
Pengukuhan secara adat tersebut dilakukan oleh Rat Ohoilim Tahit (Rat Faan) Patrisius Renwarin SH, yang dipusatkan di Woma El Fangvur ohoi Langgur, Kamis (27/2/2022).
HJS Dumatubun dalam sambutannya usai dikukuhkan mengatakan, emas tidak akan pernah marah kepada api, ketika api memurnikannya. Permata tidak akan marah ketika ditempa menjadi permata yang indah.
“Saya ingin agar kita semua sepuluh marga (Loan Ainvuut) memaknai proses ini adalah untuk mendewasakan saya sebagai pemimpin. Saya tidak ingin kita memaknai bahwa ada riin-riin serta perbedaan di dalam kita. Perbedaan itu wajar, karena sesungguhnya kita terlahir berbeda,” katanya.
“Tidak salah kalau para leluhur kita dalam refleksinya mengungkapkan pepatah yang sangat luar biasa yakni liim rang liim ne vut rang vut yang artinya ketika ada lima atau sepuluh orang disitu pastilah dengan hati dan pikiran yang berbeda. Pertanyaannya adalah apakah perbedaan itu menjadikan kita harus bermusuhan? Tidak. Perbedaan itu harus menjadi kekuatan,” tambah HJS Dumatubun.
Dalam kapasitas sebagai Orangkai, dirinya tidak akan bertanggungjawab apabila ada yang dengan sengaja ingin mengeluarkan salah satu dari Loan Ainvut.
“Loan ainvut yakni Rettob, Rumangun, Dumatubun, Savsavubun, Narwadanubun, Renyut Balubun, Renyut Sbadubun, Lefaan, Renyaan, Renwarin. Karena sesungguhnya kita semua (sepuluh marga) ada baru disebut Loan Ainvut,” ujar HJS Dumatubun.
Pada kesempatan itu, mantan anggota DPRD Malra tersebut mengajak seluruh warga masyarakatnya (tanpa terkecuali) untuk bersama-sama membangun ohoi Langgur.
“Saya ingin mengingatkan bahwa euforia (kegembiraan) kita semua atas penantian selama lima belas tahun harus ditunjukkan dengan membangun ohoi. Saat ini kalau diantara kita ada tafli fangnanan (perbedaan pandangan) sedikit itu wajar, tapi jangan kita jadikan itu berabad-abad. Saya harap setelah ini kita lupa proses yang kemarin. Mari kita menghadap woma El Fangvur kedepan,” tegasnya.
HJS Dumatubun mengungkapkan, Langgur Yang Mulia adalah prestasi terbesar yang ditinggalkan generasi lalu, bukan generasi kita (saat ini).
Menurutnya, Uskup Andreas Sol MSC dalam bukunya “Langgur Mutiara Dari Timur” menyebutkan bahwa Langgur Yang Mulia adalah kontribusi Sepuluh Marga dan para Guru yang bersekolah di Langgur.
“Dalam konteks Loan Ainvut itu kita hanya sepuluh, tapi Ohoingur (Langgur) saat ini bukan hanya sepuluh, karena kita menampung semua dari kita. Untuk itu, mari kita hidup bersama dan menunjukkan bahwa kita (terutama Loan Ainvut) pantas disebut sebagai Generasi Yang Mulia,” tukasnya.
Diungkapkannya, ohoi Langgur itu berbeda, karena satu-satunya kampung Katolik di Kepulauan Kei yang menyerahkan womanya (woma El Fangvur) untuk gereja Katolik.
Untuk diketahui, setelah gereja Katolik mempercayakan Alm. Bapak Laurensius Savsavubun sebagai kepala tukang untuk mengerjakan biara Susteran Puteri Bunda Hati Kudus (PBHK), maka masyarakat Langgur saat itu bersepakat keluar dari womanya dan kemudian tempat itu diserahkan kepada para suster PBHK.
“Olehnya itu mari kita tunjukan apa yang ditinggalkan leluhur agar kita pantas menjadi pewaris. Karena sesungguhnya, tuntunan tidak ditentukan oleh posisi, tetapi tuntunan ditentukan dari dadad (perbuatan). O mu fangnanan i fangnanan mas, tetapi o mu dadad i watan berati o watan (walaupun kasih sayangmu lebih, tetapi perbuatanmu buruk maka kamu buruk).
Dirinya meyakini, dengan dukungan dari seluruh warga ohoi Langgur, maka Langgur Yang Mulia akan terwujud.
“Refleksi saya menjadi Orangkai ini lama sekali, tetapi saya yakin bahwa dengan dukungan Loan Ainvut dan Balrayat (masyarakat), ohoi Langgur akan menjadi Langgur Yang Mulia,” pungkasnya.


