Dua Siswa SMKN 11 SBB Raih Perunggu di Festival Inovasi Nasional 2026

Febby Nisitrince Panggulili (kiri) dan Jevincha Meiland De Queljoe (kanan) dari SMKN 11 Seram Bagian Barat, Maluku, menampilkan Sasagu, briket penyerap bau dan kelembapan berbahan limbah sagu, dalam pameran FIKSI Nasional 2026 di Bali, 15 Oktober 2026

Ambon, MalukuPost.com – Siswa SMKN 11 Seram Bagian Barat (SBB), Maluku, meraih medali perunggu dalam Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI) Nasional 2026 melalui inovasi produk bernama Sasagu, yang memanfaatkan limbah sagu menjadi penyerap bau dan kelembapan.

Prestasi tersebut diraih Febby Nisitrince Panggulili dan Jevincha Meiland De Queljoe pada ajang tingkat nasional yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) di Bali, 12–17 Oktober 2026.

Melalui Sasagu, keduanya mengolah limbah sagu menjadi briket yang dirancang untuk menyerap bau dan kelembapan pada sepatu, tas, serta helm. Inovasi tersebut mengangkat potensi sumber daya lokal menjadi produk yang memiliki nilai guna.

Keberhasilan siswa SMKN 11 SBB menjadi bagian dari pencapaian lima tim sekolah binaan Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslim (YPA MDR) yang melaju ke babak final FIKSI Nasional 2026. Dari lima tim tersebut, empat tim berhasil membawa pulang medali, yakni satu emas, dua perak, dan satu perunggu.

Medali emas diraih Carli Mayos Talan dan Gabriella Gwuen Radjah dari SMKN 1 Pandawai, Nusa Tenggara Timur, melalui inovasi Net Green pada kategori Rencana Usaha bidang Agribisnis, Agroteknologi, dan Kemaritiman. Produk tersebut berupa jaring ikan dengan pewarna alami dari daun jati yang dirancang untuk berkamuflase di dalam air.

Dua medali perak masing-masing diraih Reno Hartanto Sudiwo dan Afinsa Oktafiani dari SMKN 1 Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, melalui Biomolic, serta Claudensius Bangun Syahputra dan Ferdi Ahmad Farobbi dari SMKN 1 Pandak, Daerah Istimewa Yogyakarta, melalui Bionusa Grow.

Biomolic merupakan cairan berbahan limbah rumah tangga yang dikembangkan untuk digunakan sebagai pupuk, pestisida alami, dan aktivator kompos. Sementara itu, Bionusa Grow memanfaatkan limbah ikan, udang, dan eceng gondok sebagai bahan pupuk tiga fungsi untuk mendukung pertumbuhan tanaman dan memperbaiki kualitas tanah.

Satu tim finalis lainnya, Liana Christine Tamelan dan Nova Aranci Mbate dari SMAN 1 Rote Barat, Nusa Tenggara Timur, memperkenalkan Spiduks. Produk ini merupakan spidol berbahan daun kusambi yang dikembangkan sebagai alternatif pemanfaatan bahan lokal untuk menghadapi kendala distribusi logistik di Rote Ndao.

Ketua Pengurus Yayasan Astra–YPA MDR, Gunawan Salim, menyampaikan apresiasi atas semangat para siswa dalam mengembangkan gagasan inovatif hingga mampu bersaing di tingkat nasional.

“Kami bangga melihat semangat dan keberanian para siswa dalam mengembangkan ide-ide kreatif hingga mampu meraih prestasi di tingkat nasional. Di balik pencapaian ini, ada proses belajar, kerja keras, serta dukungan para guru dan pembimbing yang terus mendampingi mereka,” ujarnya.

Ia berharap pengalaman tersebut menjadi bekal bagi para siswa untuk terus berinovasi, percaya pada kemampuan diri, dan menciptakan peluang usaha yang bermanfaat bagi masyarakat.

FIKSI merupakan kompetisi nasional bagi siswa SMA dan SMK untuk mengembangkan kreativitas, inovasi, serta jiwa kewirausahaan melalui kategori Rencana Usaha dan Pengembangan Usaha.

Melalui ajang ini, siswa didorong mengembangkan potensi lokal menjadi produk bernilai tambah sekaligus mengasah kemampuan menyusun strategi bisnis, bekerja sama, dan mempresentasikan gagasan yang menjawab kebutuhan masyarakat.

Yayasan Astra–YPA MDR merupakan yayasan yang didirikan PT Astra International Tbk untuk mendukung tanggung jawab sosial perusahaan di bidang pendidikan, khususnya di daerah tertinggal dan strategis.

Saat ini, yayasan tersebut membina 200 sekolah negeri di sembilan provinsi dan 19 kabupaten, mencakup jenjang SD, SMP, hingga SMA/SMK. Pembinaan dilakukan melalui empat pilar, yakni karakter, akademik, kecakapan hidup, serta seni dan budaya.

Pos terkait