Ambon, Malukupost.com – Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Ambon, Ny. Lisa Wattimena, kembali melanjutkan kunjungan kerja lapangannya ke berbagai Posyandu di Kota Ambon.
Kali ini, ia meninjau langsung kegiatan di Posyandu “Sumber Kasih”, Desa Hunuth/Durian Patah, Kamis, 15 Mei 2025, sebagai bagian dari program rutin pembinaan dan pemantauan layanan dasar kesehatan masyarakat, terutama pencegahan stunting.
Dalam kunjungan yang turut dihadiri jajaran TP-PKK dari Kecamatan Teluk Ambon, Baguala, serta unsur Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, Ny. Lisa Wattimena bertemu langsung dengan para ibu, balita dan kader Posyandu.
Dalam arahannya, Lisa Wattimena menekankan bahwa pola makan dan pola asuh anak yang tepat merupakan kunci utama dalam mencegah stunting sejak dini.
“Stunting bukan hanya isu lokal, tetapi merupakan program prioritas nasional. Kita di daerah, termasuk di tingkat kelurahan dan desa, harus menjadi garda terdepan dalam upaya pencegahannya,” ujar Ketua TP PKK.
Pencegahan stunting di Kota Ambon dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk Dinas Kesehatan, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta lembaga-lembaga masyarakat termasuk TP PKK sebagai mitra strategis pemerintah.
“PKK hadir sebagai perpanjangan tangan pemerintah, memberikan edukasi dan pendampingan langsung kepada masyarakat. Ini bagian dari tanggung jawab sosial kita,” tambah Lisa.
Kunjungan ini merupakan bagian dari agenda berkelanjutan TP PKK Kota Ambon untuk menjangkau seluruh Posyandu di lima kecamatan sebagai bentuk keseriusan dalam menurunkan prevalensi stunting secara signifikan.
Lisa Wattimena juga menyinggung pentingnya kerja dari hulu ke hilir dalam menyongsong Generasi Emas 2045, yakni generasi yang sehat, cerdas, dan produktif.
“Langkah konkret ini adalah investasi masa depan. Kita tidak bisa menunggu, harus bergerak sekarang untuk memastikan anak-anak Kota Ambon tumbuh sehat dan berkualitas.”
Selain fokus pada stunting, TP PKK Kota Ambon juga menyatakan komitmen serius terhadap isu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), terutama kekerasan terhadap perempuan dan anak.
“Banyak kasus KDRT yang pelakunya adalah orang terdekat. Ini menjadi perhatian kami dan bagian dari program pencegahan kekerasan dalam keluarga,” pungkasnya.


