muda’ (Vaandrig) (Nanulaitta, 1966: 93; Matanasi, Petrik (2016) Hikayat Kapiten Jonker. Jakarta: tirto.id, h. 2).

Indra J. Piliang, dalam halaman 4 dari tulisan dibawah judul, Liberasi dan Perang Bandar Pariaman, mengemukakan bahwa, Kompi Ambon mengandalkan senjata parang, ‘perisai’ (salawaku), dan tombak, untuk pertempuran jarak dekat. Sementara itu, I. O. Nanulaitta (1966: 93) menyatakan, bahwa: “Inilah kompi yang pertama-tama dalam sejarah militerisme Ambon”.
Pertempuran melawan orang-orang ‘Amarasi’ (sebelah barat dari pulau Timor bagian selatan) yang dibantu oleh orang-orang Portugis pada tahun 1656, merupakan operasi militer pertama yang dilakoni oleh Kapitan Joncker bersama dengan Kompi Ambon (Nanulaitta, 1966: 94).

Penguasa VOC kemudian melibatkan kompi Ambon dalam berbagai ekspedisi militer di seluruh wilayah Kepulauan India, bahkan sampai ke daratan India dan daratan ‘Srilanka’ (Ceylon). Dalam suatu serangan di Srilanka/Ceylon untuk merebut kota Jaffnapatnam (6 Juni 1658 – 23 Juni 1658) dari orang-orang Portugis, tangan kiri Kapitan Joncker terkena tembakan. Meskipun kota tersebut berhasil direbut, tetapi tangan kiri Kapitan Joncker mengalami cacat permanen dan tidak dapat berfungsi lagi sejak saat itu (Nanulaitta, 1966: 94).

Namun pada saat itu pula, Kapitan Joncker telah menyandang tanda pangkat ‘Kapten’ (Kapitein (Bahasa Belanda) atau Kapitan (Bahasa Spanyol)), dan menjadi Komandan Kompi Ambon menggantikan Kapten Tahalele. Penguasa VOC kemudian memberikan ganti rugi kepada Kapitan Joncker uang sejumlah 50 real, setelah Kapitan Joncker menghadap ‘Dewan Hindia’ (Raad van Indie) dan menyerahkan suatu permohonan tertulis kepada Rijklof van Goens untuk mendapat ganti rugi atas tangannya yang telah cacat itu (Nanulaitta, 1966: 95).

Dalam bulan Januari tahun 1672, Kapitan Joncker menerima penghargaan istimewa dari Penguasa VOC berupa plakat perkamen yang ditulis dengan huruf-huruf ke-emasan, dan yang diletakkan dalam kotak emas, dengan diberi ‘segel’ (zegel). Van der Chijs mencatat bahwa, penghargaan semacam ini sebelum dan sesudahnya tidak pernah diberikan kepada seorang serdadu pribumi yang berasal dari bangsa-bangsa di wilayah Kepulauan India. Penguasa VOC juga memberikan kenaikan gaji kepada Kapitan Joncker, dari 20 ringgit setiap bulan menjadi 40 ringgit setiap bulan (Nanulaitta, 1966: 98).

Penghargaan tersebut di atas diberikan oleh Penguasa VOC kepada Kapitan Joncker atas jasa-jasa dan kesetiaannya dalam peperangan di India, Srilanka/Ceylon, Sumatera-Barat (Minangkabau), dan di Sulawesi-Selatan (Makasar). Dalam perang di Minangkabau, Kapitan Joncker turut serta dalam perundingan-perundingan staff Penguasa VOC sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Besluit Hoge Regering tanggal 6 Agustus 1666, dan ‘Kapitan Joncker juga diangkat oleh Penguasa VOC menjadi Panglima Pariaman’ (Dagregister tanggal 2 November 1666: dalam surat dari Indrapura dan Padang, Kapitan Joncker disebut, Raja Ambon) (Nanulaitta, 1966: 95-96; Vlekke, 2010: 191-192). Rusli Amran dalam Hendi Johari sebagaimana termuat dalam tulisan dibawah judul, Kapiten VOC bernama Joncker, yang diterbitkan di Jakarta pada tanggal 27 Juli 2019 oleh Majalah Historia, menyebutkan bahwa, dalam suatu pertempuran di Minangkabau, Kapitan Joncker tertusuk tombak sebanyak tiga kali, tetapi Kapitan Joncker masih tegak berdiri, bahkan: “ … mengamuk bak banteng terluka”.

Sedangkan dalam perang di Makasar, Sultan Hasanuddin (1631-1670), dari Kesultanan Gowa yang dijuluki oleh Penguasa VOC sebagai, ‘Ayam Jantan dari timur’ (de Haantjes van het osten), berhasil ditaklukkan pada tanggal 24 Juni 1669, setelah sebelumnya diadakan suatu perjanjian perdamaian di Bonggaja pada tanggal 18 November 1667 (Nanulaitta, 1966: 96-97; Ricklefs, 2008: 133; Vlekke, 2010: 189). Ironisnya adalah, Kesultanan Gowa merupakan salah satu kesultanan yang telah mengirim pasukannya bersama dengan pasukan Kesultanan Tallo, yang berjumlah kurang lebih 9.413 orang prajurit banyaknya ke pulau Manipa pada bulan Oktober tahun 1653, untuk membantu ‘ayah Kapitan Joncker’ (Sangadji Kawasa) ketika sedang berperang melawan Penguasa VOC. Tragisnya adalah, Kapitan Joncker sendiri merupakan salah seorang utusan Sangadji Kawasa dalam ‘misi’ (Juli 1652 – Juni 1653) untuk meminta bantuan tersebut secara langsung kepada Sultan Kesultanan Gowa dan Sultan Kesultanan Tallo.

Pada tanggal 23 April 1681, Kapitan Joncker kembali mendapat penghargaan dari Penguasa VOC berupa ‘medali emas yang berantai’ (harganya: 500 ringgit) sebagai penghargaan atas jasanya menangkap Raden Trunojoyo alias Panembahan Maduretno Panatagama (1649-1680) yang melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Susuhunan Amangkurat I (1619-1677), dan terhadap pemerintahan Susuhunan Amangkurat II (1677-1703) dari Kerajaan Mataram. Kapitan Joncker menangkap Trunojoyo pada tanggal 26 Desember 1679, di daerah Limbangan, Lereng Gunung Kelud, Jawa Timur, hanya dengan kekuatan 120 orang serdadu Ambon. M. C. Ricklefs (2008: 184) menulis, bahwa: “ … Dia (Kapitan Joncker-Penulis) bukan hanya bertempur melawan Trunojoyo, melainkan menawannya sendiri pada akhir tahun 1679”. Sejalan dengan Ricklefs, B. H. M. Vlekke (2010: 201) juga menulis, bahwa: “Jonker adalah orang yang akhirnya memaksa ‘si pemberontak’ (Trunojoyo-Penulis) menyerah”. Pada saat itu, Kapitan Joncker memegang jabatan ‘Komandan Pasukan Pengawal Susuhunan Amangkurat II’.

Dimana sebelumnya, Trunojoyo berhasil mengalahkan pasukan Penguasa VOC dibawah komando Anthonio Hurdt yang berjumlah sebanyak kurang lebih 5.000 orang serdadu dalam suatu pertempuran di daerah Kapar, Jawa Timur, yang berlangsung dari bulan Juli 1679 hingga bulan Oktober 1679. Pada tanggal 15 Oktober 1679, Jacob Couper (Perwira VOC keturunan Scotlandia) menulis surat kepada Penguasa VOC, bahwa: “ … dari kira-kira 5.000 orang serdadu, sekarang tinggal hanya 1.601 orang saja … “ (Nanulaitta, 1966: 99).

‘Medali emas yang berantai’ tersebut di atas, diberikan oleh Penguasa VOC kepada Kapitan Joncker setelah Kapitan Joncker mengajukan permohonan kepada Penguasa VOC pada tanggal 13 September 1680, dan pada bulan Januari tahun 1681, untuk mendapatkan uang sebanyak 3.000 ringgit sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Penguasa VOC kepada Kapitan Joncker pada tahun 1677, jika Kapitan Joncker dapat menangkap Trunojoyo, ‘hidup’ atau ‘mati’ (Nanulaitta, 1966: 100).

Janji tersebut di atas, tidak pernah ditepati/dipenuhi oleh Penguasa VOC maupun oleh ‘Susuhunan Amangkurat II’ (dalam Resolutie yang berkenaan dengan penyerahan medali tersebut, ditekankan oleh Penguasa VOC bahwa sesungguhnya Susuhunan Amangkurat II yang harus memberikan hadiah uang 3.000 ringgit kepada Kapitan Joncker seperti yang telah dijanjikan). I. O. Nanulaitta (1966: 100) menulis, bahwa: “Kapitan Joncker menerima medali itu pada tanggal 23 April 1681, akan tetapi satu-sen-pun tak diperolehnya”.

Ironisnya adalah, Trunojoyo yang telah ditangkap ‘hidup-hidup’ oleh Kapitan Joncker, justeru dibunuh dengan sangat mudahnya oleh ‘Raden Mas Rahmat/Sunan Amral’ (Susuhunan Amangkurat II) melalui tikaman Keris Pusaka Kyai Balabar di Balairung Payak, Bantul, Yogyakarta, pada tanggal 2 Januari 1680. Terhadap perihal ini, Capt. R. P. Suyono dalam halaman 72 dari buku dibawah judul, Peperangan Kerajaan di Nusantara, Penelusuran Kepustakaan Sejarah, yang diterbitkan di Jakarta pada tahun 2003 oleh ‘Gramedia Widiasarana Indonesia’ (Grasindo) menulis, bahwa: “Orang yang tidak berani dihadapinya dalam pertempuran terbuka itu, ditusuknya dengan cara tidak jantan. Trunojoyo kemudian meninggal di kakinya”. Tragisnya adalah, Tubuh Trunojoyo kemudian ‘dimutilasi’ atas perintah Susuhunan Amangkurat II.

Peristiwa tersebut di atas, adalah sebagaimana yang dicatat oleh Sir Th. S. B. Raffles (2008:524), bahwa: “Setelah peristiwa tersebut, Sang Susuhunan kembali duduk di atas singgasananya, dan dia kemudian menyuruh orang-orangnya, yang telah berkumpul untuk menyelesaikan pekerjaan yang telah ia buat. Dengan segera orang-orang tersebut, semuanya mengerumuni Trunojoyo yang bernasib malang, dan kemudian menusuknya berulang-ulang di berbagai tempat dan juga memotong-motong tubuhnya menjadi bagian-bagian kecil. Mereka lalu memisahkan kepalanya dari badannya, menceburkannya ke dalam lumpur, kemudian menginjak-injaknya, dan pada akhirnya melemparkan kepalanya itu ke dalam selokan atas perintah yang diucapkan Sang Susuhunan”.

Setelah pertempuran yang berlangsung kurang lebih 2 hari lamanya yaitu, dari tanggal 28 Desember 1682 sampai/dengan tanggal 29 Desember 1682, Kapitan Joncker berhasil merebut benteng Tirtayasa, dan sekaligus juga sukses menghancurkan Angkatan Perang Kerajaan Banten dibawah komando ‘Abdulfatah’ (Sultan Ageng Tirtayasa), yang terkenal amat sangat kuat pada zaman itu, sebab dibangun dengan model Eropa oleh ahli-ahli dari Inggris, Belanda, dan Turki (Nanulaitta, 1966: 102).

Sejak tahun 1680, Benteng Tirtayasa telah diserang berulang kali oleh Penguasa VOC dibawah komando Mayor Isaac de l’Ostale de Saint-Martin (Perwira VOC keturunan Perancis) dan kemudian dibawah komando Kapten Francois Tack secara silih berganti, tetapi yang selalu gagal sama sekali dalam merebut benteng tersebut (Nanulaitta, 1966: 103). Pertempuran tersebut di atas, adalah medan perang terakhir bagi Kapitan Joncker dalam Kemiliteran VOC, tetapi merupakan ‘medan perang’ baru bagi Kapitan Joncker yang akan berhadapan dengan Isaac de l’Ostale de Saint-Martin.

Perang terbuka antara Kapitan Joncker dengan St. Martin – yang pada saat itu telah menjadi anggota ‘Dewan Hindia’ (Raad van Indie), dan ‘Panglima Tertinggi’ (Superintendent) Angkatan Perang VOC (28 Agustus 1685) – dimulai ketika St. Martin menemukan ‘surat rahasia’ yang dikirim oleh Kapitan Joncker kepada Cornelis Janzoon Speelman (1628-1684) yang pada waktu itu telah menjadi Gubernur Jenderal VOC (1681-1684). Dimana dalam ‘surat rahasia’ tersebut, Kapitan Joncker menulis laporan tentang ketidaksanggupan St. Martin dalam memimpin pasukan VOC untuk merebut benteng Tirtayasa, dan sekaligus juga ketidakmampuan St. Martin dalam memimpin pasukan VOC untuk menghancurkan Angkatan Perang Kerajaan Banten pimpinan Sultan Ageng Tirtayasa. Berdasarkan ‘surat rahasia’ dari Kapitan Joncker tersebut, Speelman lalu memberhentikan St. Martin dari jabatannya sebagai Komandan Tentara VOC di Banten pada bulan Desember 1682. Speelman kemudian mengangkat Kapten Francois Tack sebagai Komandan Tentara VOC yang baru di Banten untuk menggantikan posisi St. Martin. Menurut Nanulaitta (1966: 105): “Peristiwa inilah yang mendorong St. Martin untuk ‘melenyapkan’ Kapitan Joncker”.

St. Martin – dengan menggunakan pengaruhnya sebagai anggota Dewan Hindia, dan Panglima Tertinggi Angkatan Perang VOC – kemudian menyusun ‘strategi’ dan ‘taktik’ untuk ‘melenyapkan’ Kapitan Joncker. Melalui serangkaian ‘operasi rahasia’ yang berlangsung dari tanggal 21 Oktober 1688 hingga tanggal 22 Agustus 1689, dengan melibatkan ‘Kyai Demang Singa Wiludra alias Buleleng dari Bali’ (bekas tawanan Kapitan Joncker yang kemudian diberi pangkat Kapten oleh Penguasa VOC karena jasa-jasanya kepada St. Martin), van Hoorn, Letnan Pattinggi, de Bevere (salah seorang anggota Dewan Hindia), Sersan Mathijs Jansen (mata-mata (intel/spion) St. Martin yang kemudian dinaikkan pangkatnya menjadi Letnan pada tanggal 2 September 1689), Wanderpoel, dan Jaan Alberh Sloot, maka pada tanggal 23 Agustus 1689, dilakukan Rapat/Sidang Penguasa VOC tanpa kehadiran ‘Johannes Champuys’ (1634-1695) (Gubernur Jenderal VOC pada saat itu (1684-1691)). Sidang kemudian ditutup dengan keputusan: “Kapitan Joncker harus diserang” (Nanulaitta, 1966: 107).

Pada malam hari itu juga, tanggal 23 Agustus 1689, sebanyak kurang lebih 1.535 orang serdadu melakukan penyerangan terhadap Kapitan Joncker. 1.535 orang serdadu tersebut, terdiri dari: (1) 221 orang pasukan Belanda dibawah komando J. A. Sloot dari benteng Jacatra; 50 orang pasukan Matros; 600 orang pasukan Melayu, Bugis, dan Mardijkers; (2) Pasukan dibawah komando Wanderpoel, yang terdiri dari: 314 orang serdadu Belanda; 350 orang pasukan Bugis, Makasar, dan ‘Bali’ (turut serta: ‘Kyai Demang Singa Wiludra alias Buleleng’) (Nanulaitta, 1966: 108).

Bersambung ke Bagian 2

Penulis adalah Dosen Pancasila dan Kewarganegaraan pada Politeknik Negeri Ambon.

Pos terkait