AMBON, MalukuPost.com – Di tengah tekanan ekonomi yang semakin dirasakan masyarakat akibat melemahnya nilai tukar rupiah dan naiknya harga energi dunia, kekuatan spiritual dinilai menjadi fondasi penting yang harus dijaga agar masyarakat mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Divisi Pendanaan Yaperti, Marla Beatriecs Kailola, menilai bahwa krisis ekonomi yang terjadi saat ini tidak hanya berdampak pada kondisi finansial masyarakat, tetapi juga berpotensi memengaruhi kesehatan mental, ketenangan batin, dan pengharapan banyak orang.
Menurutnya, kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, serta berbagai kebutuhan dasar lainnya telah menciptakan tekanan yang semakin besar terhadap kehidupan keluarga, khususnya kelompok masyarakat yang rentan secara ekonomi.
“Ketika rupiah melemah dan harga-harga terus meningkat, yang terpengaruh bukan hanya kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup. Yang juga diuji adalah daya tahan jiwa manusia dalam menghadapi ketidakpastian,” kata Kailola, Minggu (31/5/2026).
Ia menjelaskan, berbagai krisis yang terjadi selama perjalanan sejarah menunjukkan bahwa manusia selalu memiliki kemampuan untuk bangkit dari situasi sulit. Menurutnya, ketangguhan tersebut tidak semata-mata lahir dari kekuatan ekonomi, melainkan juga dari kemampuan menjaga pengharapan dan iman di tengah tekanan hidup.
Kailola mengingatkan bahwa kondisi ekonomi yang tidak menentu sering kali memunculkan rasa cemas, takut, bahkan putus asa. Karena itu, masyarakat perlu memiliki kekuatan batin yang mampu menopang mereka ketika berbagai situasi di luar kendali sedang terjadi.
Ia mengutip kesaksian Rasul Paulus yang mengatakan, “Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” Baginya, pesan tersebut menunjukkan bahwa kekuatan sejati manusia sering kali muncul justru ketika seseorang berada dalam keterbatasan dan kesulitan.
“Di tengah situasi yang tidak mudah, manusia membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan bertahan secara ekonomi. Manusia membutuhkan pengharapan. Pengharapan itulah yang membuat seseorang tetap memiliki alasan untuk melangkah meskipun keadaan belum sepenuhnya membaik,” ujarnya.
Kailola juga menegaskan bahwa spiritualitas tidak boleh dipahami sebagai bentuk pelarian dari realitas. Sebaliknya, spiritualitas yang sehat justru membantu seseorang menghadapi realitas kehidupan dengan lebih jernih dan penuh keberanian.
Ia menilai bahwa iman dan pengharapan merupakan modal sosial yang sangat penting, terutama ketika masyarakat menghadapi tekanan ekonomi yang berkepanjangan. Keduanya menjadi sumber kekuatan yang memungkinkan seseorang tetap menjaga optimisme, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk tidak membiarkan berbagai krisis yang terjadi meruntuhkan semangat hidup maupun nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini menjadi pegangan bersama.
“Dunia mungkin terus berubah dan berbagai tantangan akan terus datang. Tetapi satu hal yang tidak boleh ikut runtuh adalah jiwa manusia. Selama iman dan pengharapan tetap hidup, manusia akan selalu memiliki kekuatan untuk bangkit dan melanjutkan kehidupan,” tandasnya.


