MalukuPost.com, Tual – Wali Kota Tual Akhmad Yani Renuat mengingatkan masyarakat agar tidak melupakan sejarah.
Menurutnya, bangsa yang kehilangan ingatan terhadap sejarah akan kehilangan arah pembangunan hingga jati dirinya.
Pesan itu disampaikan Akhmad Yani saat membuka kegiatan bedah buku Bon Setitit-Dari Kei untuk Konferensi Meja Bundar di Aula Kantor Wali Kota Tual, Sabtu (18/7/2026).
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Wali Kota Amir Rumra, pimpinan OPD, akademisi, tokoh masyarakat, mahasiswa, hingga pegiat literasi.
“Sebuah bangsa yang tidak mengenal sejarahnya maka bangsa itu akan kehilangan arah dan sekaligus kehilangan jati dirinya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal sejarahnya,” kata Akhmad Yani.
Menurutnya, sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi menjadi fondasi dalam memperkuat identitas bangsa sekaligus menentukan arah pembangunan di masa depan.
Ia mengingatkan, ketika masyarakat kehilangan pemahaman terhadap sejarah, maka yang terjadi bukan hanya hilangnya identitas, tetapi juga berpotensi memicu degradasi moral hingga melemahnya relasi sosial di tengah kehidupan bermasyarakat.
Karena itu, Akhmad Yani mengajak masyarakat menjadikan sejarah sebagai pijakan dalam merumuskan pembangunan. Ia menilai setiap kebijakan harus memiliki keterkaitan dengan berbagai sektor dan didukung data yang akurat.
“Kalau kita hanya bicara komunikasi publik tetapi tidak memiliki data, maka itu tidak menjadi landasan untuk membangun interkonektivitas, baik di lingkungan internal maupun eksternal,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Akhmad Yani juga mengapresiasi pelaksanaan bedah buku yang mengangkat kiprah Bon Setitit dalam Konferensi Meja Bundar.
Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar forum membahas buku, tetapi menjadi ruang intelektual untuk membangun budaya membaca, memantik diskusi kritis, sekaligus melahirkan kreativitas di tengah masyarakat.
Ia mengatakan karya yang ditulis Capt. Stephanus G. Setitit itu menghadirkan perspektif sejarah sekaligus nilai-nilai kehidupan yang masih relevan hingga saat ini.
“Literasi yang kuat adalah pondasi utama dalam membangun sumber daya manusia yang unggul, berdaya saing, dan memiliki pola pikir terbuka,” katanya.
Pemerintah Kota Tual, lanjut Akhmad Yani, berkomitmen memperkuat ekosistem literasi agar masyarakat tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menghasilkan karya yang memberi manfaat bagi banyak orang.
“Kami berharap acara bedah buku ini mampu menginspirasi generasi muda dan seluruh elemen masyarakat untuk menjadi pencipta karya yang memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya,” ucapnya.
Akhmad Yani juga menyampaikan apresiasi kepada Capt. Stephanus G. Setitit atas terbitnya buku tersebut.
Ia berharap karya-karya serupa terus lahir sebagai upaya mendokumentasikan sejarah dan memperkaya literatur tentang Kepulauan Kei.
Bedah buku tersebut menghadirkan Capt. Stephanus G. Setitit, perwakilan Perpustakaan Nasional RI, dan Arsip Nasional RI sebagai narasumber.
Sementara pembedah utama yakni Guru Besar Universitas Gadjah Mada Prof. P.M. Laksono dan Guru Besar Universitas Pattimura Prof. Alex S.W. Retraubun. Hadir pula sejumlah penanggap lokal yang mengikuti diskusi secara luring maupun daring.


