IMAPPEL Tolak Kedatangan Bupati Bursel ke Ambalauw

IMG 20231012 WA0119

Ambon, MalukuPost.com – Penolakan dari organisasi kepemudaan terhadap kehadiran pejabat dalam acara festival memiliki latar belakang atau alasan tertentu. Ini bisa berkaitan dengan perbedaan pandangan atau ketidakpuasan atas kebijakan pemerintah yang dipimpin oleh pejabat dimaksud. Olehnya itu, penting untuk menjaga dialog terbuka dan berupaya mencapai pemahaman yang saling menghormati antara pihak-pihak yang terlibat.

Seperti yang dilakukan Ikatan Mahasiswa Pemuda Pelajar Lumoy (IMAPPEL). Organisasi pimpinan Fahmi Fatsey itu, menolak kedatangan Bupati Kabupaten Buru Selatan, Safitri Malik, yang direncanakan menghadiri Festival Kaka Nusalaut Mangente Ade Ambalauw, di Negeri Ulima, Kecamatan Ambalauw, Kabupaten Buru Selatan.

Festival yang diselenggarakan Kaka (Gandong) Nusalaut itu akan berlangsung tanggal 13 hingga 18 Oktober 2023.

Fatsey mengatakan, keputusan IMAPPEL menolak kehadiran Bupati dalam acara festival adalah tindakan yang menggambarkan ketidaksetujuan mereka terhadap pemerintahan atau kebijakan yang diwakili Bupati. Tindakan ini adalah bentuk protes yang dapat digunakan sebagai cara untuk menyampaikan perasaan ketidakpuasan mereka terhadap kinerja atau tindakan pemerintah setempat. Upaya dialog dan komunikasi dapat membantu dalam memahami perbedaan pandangan dan mencari solusi yang lebih baik untuk kepentingan masyarakat.

“Saya selaku Ketum IMAPPEL menolak kehadiaran ibu Bupati dalam kegiatan yang sakral ini,” katanya.

Ia menilai, kehadiran anggota DPRD Provinsi Maluku periode 2014-2019 dalam acara festival, tidak memberikan manfaat yang signifikan untuk masyarakat. Penilaian tersebut merupakan bentuk kritikan yang di utarakan menyangkut ketidakpuasan mereka terhadap pemerintahan atau kebijakan yang diambil Bupati. Hal ini mencerminkan pentingnya partisipasi publik dan keterbukaan dalam sistem pemerintahan. Pihaknya menginginkan Bupati untuk lebih fokus pada kepentingan masyarakat.

“Kehadiaran Bupati bagi saya tidak memberikan asas manfaat untuk masyarakat Ambalauw, karena selama ini pemuda dan mahasiswa Kecamatan Ambalau telah menyampaikan aspirasi di ruang publik mengenai pembangunan jalan lingkar Pulau Ambalauw, namun tak ada respon dari Bupati,” kata Fatsey menilai.

Mereka, lanjut Fatsey, bersama Organsasi Nusalaut Ambalauw (Nusamba) Kabupaten Bursel, pimpinan Frederik Edwin Tahapary, juga telah menyampaian aspirasi yang sama saat tatap muka dengan Komisi III DPRD provinsi Maluku beberapa waktu lalu. Menurutnya, hal ini merupakan langkah positif. Sebab, partisipasi dalam proses demokrasi adalah cara penting untuk memengaruhi kebijakan publik.

“Untuk meminta pemeritah daerah Buru Selatan bisa melihat jalan lingkar Ambalauw,” pungkas Fatsey.

Diakhir penjelasannya, Fatsey menerangkan bila pembangunan jalan lingkar memiliki potensi besar untuk membawa perubahan positif dalam sektor ekonomi masyarakat. Jalan lingkar, juga dapat membuka aksesibilitas ke daerah-daerah yang sebelumnya sulit dijangkau, memungkinkan lebih banyak aktivitas perdagangan, investasi dan pertumbuhan bisnis. Hal ini dapat menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan mobilitas serta mendukung perkembangan sektor pariwisata dan lainnya. Dengan demikian, pembangunan jalan lingkar dapat menjadi faktor penting dalam meningkatkan ekonomi lokal dan kesejahteraan masyarakat.

“Jalan lingkar sudah diusulkan sejak pemerintahan Bupati Tagop Sudarsono, namun sebagai penerus kepemimpinan, Ibu Safitri belum mampu membangun jalan lingkar dimaksud. Menurut saya, jalan ini akan membawa banyak perubahan. Salah satunya memperlancar sektor ekonomi,” tutup Fatsey.

 

 

Pos terkait