Melangkah Tanpa Henti, Gubernur Sidak Dinkes Saat Tiba di Ambon

Ambon, MalukuPost.com – Baru saja pesawatnya menyentuh tanah Raja-Raja, angin Karang Panjang belum sempat menyapa, namun Gubernur Hendrik Lewerissa sudah melangkah. Langkah yang tak sempat ditahan, sebab perjuangan bagi Maluku tak mengenal kata jeda.

Dua pekan lamanya ia membawa suara pulau-pulau ke meja-meja kuasa di jantung negeri Jakarta. Bertemu para menteri, berdiplomasi demi satu hal “Par Maluku Pung Bae”.

Kini ia kembali, Selasa (15/07/2025). Tapi bukan untuk rehat. Hanya satu jam sekadar meneguk udara tanah kelahiran. Sebab baginya, memimpin adalah berlari bukan dari jabatan, tapi menuju tanggung jawab.

Tanpa sambutan, tanpa iring-iringan, Gubernur datang seperti pagi yang mengejutkan langit. Langsung menyambangi Dinas Kesehatan di Karang Panjang, membawa mata tajam dan hati yang ingin tahu, apa kabar rumah-rumah pelayanan hari ini?

Ditemani Asisten I, Djalaludin Salampesy, ia menelusuri ruang demi ruang, berbincang lirih namun bermakna dengan para abdi kesehatan. Ia tak menuntut banyak, hanya ingin melihat apakah wajah kantor itu mencerminkan semangatnya bersih, sehat, dan siap melayani.

Namun kaca jendela masih redup, halaman belakang belum bercerita tentang kerapian, dan toilet, tempat yang paling jujur, tak memberi kabar baik.

“Minta maaf pa Kadis. Ini belum bersih. Seng terlalu bersih.”katanya lembut tapi tegas. Sebuah kritik yang bukan luka, tapi cambuk cinta. Karena kantor kesehatan, katanya, harus jadi ikon kebersihan, tempat di mana masyarakat datang dan percaya bahwa pelayanan lahir dari ketulusan, dan kebersihan adalah tanda kesungguhan.

Gubernur bukan tipe pemimpin yang datang hanya untuk duduk. Ia berjalan lebih dulu, menyapa tembok dan lantai, melihat detil kecil yang bicara banyak. Lalu, baru ia berbicara.

Dalam dialog singkat bersama para pegawai, ia mendengar masalah faktual tanpa basa-basi. Ia mencatat bukan di buku, tapi di hati, dan berjanji menindaklanjuti dengan cepat, karena baginya, tak ada aspirasi yang layak ditunda.

Gubernur HL tak sedang mencari pujian. Ia hanya ingin memastikan, bahwa Maluku tak hanya bersuara nyaring di Jakarta, tapi juga berdenyut kuat di rumah-rumah pelayanan.

Dari Jakarta ke Ambon, dari Senayan ke Karang Panjang, jejaknya terus melangkah. Karena baginya, “Lawamena” bukan semboyan semata, melainkan napas dalam setiap langkah. Maju tanpa ragu, demi Maluku.

Pos terkait