
Hal tersebut disampaikannya pada pembukaan Persidangan ke-24 Jemaat GPM Anugerah Ohoijang resmi digelar di Langgur, Minggu (20/2/2022).
“Gereja yang hidup adalah gereja yang mampu menjalankan amanat panggilan dan pengutusan dari Tuhan. Biarlah gereja menjadi gereja,” ujarnya.
Menurutnya, gema pesan tersebut hendak menegaskan kepada kita bahwa sebagai gereja, GPM cukup sadar bahwa ia aadalah lembaga sakral, namun kesakralaannya tidak menjadikannya steril, ia tidak menjadi menara gading, tetapi gereja tetap terlibat dalam berbagai bidang hidup, social, keagamaan, kultural, politik, ekonomi, ekologis dan lain-lain dengan tetap membangun distensi kritis secara sadar.
Apapun tantangan yang dihadapi, dan hebatnya pergulatan kontekstual yang dialamai, gereja harus tetap menjadi gereja internal dimana kehadirannya mendatangkan perubahan, baik secara maupun eksternal dengan segala resikonya.
“Keterlibatannya dalam bidang-bidang kehidupan itu adalah keterlibatan sebagai gereja. Keterlibatannya memperlihatkan bahwa gereja tidak bisa memisahkan diri dari lingkungannya, bahkan kalaupun gereja mau, ia tidak dapat melakukannya, kecuali bila gereja berhenti menjadi gereja, karena Yesus tidak pernah mengasingkan diri dari lingkunganNya,” tandasnya.
Oleh karena itu, gereja yang adalah Tubuh Kristus harus selalu berada pada jalan Kristus, jalan inkarnasi terlibat penuh dengan kehidupan bumi untuk pembaharuan bagi kehidupan yang berkualitas.
Pdt. Anakotta menjelaskan, untuk agenda pelayanan tahun 2022 sesuai sub-tema Membangun Gereja yang memiliki Ketahanan dan Daya Juang Demi Kualitas Hidup Bersama di Tengah Pergumulan Pandemi Covid-19 dan Transformasi Digital, ada beberapa aksentuasi yang akan dikembangkan dalam upaya menjadi gereja yang selalu hadir dan menghidupkan.
Pertama; Geliat digital akan terus menjadi platform bermisi di tengah konteks pada pilihan online dan offline sesuai kebutuhan konteks yang terus menerus dikaji. Kehidupan virtual sudah menjadi bagian dari realitas hidup manusia saat ini, dimana kurang lebih selama 2 tahun pandemi Covid-19 berlangsung dan menciptkan habitus virtual yang baru sehingga jemaat-jemaat di daerah urban dan ru-ban (rulal-urban) akan terus menggunakan platform pelayanan digital sebagai bagian dari upaya kreatif untuk mengembangkan pelayanan gereja.
“Karena wujud pelayanan dapat berlangsung secara online maupun offline berdasarkan panduan dan kajian gereja,” terangnya.
Kedua; Kegiatan ekonomi atau pemberdayaan jemaat haruslah menjadi mesin Transpormasi dalam bentuk menjadi saluran berkat bagi orang-orang percaya. Pertumbuhan ekonomi umat dalam karangka membangun kesadaran umat yang tetap memiliki ketahan dan daya juang.
Untuk mengatasi seluruh ketahanan ekonomi umat ini, gereja membutuhkan kerjasama kemitraan dengan semua lembaga pemerintah secara kritis dan kreatif.
“Kami sangat berharap dari pemerintah daerah dan pemerintah desa/ohoi Ohoijang dan Langgur untuk segala program pemberdayaan dapat melibatkan dan bersinergi bersama kami sebagai warga jemaat GPM Anugerah,” katanya.
Ketiga; Pertumbuhan spritualitas umat merupakan unsur kapasitas utama dalam meningkatkan rasa keterpanggilan.
Jalan spritualitas membuat jemaat dan pelayan melakoni kerjanya dengan jujur, disiplin, rajin, bertanggungjawab, dan tidak menghalalkan berbagai cara atas nama kesejahteraan atau kecukupan secara finansial.
“Untuk menumbuhkan spritualitas jemaat yang baik, kami secara jujur harus katakan bahwa salah satunya kami membutuhkan gedung gereja yang representatif pada daerah pelayanan Ohoi Langgur. Sebagai hamba dan pelayan serta umat di Jemaat GPM Anugerah ini, kami meminta warga masyarakat Langgur dapat membuka pintu hati untuk kami membangun gedung gereja sebagai tempat pembinaan spiritualitas umat,” ungkapnya.
Sekedar untuk diketahui, pada pembukaan Persidangaan Jemaat tersebut dilakukan pula penyerahan Dokumen Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Gereja Langgur yang diserahkan langsung oleh Bupati Maluku Tenggara M. Thaher Hanubun kepada Ketua Majelis Jemaat GPM Anugerah Ohoijang, Pendeta George H. Anakotta


