Pemprov Maluku Minta Pengusaha Pasok Kebutuhan Ikan

  • Whatsapp
Ros Far Far
Ros Far Far
Ambon, malukupost.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku meminta para pengusaha perikanan memasok 10 persen hasil tangkapannya ke pasar tradisional guna menekan tingginya harga ikan saat ini.

“Para pengusaha perikanan agar menyisakan 10 persen hasil tangkapannya, guna disalurkan ke pasar tradisional,” kata Ketua Tim Ekonomi Pemprov Maluku, Ros Far Far di Ambon, Senin (16/3).

Ros Far Far yang juga Sekda Maluku pada Senin menggelar rapat koordinasi untuk membahas berbagai masalah ekonomi di Maluku, dan secara khusus mencari solusi untuk mengatasi kenaikan harga ikan dan beras di pasar lokal sejumlah daerah di Maluku.

Pembahasan tersebut juga menindaklanjuti informasi yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa kenaikan harga ikan dalam dua bulan terakhir turut memicu naiknya inflasi di Kota Ambon dan Kota Tual, Provinsi Maluku.

Ros Far Far mengakui tingginya harga ikan juga karena cuaca buruk dan kurang bersahabat sehingga nelayan tidak bisa melaut dan hasil tangkapan yang biasanya dijual ke pasar tradisional menjadi berkurang.

“Karena itu kami akan bekerja sama dengan para pengusaha perikanan sekaligus mengimbau mereka untuk menyimpan 10 persen hasil tangkapan yang biasanya untuk memenuhi kebutuhan ekspor, dan dapat disuplai ke pasar saat ikan berkurang dan harganya naik,” katanya.

Langkah itu, katanya, berdampak terjaminnya pasokan ikan di pasar lokal dan mencukupi kebutuhan dan konsumsi masyarakat sehingga harganya stabil.

Dia mengatakan tingkat konsumsi ikan masyarakat di Maluku yang terus meningkat setiap tahun, perlu didukung dengan pasokan yang terjamin di pasar tradisional, sehingga harganya tetap stabil.

Tim Ekonomi pemprov Maluku, kata Ros Far Far telah mengundang para pengusaha perikanan yang beroperasi di provinsi untuk membicarakan masalah tersebut, sekaligus meminta kesediaan mereka untuk menyimpan dan menyuplai 10 persen hasil tangkapan di pasaran tradisional.

Khusus menyangkut pasokan beras di pasaran, Tim tersebut telah menginstruksikan Bulog Divisi Regional (Divre) Maluku untuk melakukan operasi pasar, serta melakukan pengawasan di lapangan dan jika menemukan pedagang nakal melakukan penimbunan, segera ditindak berdasarkan aturan dan ketentuan yang berlaku.

Sedangkan langkah antisipasi kenaikan harga sayur, pihaknya mendorong dibentuknya asosiasi petani sebagai salah satu lembaga penjamin dan penampung jika panen sayur melimpah.

“Lembaga ini akan menampung dan membeli hasil panen petani yang melimpah dan sewaktu-waktu dilepas ke pasaran untuk mengantisipasi pasokan yang berkurang. Selain itu petani tidak lagi menjualnya kepada tengkulak,” katanya.

Sebelumnya BPS Maluku mencatat cuaca buruk yang terjadi selama Desember 2014 hingga Januari 2015 berdampak hasil tangkapan ikan berkurang dan memicu harganya di sejumlah pasar tradisional meningkat dan menyumbangkan inflasi 0,08 persen pada bulan Januari 2015.

BPS mencatat kenaikan harga ikan segar dipicu cuaca buruk yang mengakibatkan ombak besar dan nelayan takut melaut. Kenaikan harga ikan segar terjadi hampir merata di seluruh Indonesia.

Kenaikan harga ikan segar malah paling dirasakan di Indonesia Timur. Tercatat inflasi Kota Ambon sebesar 2,37 persen terutama disebabkan harga ikan segar rata-rata naik 33 persen.

Begitu juga di Kota Tual Maluku harga ikan naik 23 persen, di Manokwari, provinsi Papua Barat naik 17 persen dan di Balikpapan, Kalimantan Selatan naik 22 persen. (ant/MP)

Pos terkait