Tual, MalukuPost.com – Hampir sebulan berlalu sejak tewasnya Komar Safik Renggur (15), pelajar SMP asal Kompleks Wara, Kecamatan Dullah Selatan, Kota Tual. Ia meninggal di dalam pelukan sang ayah usai peristiwa tragis di kawasan Pasar Tual, Minggu (24/8/2025) dini hari. Kasus pembunuhan pelajar ini masih jadi misteri.
Hingga kini, keluarga korban menilai penanganan kasus oleh kepolisian berjalan lamban dan tertutup.
Kepolisian Resor Tual telah mengamankan barang bukti, termasuk pakaian korban yang sebelumnya diserahkan langsung oleh pihak keluarga. Namun, akses keluarga untuk melihat barang bukti tersebut disebut-sebut selalu terhalang prosedur.
“Barang bukti tidak pernah dirilis. Bahkan ketika polisi mau tunjukkan di rumah, kami menolak, karena seharusnya dilakukan di kantor resmi dan terbuka,” ungkap Eki Siloin, paman korban, saat ditemui Selasa (23/9/2025).
Lebih jauh, keluarga korban menyoroti lambannya pemanggilan saksi-saksi kunci. Nama seorang saksi, sebut saja R, telah disebut sejak hari kejadian. Namun, ia baru dipanggil penyidik setelah keluarga mendesak keras dua minggu kemudian.
“Bahkan, ada beberapa nama saksi yang sudah disebut sejak awal tapi sampai sekarang belum pernah dipanggil,” kata Eki.
Keluarga juga mempertanyakan kejelasan hasil Visum et Repertum (VeR), salah satu alat bukti penting dalam proses peradilan.
“Menurut keterangan Waka Polres dan Kasat Reskrim, hasil VeR sudah ada. Kami minta penyidik mendalami hasil VeR dan menyampaikan secara terbuka. Ini bukan hanya untuk keluarga, tapi untuk publik juga,” tegasnya.
Bagi keluarga, sikap kepolisian yang tertutup menimbulkan kecurigaan. Mereka khawatir kasus ini diperlambat bahkan dipeti-es-kan. Padahal sejak awal, keluarga sudah memberikan dukungan penuh kepada penyidik, mulai dari menghadirkan saksi hingga menyerahkan bukti-bukti tambahan.
“Selama ini kami percaya polisi, tapi kalau terus seperti ini, kasusnya tidak akan terungkap dengan jelas,” ujar Eki.
Keluarga kini meminta kasus ini mendapat atensi lebih luas. Mereka mendesak Polres Tual menjalankan seluruh tahapan hukum, termasuk rekonstruksi, agar penanganan perkara berjalan sesuai prosedur.
Selain itu, keluarga juga berharap adanya pengawasan dari Pemerintah Kota Tual maupun DPRD.
“Minimal DPRD bentuk pansus untuk kawal kasus ini. Kami tidak ingin peristiwa tragis ini terjadi lagi pada anak-anak atau keluarga lain,” pungkas Eki.
Sekedar info, keluarga besar korban akan melaksanakan aksi demonstrasi pada hari Rabu (24/9) di seputaran Pasar Tual, lokasi dimana Tempat Kejadian Perkara (TKP).


