Rahmat Mulianda, S.Pi., M.Mar: Industri Rumput Laut Layak Dikembangkan Di Maluku Tenggara

Langgur, MalukuPost.com – Asisten Deputi Pengembangan Perikanan Budidaya pada Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) Mohamad Rahmat Mulianda menjelaskan, rumput laut merupakan salah satu komoditas unggulan nasional dalam RPJMN 2020-2024.

Kepada awak media saat konfrensi pers di Langgur, Rabu (6/10/2021), Rahmat mengatakan, selain sebagai komoditas unggulan nasional, rumput laut juga merupakan komoditas prioritas yang harus dikembangkan.

“Di RPJMN disebutkan bahwa dalam pembangunan kewilayahan, Maluku sebagai centre rumput laut yang harus mendapat atensi dalam kaitan dengan integrasi dalam program Maluku Lumbung Ikan Nasional (MLIN),” ujarnya.

Melihat kondisi perairan Maluku yang luas namun ternyata pemanfaatannya masih sedikit maka pemerintah melakukan asessment terkait potensi dimaksud, dengan hasil penilaian bahwa potensi rumput laut ini layak dikembangkan di Maluku Tenggara dan perairan Maluku lainnya, dimana Maluku sendiri merupakan kontributor keenam produsen rumput laut nasional.

“Kami fokus ke Maluku Tenggara dengan kondisi perairan yang tepat, dan juga sudah ada tim percepatan pembangunan daerah untuk pengembangan daerah. Arahan Pak Menko disini (Malra) akan dikembangkan Rumput Laut Terintegrasi Hulu-Hilir (Seaweed Estate), artinya industri yang dimulai dari budidaya hingga pengolahannya,” tandasnya.

“Ini sangat penting, karena kalau kita hanya budidaya saja, kemudian dijemur di matahari dan lanjut dijual/diekspor itu nilainya paling besar 12 hingga 15 ribu per kilogram, sedikit sekali. Tapi kalau kita olah dalam bentuk industri Karagenan atau turunannya lewat pabrik pengolahan itu bisa sampai pada angka 30 ribu rupiah atau lebih per kilogramnya. Sehingga nilai tambah untuk para pembudidaya untuk peningakatan kesejahteraan hidupnya bisa tercapai. Untuk itulah, kenapa rumput laut terintegrasi ini penting untuk dikembangkan di Maluku Tenggara untuk mendukung pengembangan MLIN,” katanya menambahkan.

Diketahui, karagenan merupakan aditif yang digunakan untuk mengentalkan, mengemulsi, dan mengawetkan makanan serta minuman (bahan alami) yang berasal dari rumput laut merah.

Rahmat mengungkapkan, dengan rumput laut terintegrasi, diharapkan kedepan rumput laut dari Kepulauan Tanimbar dan lainnya akan diolah disini (Malra), dan tidak lagi dibawa ke Makassar (Sulawesi Selatan) atau Surabaya (Jawa Timur).

“Kita kembangkan industrinya di Malra saja untuk dipasarkan ke luar negeri, apalagi di Kota Tual ada pelabuhan ekspornya dan di Langgur Maluku Tenggara ada bandara,” terangnya.

Menurutnya, dengan adanya program tersebut dapat meningkatkan produktivitas budidaya rumput laut sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat di Malra dan Kota Tual sebagai kesatuan regional.

Pos terkait