Tokoh Agama Serukan Perdamaian Ori – Kariuw

BIN: Harus Secepatnya Diredam, Jangan Sampai Ditarik Ke SARA

Ambon, MalukuPost.com – Seruan perdamaian antara dua negeri bertikai Ori dan Kariuw terus disuarakan seluruh pemangku kepentingan di Maluku, termasuk tokoh agama yang mempunyai peran strategis dalam mendiginkan suasana diantara kedua negeri bertetangga di Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah.

Ketua Sinode Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM), Pendeta Elifas Maspaitella mengatakan konflik kemanusiaan yang terjadi di tahun 1999 menjadi pelajaran dan pengalaman pahit yang tidak ingin terulang kembali. Untuk itu, dirinya mengimbau kepada masyarakat bertikai agar tetap menahan diri, dan tidak mudah terpancing dengan isu-isu yang dimainkan pihak tertentu untuk merusak hubungan orang basudara yang sudah berjalan dengan baik.

“Kepada Pemda Maluku maupun Kabupaten Maluku Tengah, saya meminta agar bersama-sama aparat keamanan TNI dan Polri membangun komunikasi baik dengan kedua masyarakat untuk proses perdamaian, apakah melalui pertemuan verbal atau dengan cara lainnya. Sehingga persoalan ini tidak berlarut-larut, yang nantinya akan merembet ke wilayah lain. kita sudah dewasa untuk menyelesaikan persoalan ini, maka baiklah kita teerus berusaha melakukannya. Saya ingin menjadi berperan aktif dalam proses perdamaian,”ungkapnya di Ambon, Rabu *(26/01/2022).

Menyangkut kondisi masyarakat di lokasi bentrokan, Maispaitela mengaku situasi dan kondisi sudah dapat dikendalikan aparat keamanan, mengingat tidak ada reaksi balik dari masyarakat Kariuw. Sehingga yang menjadi fokus saat ini pemulihan situasi dan penanganan pengungsi.

“Pengunsgi sementara dimobilisasi ke Aboru sebagai negeri gandong dari Kariuw, kita juga sudah mengirim bantuan berupa kebutuhan tanggap darurat berupa sembako terutama pangan lokal, juga kebutuhan bayi. Kemudian beras 2 ton, tenda 20 buah, disamping kebutuhan lain terutama kaum perempuan dan anak-anak, pakaian layak pakai,”tandasnya.

Sementara itu, Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maluku, Abdul Manaf Latuconsina mengimbau kepada kedua masyarakat bertikai untuk kembali bersatu merajut perdamaian.

“Semua masyarakat harus bersatu, mendamainkan konflik yang terjadi disana,”pintanya.

Latuconsina juga menginginkan agar pihak berwajib untuk menuntaskan akar permasalahan sehingga terjadi konflik, sehingga persoalan antara kedua negeri tidak berlarut-larut.

“Kita punya pengalaman konflik 1999 yang cukup melelahkan dan menyengsarakan masyarakat Maluku, itu menjadi pengalaan dan kita tidak mau hal itu terulang kembali,”pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Badan Intelijen Nasional (BIN) Maluku Brigjen TNI Jimmy Aritonang, mengatakan yang perlu dilakukan saat ini dalam penanganan konflik antar kedua negeri adalah perlu adanya koordinasi yang matang, dalam hal penanganan pananganan pasca konflik.

“Situasi sudah mulai redah tetapi belum dingin, oleh sebab itu dalam setiap langkah penanganan perlu koordinasi yang matang, maksudnya ada bantuan dari Pemprov, karena kurang koordinasi bantuan ini salah diartikan bahwa diutamakan kristen sebaliknya muslim. untuk itu perlu ada koordinasi ketat dengan aparat keamanan,”tuturnya.

Menurut Aritonang, jika hal itu tidak dilakukan dengan baik, maka konflik yang terjadi antara kedua negeri beda agama bisa ditarik ke isu SARA. Oleh sebab itu, dalam penanganan harus betul-betul dikoordinasikan dengan aparat keamanan sehingga bisa berjalan dengan baik.

“Dari sisi kebatinan yang dibutuhkan masyarakat saat ini adalah arahan dari tokoh agama. Jadi perlu adanya tokoh agama yang turun ke lapangan untuk turun bersama-sama ke lapangan untuk mendinginkan suasanategasnya.

Aritonang menambahkan, hal lainnya yang perlu dilakukan yaitu patroli media sosial seiring munculnya ajakan yang bisa kembali menimbulkan konflik.

“Di BIN kami melakukan patroli dan kami berusaha semaksimal mungkin dengan apa yang kami punya untuk menetralisir orang-orang yang mengirim berita hoax di medsos,”pungkasnya.

Pos terkait